Self Lifehacks

Bercakap Bersama Ben Kasyafani: Beristirahat dari Hiruk Pikuk

Sejak COVID-19 melanda dunia, saya jadi makin sering menanyakan kabar teman-teman. Apakah dalam bentuk kiriman pesan singkat atau bertukar suara lewat telepon. Salah satu yang saya ajak bicara baru-baru ini seorang mantan kolega yang akhirnya menjadi salah satu teman ngopi dan ngobrol. Suatu hari kita berkirim pesan, sekedar bertanya kabar. Dia menulis, “Bumi sepertinya sedang beristirahat."  Kalimat ini menggugah rasa ingin tahu. Saya bercakap bersama Ben Kasyafani. Di rumah berminggu-minggu membawa banyak refleksi untuknya. Kita bicara tentang mensyukuri waktu, kerinduan akan interaksi tatap muka, dan gaya hidup minimalis yang baik untuk bumi.

Marissa Anita (M): Ben, bagaimana COVID-19 telah mengubah hidupmu?

Ben Kasyafani (B): Dari sisi kerjaan, syuting [sinetron] berhenti karena pemerintah memandat untuk work from home (kerja dari rumah). Sekarang gue siaran radio dari rumah. Secara psikologis gue juga terdampak. Waktu di rumah tiga, empat hari pertama sih kayak liburan. Tapi setelah lebih dari empat hari, psikis mulai terganggu. Gue dari dunia kreatif, otaknya nggak bisa diam. Ketika bangun tidur, nggak punya rencana, nggak tahu hari ini mau ngapain itu ‘ngebunuh’ juga secara psikologis. Di minggu ke-tiga berasa banget. Kalau dulu, ketika kita bisa keluar, ada ‘distraction’ (distraksi) ngerjain ini itu. Ketika di rumah, kita benar-benar jadi diri kita. Ada anak, istri, dan semua hal yang selama ini nggak pernah kita alami — berhari-hari di rumah, tapi bukan libur. Berminggu-minggu di rumah, gue menyadari banyak banget hal.

M: Apa saja?

B: Terutama dalam kaitannya dengan orang rumah. Sama istri jadi agak kayak mempermasalahkan masalah-masalah yang nggak penting. Sama anak, Sienna (7 tahun), juga jadi ngambek-ngambekan nggak penting. Karena ngambek-ngambekan bertiga, kita akhirnya bikin peraturan di rumah yang ditempel di tembok: “Rules Keluarga Kasyafani” yang isinya: (1) Bicara positif dan sabar (2) Mengurangi main gadget (3) Jam 16.00 mengaji sampai jam 17.00 atau boleh lebih. (4) Barang yang sudah dipakai langsung dibereskan (5) Bersyukur, mengontrol emosi dengan istighfar dan tarik nafas. Kita bertiga tanda-tangan dan komitmen mengikuti aturan ini. Kapan hari ada satu momen gue berdebat sama Ines (istri, Nesyana Ayu Nabila) terus Sienna teriak dari lantai atas "Ingat! Semuanya berkata yang baik.” Terus kita “Oh ya, ya, ya”. Hahaha.

Intinya selama di rumah saja karena COVID, hal-hal kecil ternyata bisa menjadi masalah. Sekarang gue juga jadi lebih menyadari yang selama ini gue punya di luar dalam keseharian gue adalah berkah.

Sekarang gue juga jadi lebih menyadari yang selama ini gue punya di luar dalam keseharian gue adalah berkah.

M: Contohnya apa, Ben?

B: Semua. Kerjaan, lingkungan pekerjaan yang baik, teman-teman yang sefrekuensi sama kita. Kangen. Gue kangen sama elo. Gue kangen sama temen-temen kerja gue. Kita mau ketemuan tapi akhirnya sekarang harus ‘terbatas’ cuma bisa melalui gadget, pakai aplikasi seperti Zoom dan lain-lain. Gue menyadari pertemuan face-to-face (tatap muka) itu sangat penting. Gue kangen interaksi sama manusia lain.

M: Ini skin hunger (kondisi dimana seseorang mengalami kerinduan mendalam dan memiliki keinginan kuat untuk kontak secara fisik dengan orang lain). Sekarang, karena COVID-19, semua orang diharuskan kerja di rumah. Elo siaran masih bisa di rumah dan ternyata toh bisa siaran dari rumah. Kalau punya pilihan antara siaran di studio atau di rumah saja, elo pilih yang mana?

B: Kalau dalam keadaan normal (tidak ada COVID-19), gue lebih milih ngantor ke gedung karena siaran, musik, film, akting itu adalah bentuk seni yang bisa terjadi karena lingkungan, apa yang kita lihat di lingkungan sekitar. Misal, setelah seminggu gue siaran dari rumah, gue banyak menemukan kebuntuan juga. Bisa sih browsing untuk cari bahan pembicaraan, tapi tetap saja beda. Apa yang gue alami berangkat dari rumah ke kantor, waktu gue di jalan di mana bisa terjadi banyak kejadian, ini semua bisa jadi bahan siaran. Sama kayak elo sebagai aktor, Mar. Waktu elo berangkat ke tempat latihan atau tempat elo manggung teater, atau pas elo berangkat ke lokasi syuting, hal-hal kecil yang elo lihat di perjalanan membawa pengaruh buat elo kan? Elo bisa dapat observasi baru, insight (wawasan) baru. Semua ini untuk sementara terbatas karena kita di rumah saja.

