Self Lifehacks

Berbagi Kebaikan

Masa kecil bisa dibilang adalah cerminan di kala kita dewasa. Seperti apa kondisi di dalam rumah kita ketika kecil, lingkungan, dan orang-orang di sekitar amat memengaruhi pola pikir dan perilaku kita di masa depan. Rumah adalah fondasi utama yang membangun diri kita. Kalau sedari kecil kita merasakan banyak cinta di dalam rumah dan melihat hal baik di sekitar kemungkinan besar kita bisa memiliki keinginan untuk berbagi cinta juga.

Rasanya tidak terhitung berapa banyak nilai yang diberikan kedua orangtuaku juga keluarga besar. Papa, misalnya, mencontohkan bagaimana menjadi seseorang yang selalu memberi dan punya empati tinggi. Mama pun tidak berbeda. Aku ingat sewaktu kecil mamaku pasti bilang, “Banyak anak di luar sana yang kelaparan. Kamu harus habiskan makanmu, ya.” Hal kecil memang tapi ternyata hal-hal kecil itu menjadi fondasi diriku. Menurutku kalau keluargaku tidak menunjukkan kepedulian dan rasa sayang mereka pada sesama anggota keluarga, mungkin aku tidak bisa memahami bagaimana bisa peduli pada orang lain. Kita tidak bisa memberikan kasih sayang pada orang lain kalau kita sendiri tidak bisa merasakan kasih sayang itu sendiri. 

Rumah adalah fondasi utama yang membangun diri kita. Kalau sedari kecil kita merasakan banyak cinta di dalam rumah dan melihat hal baik di sekitar kemungkinan besar kita bisa memiliki keinginan untuk berbagi cinta juga.

Waktu kecil aku memang merasa cukup dimanjakan. Tapi bukan berarti aku merasa bisa seenaknya saja. Aku ingat waktu kecil saat ada di dalam mobil nan nyaman sering melihat anak-anak yang tinggal di kolong jembatan meminta-minta. Dalam hati aku bilang, “Masa mereka tinggal di kolong jembatan? Mereka tidurnya gimana? Kok bisa mereka hidup seperti ini?” Kemudian aku merefleksikan kembali dengan segala yang aku miliki. Betapa beruntungnya aku hidup serba cukup. Pikiran itu pun terus berkembang hingga dewasa sampai aku merasa bisa melakukan lebih dari keberuntunganku ini. Lalu semakin beranjak dewasa aku memperluas jangkauanku, melihat realita di sekitar yang akhirnya mengeluarkanku dari berbagai gelembung-gelembung yang semakin membangun rasa simpati dan empati. Di awal umur 20an aku mulai menjadi relawan untuk beragam penggalangan dana sampai sekarang. 

Caraku berbagi pun mungkin berbeda dengan orang lain dan bukan berarti carakulah yang paling benar. Aku suka turun ke lapangan, melihat dengan mata kepalaku sendiri seperti apa kondisi yang terjadi di sana. Rasanya beda sekali kalau hanya menyumbang saja. Seperti kurang puas, tidak lengkap kalau hanya sekadar menyumbang uang atau sembako saja tanpa benar-benar membantu membagikannya langsung. Seperti di masa corona ini. Kalau aku tidak turun ke jalan aku tidak tahu apa yang terjadi pada banyak orang, tidak tahu ternyata yang perlu bantuan sangatlah banyak.

Sempat kemarin aku membagikan sembako ke daerah Cengkareng di mana rumah masyarakat di salah satu area benar-benar hanya berbentuk gubuk. Rasanya ingin sekali menangis melihat kondisi mereka. Kemudian mereka tersenyum seperti mereka punya harapan, merasa ada yang peduli pada mereka. Senang sekali bisa melihat senyuman itu. Seakan bisa membantu meringankan beban mereka walaupun sedikit. Kesenangan dari penggalangan dana ini juga sebenarnya datang dari melihat betapa banyak orang di sekitar kita yang mendukung. Berkontribusi untuk melipatgandakan kebaikan dan kepedulian. Setidaknya kita bisa memberikan contoh pada orang lain untuk mereka juga menyebarkannya pada lebih banyak orang.

Senang sekali bisa melihat senyuman itu. Seakan bisa membantu meringankan beban mereka walaupun sedikit.

Aku percaya kita tidak perlu punya privilese tertentu dulu untuk melakukan kebaikan, untuk berbagi apa yang kita miliki dengan orang lain. Tidak perlu kaya dulu baru bisa memberi. Semua orang bisa memberi dengan kondisi apapun. Intinya hanyalah ada niat atau tidak. Setiap orang punya cerita yang berbeda sehingga perjalanan dan pengalamannya untuk berbagi pun berbeda. Ada seseorang yang sehari penghasilannya hanya 50.000 rupiah tapi masih bisa menyisihkan pada orang lain. Ada yang mungkin belum bisa berbagi meski memiliki finansial cukup.

Kita tidak bisa memaksa seseorang untuk melakukan sesuatu seperti yang kita lakukan jika dia tidak mau. Kalau dia punya keinginan, punya cinta dan kepedulian untuk berbagi, dia akan melakukannya dengan senang hati. Berbagi itu datangnya harus dari hati. Bukan karena ada “sesuatu” di belakangnya. Bukan karena ingin pencitraan atau meraup keuntungan sendiri. Akan tetapi setiap orang berbeda-beda. Itu semua pilihan masing-masing orang dan kita tidak bisa menghakiminya. Asal memang untuk sesuatu yang baik aku yakin pasti akan dilancarkan. Hasilnya juga akan baik dan akhirnya hal-hal positif akan kembali ke diri kita sendiri. 
 

Berbagi itu datangnya harus dari hati.

Related Articles

Card image
Self
Lesson Learned: Depresi

Merasa sedih itu bagian dari hidup, tapi kalau sampai berlarut-larut dan menganggu aktivitas itu pertanda ada yang perlu dibenahi atau kamu perlu segera cari bantuan professional. Kita tidak bisa sepenuhnya mengontrol atau mengendalikan apa yang terjadi dan kita alami dalam hidup, tapi kita bisa mengendalikan cara kita memproses pengalaman tersebut. Tidak mudah tapi kita pasti bisa.

By Trisa Triandesa
31 July 2021
Card image
Self
Kesehatan Mental Harus Dibicarakan

Bicara tentang kesehatan mental, masih banyak sekali orang di masyarakat kita yang belum percaya bahwa seseorang bisa memiliki gangguan mental. Akhirnya, orang-orang yang mengalami hal tersebut enggan untuk menceritakan apa yang dirasakan dan memendamnya sendiri. Padahal ia sangat membutuhkan pertolongan untuk keluar dari kemelut benaknya. 

By Carissa Perruset
31 July 2021
Card image
Self
Yang Pergi dan Tak Terlupakan

Bagi kita kepergian orang yang dekat apalagi kita sayangi memang membawa derita dan luka mendalam. Apalagi orang tersebut begitu baik atau berjasa. Kenangan tentang mereka terkadang begitu indah tiada bercela. Tidak jarang proses berduka dialami dalam jangka waktu yang tidak singkat.

By Dr. Clara Moningka
31 July 2021