Self Art & Culture

Apa Kabar Resolusi Tahun Barumu?

Greatmind

@greatmind.id

Redaksi

Illustration By: Mutualist Creatives

Waktu berkelebat cepat, menemani kita yang berlari mengejar banyak hal sepanjang semester pertama 2018. Lalu, apa kabar resolusi kita selama setengah tahun ini?

 

Ayo jujur. Tipe seperti apa kamu bila kita bicara soal resolusi tahun baru? Tipe yang rajin membuat resolusi, mengurutkan target demi target yang harus terburu dalam jangka waktu tertentu, untuk kemudian berdisiplin mewujudkannya kah? Atau tipe yang bahkan tak ingat bahwa kebanyakan orang merasa perlu membuat resolusi tahun baru karena lebih suka mengikuti saja apa yang terjadi di depan mata.

Cukup banyak orang sebenarnya yang mulai jemu dengan pertanyaan klise “Apa resolusimu tahun baru nanti?” Hanya saja, membuat resolusi acapkali memang dirasa perlu untuk memberi jalur bagi perjalanan dan pencapaian yang ingin dicapai dalam selusin bulan berjalan sepanjang tahun yang baru. Lalu, perlu juga sesekali mengeceknya setelah tahun berjalan seperempat atau separuhnya.  

Tradisi membuat resolusi di awal tahun ini sebenarnya berumur cukup purba. Dunia mewarisinya dari tradisi orang-orang Babilonia, juga Romawi. Dalam beberapa catatan yang ditemukan di banyak kanal, disebutkan bahwa orang Babilonia kuno adalah kelompok masyarakat yang pertama kali membuat resolusi tahun baru.

Hanya bedanya, bila masyarakat modern saat ini umumnya mengikat janji dengan diri sendiri untuk membuat target dan melakukan upaya untuk mewujudkannya, mereka, masyarakat Babilonia kuno itu membuat janji dengan para dewa untuk mengembalikan hutang dan mengembalikan semua benda yang mereka pinjam.

Pelaksanaan resolusi Babilonia juga dilakukan pada tahun baru. Hanya saja, tahun baru mereka jatuh pada pertengahan Maret, bertepatan dengan musim tanam dan bukan pada 1 Januari seperti kita rayakan saat ini.   

Tradisi resolusi tahun baru yang lebih mirip dengan tradisi kita hari ini adalah tradisi resolusi Romawi yang mulai dilakukan pada sekitar 46 sebelum masehi. Oleh Raja Julius Caesar, Januari ditetapkan sebagai “Bulannya Janus”, seorang Dewa Romawi dengan dua wajah yang menghadap ke depan dan belakang. Mereka meyakini bahwa kedua wajah Janus itu menghadap ke masa depan dan masa lalu. Untuk menghormati Janus, orang Romawi melakukan persembahan dengan menyisipkan janji untuk menjadi lebih baik di tahun yang baru.

Sesungguhnya, tak ada aturan baku tentang bagaimana kita menyambut tahun baru. Tak ada keharusan untuk mencanangkan resolusi dan dengan lantang. Namun adakalanya resolusi perlu dibuat untuk menjadi motivasi bagi diri sendiri untuk menjadi lebih baik. Juga, resolusi dan target yang tercatat dengan jelas, akan memudahkan kita meneliti dan menakar keseimbangan antara usaha dan pencapaian.

Psikolog senior dari konsultan human recources dari dPi Consulting, Ayu S. Sadewo mengatakan, membuat resolusi awal tahun merupakan hal yang penting, tetapi tidak harus dilakukan. “Penting, karena resolusi membantu kita mengarahkan perilaku kita. Misalnya berat badan kita hanya 47 kilogram, dan kita membuat resolusi mau punya berat badan 55 kg agar ideal dengan tinggi tubuh. Maka perilaku kita harus menyesuaikan. Kita akan makan dengan baik dan banyak olah raga untuk memperberat masa otot,” kata Ayu. Namun menurutnya, setiap orang boleh membuat resolusi dan boleh juga tidak karena setiap orang memiliki definisi suksesnya masing-masing. “Karena sukses mungkin ditentukan oleh resolusi, mungkin juga tidak,” kata Ayu.

Selain dengan Ayu, Greatmind pun berbincang dengan beberapa orang tentang resolusi dan pencapaian hingga pertengahan tahun ini. Bagaimana kata mereka?  

 

Happy Salma

Membuat resolusi bagi saya terbilang penting. Tapi saya juga tidak mau terlalu ambisius dengan resolusi itu. Semuanya di pikirkan matang, di rencanakan baik-baik, tapi pelaksanaannya saya biarkan mengalir, fleksibel dan mengikuti banyak kemungkinan dari kondisi dan situasi yang ada di depan mata.

Untuk tahun ini ada beberapa rencana yang saya buat seperti melaksanakan pameran Namaku Pram yang sudah direncanakan sejak tahun lalu. Pameran ini sudah berlangsung di Dia.Lo.Gue Art Space pada Mei hingga awal Juni lalu. Senang sekali melihat animo yang sangat tinggi dari para pencinta seni yang penuh antusias datang mengapresiasi pameran yang kami adakan. Terkait dengan pameran itu, saya juga berencana menggelar lagi pertunjukan Bunga Penutup Abad dalam rangkaian pameran tersebut, tapi agaknya baru akan dilaksanakan pada trimester terakhir tahun 2018 ini. Saya juga hanya akan jadi orang di belakang layar, tidak tampil di panggung lagi seperti dalam pertunjukan yang sudah. Di samping itu, masih ada juga proyek Titimangsa, rumah produksi yang saya gagas, seperti kelas akting dan menulis, serta beberapa lainnya yang tinggal di laksanakan. Tapi saya pribadi juga ingin fokus pada urusan pribadi dan keluarga dulu. Tahun ini saya memutuskan rehat lagi untuk kehamilan.

