Self Lifehacks

Belenggu Masa Kecil

Greatmind

@greatmind.id

Redaksi

Ilustrasi Oleh: Atreyu Moniaga Project

Ada yang bilang bertambahnya usia bukan berarti meningkatkan kedewasaan kita. Lalu setiap kali dikatakan tidak dewasa kita tersinggung dan merasa tidak terima. Apalagi ketika merasa umur kita sudah cukup dikatakan sebagai orang dewasa. Padahal makna dewasa itu tidak dapat didefinisikan hanya dalam satu pengertian saja karena setiap orang pasti memiliki sisi kekanak-kanakan dan dewasanya mau berapapun umurnya. Akan tetapi tentu saja kedewasaan tersebut memiliki kadar tertentu dalam diri seseorang.

Seseorang yang memiliki selera humor tinggi, terlihat tidak serius dalam pembicaraannya serta menyukai barang-barang dengan karakter anak-anak belum tentu tidak dewasa dalam menjalani kehidupannya. Bisa saja kadar kedewasaannya seimbang dengan kadar sisi anak-anak dalam dirinya. Bukan berarti dia tidak berani mengambil tanggung jawab besar dalam kesehariannya dan menyelesaikan masalah layaknya anak kecil seperti menyalahkan orang lain atau meminta orangtuanya menyelesaikan.

Begitu pun sebaliknya. Seseorang yang telah berumur 30 tahun, berpendidikan tinggi, memiliki pekerjaan tetap, belum tentu dikategorikan seseorang yang piawai berkarakter dewasa. Apalagi jika dia memiliki Peter Pan Syndrome, sebuah sindrom yang menunjukkan bahwa seseorang dalam umurnya yang sudah memasuki usia dewasa tetapi kadar kedewasaannya berbanding terbalik dengan sisi anak-anaknya. Seseorang yang dapat dikatakan memiliki sindrom ini dapat dilihat dari kesehariannya yang enggan menerima tanggung jawab besar. Orang yang tidak bisa hidup sendiri dan butuh orang lain untuk memutuskan segala sesuatu untuknya bahkan membutuhkan mereka untuk menyokong kehidupan sehari-harinya.

Seseorang yang dapat dikatakan memiliki Peter Pan Syndrome dapat dilihat dari kesehariannya yang enggan menerima tanggung jawab besar.

Tidak berhenti di sana, seseorang dengan Peter Pan Syndrome pun biasanya kurang memiliki keminatan untuk meningkatkan potensi diri. Orang tersebut biasanya seringkali berganti pekerjaan atau tidak bisa berada lama dalam satu posisi atau perusahaan. Dalam pekerjaan pun dia tidak melakukan banyak  usaha untuk meningkatkan kariernya atau bahkan enggan untuk memiliki pekerjaan purna waktu karena merasa tidak bebas dalam mengatur waktunya sendiri. Seringkali sang penderita tidak dapat mengatasi permasalahan sulit dengan kondisi baik. Bersikap kasar, berteriak, dan memperlihatkan emosi menjadi karakter mereka ketika harus berargumen. Solusi bukanlah hal utama dalam pikirannya tapi bagaimana dia dapat “kabur” dari situasi yang tidak menyenangkan itu. Juga bagaimana dia membuat pernyataan bahwa orang lainlah yang akan selalu salah dan dialah yang benar.

Sudah pasti dengan apa  yang sudah dijelaskan di atas seseorang dengan Peter Pan Syndrome juga memiliki kesulitan berkomitmen. Dalam berhubungan dia tidak betah berlama-lama dengan satu orang. Ya, mereka akan berkata janji untuk bersama-sama dengan pasangannya  tapi namun ketika waktunya putus, dia akan tetap memutuskan hubungan meski masih seumur jagung. Mereka selalu berpikir untuk mencari pengalaman sebanyak-banyaknya dan bisa berumah tangga lain waktu, jauh di masa depan yang tidak mereka pikirkan.Itulah juga mengapa mereka biasanya tidak dapat diandalkan dan selalu mencari alasan untuk tidak melakukan apa yang diminta orang lain. Padahal itu adalah tanggung jawabnya.

