Self Lifehacks

Belajar Dari Perjalanan

Terjebak di negeri asing saat pandemi masih baru terdengar memberikan banyak perlajaran untukku. Keriuhan yang terjadi lantaran runtutan pembatalan penerbangan dari berbagai negara juga sempat membuatku cemas untuk sesaat. Pandemi ini cukup berdampak padaku yang terbiasa hidup dari satu acara ke acara lainnya. Tanpa diduga pekerjaanku harus hilang dalam sekejap mata. Banyak hal terjadi di awal tahun 2020 lalu, baik dari segi finansial maupun personal. Serta akumulasi rasa kecewa terhadap sesama manusia karena kenaifan diriku sendiri yang menggantungkan kebahagian pada manusia lain.

Aku sempat berada di tahap aku sendiri merasa murung dan mengalami krisis kepercayaan terhadap orang lain. Berdamai dengan diri sendiri memang lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Tapi kita harus mulai memperjuangkan hal-hal yang membuat kita bahagia saat kita mendapat tekanan sosial untuk mengikuti timeline yang dianggap ideal. Aku berusaha melakukan hal-hal kecil yang membuat ku bahagia entah itu menyantap bika ambon atau es krim favorit, bisa juga mulai membuat merchandise dengan desainku sendiri. Aku belajar untuk tidak menitipkan kebahagianku pada orang lain, dan ini memang butuh waktu dan proses.

Berdamai dengan diri sendiri memang lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Tapi kita harus mulai memperjuangkan hal-hal yang membuat kita bahagia saat kita mendapat tekanan sosial untuk mengikuti timeline yang dianggap ideal.  

Aku belajar banyak hal dari berbincang bersama orang lain. Aku belajar bagaimana memilih pola busana yang bagus dari  penjual kain di Cipadu atau memilih bahan membuat tas dari pedagang di Tajur. Aku sadar aku bukan orang yang cinta dengan sekolah, tapi di sisi lain aku mengakui bahwa aku masih punya kekurangan secara ilmu, khususnya untuk menjalankan usahaku di @chiki.go. Aku yakin aku harus selalu belajar untuk bisa beradaptasi dengan dunia yang terus berubah. Usaha ini bisa dimulai dari mencoba menjadi pendengar yang baik. Seniman sebenarnya memiliki kebutuhan untuk sendirian, sehingga dapat memproses rasa menjadi karya. Ini jadi salah satu modalku untuk berkarya. Ketika langitku sedang kelabu, aku bisa buat langit biru untuk diriku sendiri. When fears are grounded, dreams take flight. Aku berusaha merepresentasikan ketakutanku melalui karya yang lebih berwarna. 

Ketika langitku sedang kelabu, aku bisa buat langit biru untuk diriku sendiri. When fears are grounded, dreams take flight.

Lama tidak menghadirkan karya baru dalam bentuk musik, aku juga memilki kekhawatiran bahwa orang mulai lupa bahwa aku juga musisi. Aku menulis lagu “Bandara” untuk menguatkan diriku sendiri. Di bandara ada yang bahagia menyambut kedatangan orang terkasih tetapi ada juga yang sedih karena harus mengucapkan selamat jalan. Singgah berjam-jam di bandara membuatku mulai membuka percakapan dengan orang asing, dan mendengar banyak cerita. Salah satu cerita menarik datang dari bandara di Filipina saat aku melihat seorang petugas kebersihan yang menyadarkan dirinya karena kelelahan, aku sadar bandara juga tempat orang untuk berjuang mencari nafkah. Bandara bagai miniatur kehidupan, karena kita juga akan lepas landas saat umur kita sudah habis di dunia. 

Kita hanya melintas di dunia, karena sebenarnya hidup bukan tepat tinggal. Banyak ketakutan-ketakutan yang muncul belakangan ini entah itu takut dengan situasi, takut akan kegagalan, takut ditinggalkan orang terkasih, dan ketakutaku yang paling besar adalah aku takut tidak mempersiapkan cukup bekal untuk destinasi setelah dunia. Ini membuatku berpikir untuk membuat apapun yang aku lakukan bisa bermanfaat tidak hanya untuk diriku tetapi juga orang lain. 

Berdasarkan perjalanan dan percakapanku dengan berbagai orang dari berbagai belahan dunia, hanya harapan yang membuat kita tetap hidup saat dunia kita sedang suram. Hidup itu perjalanan dan aku banyak belajar dari perjalanan. Tidak semua orang hadir dalam hidup kita untuk menetap tapi hanya singgah untuk memberikan pelajaran hidup untuk kita. Mungkin menyakitkan, tapi memberikan pelajar yang melimpah untuk menjadikan kita pribadi yang lebih kuat. Kalau aku punya mimpi, aku sendiri yang bisa mewujudkan itu dengan berusaha semampuku sembari berdoa.

 Hanya harapan yang membuat kita tetap hidup saat dunia kita sedang suram.

Related Articles

Card image
Self
Proses Menerima Kehilangan

Proses penerimaan saat menghadapi momen kehilangan memang tentu berbeda-beda bagi setiap individu. Banyak fase yang harus kita lalui mulai dari sedih, menghindari percakapan dengan orang lain, frustrasi, depresi, hingga akhirnya kita bisa menerima apa yang terjadi. Ada juga yang memilih untuk memendam dan menyimpan rasa yang kita miliki, tapi dari pengalaman, kami juga belajar bahwa kita tidak harus melalui semuanya sendirian.

By Duara
23 October 2021
Card image
Self
Lesson Learned: Otak Kanan vs. Kiri

Kamu tipe orang otak kanan yang kreatif atau otak kiri yang analitis dan logis? Kalaupun kamu tidak tahu tipe yang mana mungkin setidaknya pernah dengar “tes kepribadian” terkait ini atau mungkin melihat judul artikel berita atau judul buku soal perbedaan otak kanan dan kiri. Pemahaman mengenai perbedaan gaya berpikir dan kepribadian berdasarkan sisi otak yang lebih dominan merupakan MITOS. Tapi sayangnya awam dijadikan pembenaran atau rasionalisasi.

By Trisa Triandesa
23 October 2021
Card image
Self
Jurnal Sebagai Wadah Luapan Rasa

Konsep kebahagiaan dan kesejahteraan kini dimaknai dengan semakin dalam untuk generasi yang paham pentingnya self-care di masa yang cukup menuntut diri kita di lintas area kehidupan. Kesejahteraan dan kebahagiaan, atau lebih ramah kita kenal sebagai welfare dan wellbeing, adalah istilah yang kini sering digunakan secara tumpang tindih di banyak media.

By Georgina Wait
23 October 2021