 

Ernest Prakasa

Biasanya, menjelang tahun baru saya sudah menentukan tahun depan mau ngapain saja, akan ada proyek apa saja. Awal tahun, saya melakukan timeline mapping selama 12 bulan, proyek apa akan dikerjakan pada bulan apa. Dalam setahun, seringnya saya punya dua proyek, satu yang besar, dan satu yang sedang. Tahun ini, proyek besarnya adalam produksi film Milly & Mamet, lalu yang sedang ada produksi serial Cek Toko Sebelah untuk HOOQ. Saya juga terbiasa membuat perencanaan untuk satu atau dua tahun ke depan. Misalnya, proyek yang saya kerjakan tahun ini, merupakan hasil perencanaan di tahun lalu, dan begitu seterusnya. Terutama pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan pada trimester awal tahun baru, pasti adalah kerja-kerja yang rencananya sudah dibuat sejak setahun sebelumnya.

Cara saya mengukur keberhasilan pencapaian sebuah resolusi itu biasanya merujuk lagi pada tujuan awal yang ingin dicapai, lalu saya bandingkan dengan hasil yang ada. Berhasil tidaknya akan terlihat langsung dari situ. Misalnya saja ketika tahun lalu saya bikin film Susah Sinyal. Kami menargetkan penonton filmnya mencapai dua juta. Ketika jumlah penonton menembus angka tersebut, artinya target itu berhasil dan menjadi keberhasilan seluruh tim. Tapi saya sendiri juga tidak mau melihat resolusi dan berbagai target dengan kaku. Kalau memang ada resolusi atau rencana yang belum kesampaian atau belum mungkin direalisasikan, maka saya tak akan berat hati untuk menundanya, dan melihat kemungkinan apakah rencana tersebut dapat dikerjakan tahun berikutnya, atau berikutnya lagi. Salah satu resolusi yang tertunda-tunda terus ini adalah rencana saya menulis novel. Semoga saja tahun depan bisa terlaksana. Kalau tidak, ya tahun depannya lagi. Yang penting bisa terjadi.

 

Fathia Izzati 

Saya selalu mencatat apa saja resolusi tahun baru yang diharapkan untuk tercapai sepanjang tahun yang akan datang. Resolusi untuk tahun ini sebenarnya banyak. Banyak sekali. Tapi sebenarnya lebih ke arah tujuan yang ingin dicapai, sih. Saat saya masih kecil dulu, resolusinya selalu sama, yaitu ingin tambah tinggi dan lebih rajin lagi beribadah. Tapi kok tidak kunjung bertambah tinggi ya? Hahaha.

Kalau tahun ini, resolusi saya ingin lebih serius menjalani pekerjaan sebagai content creator, vokalis dan juga melanjutkan studi S2. Saat ini, salah satu resolusi tahun baru saya untuk mecoba bekerja di kantor hukum sudah tercapai. Berdisiplin membuat resolusi awal tahun menurut saya penting dilakukan agar kita tidak lupa dengan keinginan kita untuk menjadi orang yang lebih baik lagi bagi diri sendiri, keluarga, dan teman-teman. Resolusi itu anggap saja sebagai tolok ukurnya. That’s where the resolutions come in handy. Especially for me because I easily forget things. Tapi saya juga tidak memulai tahun baru dengan melakukan hal-hal yang terlalu drastis. Paling hanya berdoa saja semoga di tahun baru ini akan lebih mudah lagi diberi rezeki. Juga, kalau memang ada pekerjaan dari tahun sebelumnya yang belum tuntas, pasti harus diteruskan. Bagus juga untuk punya tujuan baru, tapi kadang-kadang memang belum waktunya saja dan harus ditunda sampai tahun berikutnya. Just don’t give up on your goals and dreams. I think success is very subjective to everyone. I haven’t found my definition of success yet, but I think it’s when I can make a good impact on those around me whilst being truly content with myself.

Related Articles

Card image
Self
Perbedaan dalam Kecantikan

Perempuan dan kecantikan adalah dua hal yang tidak akan pernah terpisahkan. Cantik kini bisa ditafsirkan dengan beragam cara, setiap orang bebas memiliki makna cantik yang berbeda-beda sesuai dengan hatinya. Berbeda justru jadi kekuatan terbesar kecantikan khas Indonesia yang seharusnya kita rayakan bersama.

By Greatmind x BeautyFest Asia 2024
01 June 2024
Card image
Self
Usaha Menciptakan Ruang Dengar Tanpa Batas

Aku terlahir dalam kondisi daun telinga kanan yang tidak sempurna. Semenjak aku tahu bahwa kelainan itu dinamai Microtia, aku tergerak untuk memberi penghiburan untuk orang-orang yang punya kasus lebih berat daripada aku, yaitu komunitas tuli. Hal ini aku lakukan berbarengan dengan niatku untuk membuat proyek sosial belalui bernyanyi di tahun ini.

By Idgitaf
19 May 2024
Card image
Self
Perjalanan Pendewasaan Melalui Musik

Menjalani pekerjaan yang berawal dari hobi memang bisa saja menantang. Menurutku, musik adalah salah satu medium yang mengajarkanku untuk menjadi lebih dewasa. Terutama, dari kompetisi aku belajar untuk mencari jalan keluar baru saat menemukan tantangan dalam hidup. Kecewa mungkin saja kita temui, tetapi selalu ada opsi jalan keluar kalau kita benar-benar berusaha berpikir dengan lebih jernih.

By Atya Faudina
11 May 2024