Lalu mengapa seseorang bisa terjangkit sindrom ini? Namanya saja Peter Pan Syndrome. Pasti ada kaitannya dengan masa kecil kita. Seseorang yang mengalami sindrom tersebut biasanya memiliki masa kecil yang belum tuntas. Bisa jadi saat kecil dia adalah seorang anak yang dimanja oleh kedua orangtuanya. Selalu diperbolehkan untuk melakukan sesuatu tidak pernah mendapatkan kata “jangan”  atau “tidak boleh”. Mereka tidak pernah diajarkan kemampuan bertanggung jawab atau menyelesaikan sesuatu oleh dirinya sendiri. Mungkin saja kebiasaan ini pun berlangsung lama dan hingga dewasa orang tersebut selalu berada dalam istana mewahnya di mana tidak ada ancaman apapun akan menyerang.

Orangtua yang terlalu sering melarang pun bisa menjadi penyebab masalah ini terjadi pada psikologi seseorang. Dia tidak memiliki kebebasan saat kecil dan selalu merasa salah dalam melakukan apapun. Sedikit-sedikit dimarahi atau bahkan mendapat perlakuan kasar. Sampai dewasa pun dia akan selalu takut dengan pengambilan keputusan karena takut mendapatkan perlakuan tidak nyaman pada dirinya. Atau sebaliknya kala dewasa orang tersebut justru menyalahgunakan kebebasan mereka sebagai individu untuk membayar masa kecil yang mengurung mereka dalam sangkar. Sehingga mereka berusaha untuk terus mencari pelarian setiap kali ada hal yang berpotensi membelenggu mereka.

Pada dasarnya orang dewasa yang memiliki Peter Pan Syndrome adalah orang yang tidak berhenti bernostalgia dengan masa kecilnya. Dia tidak bisa melepaskan kehidupan masa kecilnya begitu saja dan sulit menjalani masa sekarang dengan apa yang ada sekarang. Referensi hidup mereka kebanyakan berasal dari masa kecil. Buruknya, mereka selalu terjebak dalam masa lalu dan selalu berjalan mundur. Melihat sindrom-sindrom serta penyebabnya tersebut kini pertanyaannya adalah apakah kita termasuk yang terjangkit?

Related Articles

Card image
Self
Usaha Menciptakan Ruang Dengar Tanpa Batas

Aku terlahir dalam kondisi daun telinga kanan yang tidak sempurna. Semenjak aku tahu bahwa kelainan itu dinamai Microtia, aku tergerak untuk memberi penghiburan untuk orang-orang yang punya kasus lebih berat daripada aku, yaitu komunitas tuli. Hal ini aku lakukan berbarengan dengan niatku untuk membuat proyek sosial belalui bernyanyi di tahun ini.

By Idgitaf
19 May 2024
Card image
Self
Perjalanan Pendewasaan Melalui Musik

Menjalani pekerjaan yang berawal dari hobi memang bisa saja menantang. Menurutku, musik adalah salah satu medium yang mengajarkanku untuk menjadi lebih dewasa. Terutama, dari kompetisi aku belajar untuk mencari jalan keluar baru saat menemukan tantangan dalam hidup. Kecewa mungkin saja kita temui, tetapi selalu ada opsi jalan keluar kalau kita benar-benar berusaha berpikir dengan lebih jernih.

By Atya Faudina
11 May 2024
Card image
Self
Melihat Dunia Seni dari Lensa Kamera

Berawal dari sebuah hobi, akhirnya fotografi menjadi salah satu jalan karir saya hingga hari ini. Di tahun 1997 saya pernah bekerja di majalah Foto Media, sayang sekali sekarang majalah tersebut sudah berhenti terbit. Setelahnya saya juga masih bekerja di bidang fotografi, termasuk bekerja sebagai tukang cuci cetak foto hitam putih. Sampai akhirnya mulai motret sendiri sampai sekarang.

By Davy Linggar
04 May 2024