M: Apa lagi yang jadi refleksi elo selama sudah di rumah lebih dari empat minggu? Jujur waktu minggu pertama gue happy banget ‘dipaksa’ di rumah. Gue merawat sisi introver gue. Hahaha.

B: Hahaha. Iya gue baru saja mau bilang sisi introver elo...

M: Iya! Tapi lama-lama gue ngerasa sedih juga. Sampai akhirnya bikin rutinitas setiap hari. Selain kerja, sekarang jadi lebih rajin yoga; masak sekarang lebih dinikmati setiap momennya, lebih membuka ruang untuk eksperimen di dapur. Setelah selesai kerja seharian, sebagai reward (hadiah), gue nonton film. Kalau elo?

B: Gue ada siaran pagi hari. Sekarang gue juga ngerajinin mandi. Hahaha. Sebenarnya gue bisa saja kan nggak mandi karena nggak ada orang yang tahu. Gue mandi juga supaya badan gue ngerasa gue orang beda sama pas gue tidur. Ritme ada bukan untuk pelarian sibuk tapi untuk membuat rutinitas. Siang gue sibuk di dapur. Olahraga walau nggak tiap hari (Jumat, Sabtu, dan Minggu). Ines ada kelas Zumba via Zoom, Sienna nari-nari, gue workout pakai alat TRX yang gue udah beli dari 2012 tapi baru gue pakai sekarang!

Ketika gue browsing berita, sekarang semua berita tentang COVID-19, mau itu dari sisi politik, ekonomi atau kesehatan. Seminggu pertama, gue masih ngikutin intens berita-berita ini. Tapi setelah itu, terlalu banyak baca berita-berita ini ‘ngebunuh’ gue di dalam (secara psikis). Media memang lebih tertarik memberikan headline yang agak nakutin: “Prediksi di Indonesia akan lebih buruk dari Italia”, “Pemerintah kurang responsif sama virus ini”, “Ekonomi kita yang berantakan” — kalau elo pikirin dan elo baca terus, elo akan semakin ketakutan. Belum lagi elo buka grup chat yang sharing tentang betapa ganasnya virus ini. Gue akhirnya memutuskan untuk memilih betul informasi yang gue konsumsi di tengah COVID-19 ini. Tetap tahu perkembangan, tapi nggak takut berlebihan.

Gue akhirnya memutuskan untuk memilih betul informasi yang gue konsumsi di tengah COVID-19 ini. Tetap tahu perkembangan, tapi nggak takut berlebihan.

M: Elo pernah bilang, saat ini bumi sepertinya sedang beristirahat...

B: Gue ngerasa bumi perlu istirahat dari manusia-manusia yang banyak melakukan hal hal yang sebetulnya nggak penting, sederhananya seperti itu.

M: Nggak penting seperti apa?

B: Yang penting adalah memenuhi kebutuhan dasar — makan, hidup sehat, bekerja mencari nafkah, bertahan hidup, keluarga, beribadah — caring and sharing (peduli dan berbagi). Tapi manusia di era sekarang banyak melakukan hal-hal untuk sekedar memperkaya diri kan? — mengeruk hasil bumi berlebihan, traveling berlebihan, punya barang-barang terlalu banyak, akhirnya industrialisasi semakin gila dan ini merugikan bumi kita. Baru-baru ini astronot nggak percaya, pas ngambil foto bumi dari luar angkasa, terlihat polusinya berkurang banyak sejak COVID; di Venice, Italia, air di kanalnya jadi bening, ikan-ikan kelihatan.

Bumi mungkin perlu take a break (istirahat) seakan bumi bilang: “Man, entar dulu, man. Gue udah capek banget, elo semua di rumah dulu, gue mau napas dulu setidaknya empat bulan ya. Kalau elo (manusia) masih bandel, gue lamain nih.” Sekarang kurang lebih begitu kan? Ya kalau yang beragama, mah, Tuhan mungkin mau bilang: “Eh, elo semua di rumah ya. Kalau elo bandel, gue bikin lebih lama lagi nih.”

Bumi mungkin perlu take a break (istirahat) seakan bumi bilang: 'Man, entar dulu man. Gue udah capek banget, elo semua di rumah dulu, gue mau napas dulu setidaknya empat bulan ya.'

M: Elo juga pernah bilang bahwa kondisi ini membuat gaya hidup minimalisme jadi makin relevan...

B: Gue juga pertama kali tahu tentang minimalisme dari elo. Dengan adanya kayak gini (COVID-19), beberapa industri terdampak banget seperti industri ritel baju. Orang nggak perlu beli baju bagus, toh nggak kemana-mana juga. Orang nggak bepergian kemana-mana. Industri mobil terdampak karena nggak ada orang yang perlu mobil baru. Barang-barang seperti ini menjadi tidak menarik. Sekarang yang menarik, kalau gue lihat kurva industri yang naik dan turun, yang di urutan paling atas kesehatan, yang paling bawah traveling (jalan-jalan). Minimalism at its best. Kita ngelakuin hal-hal yang paling prioritas buat kita saja sekarang. Dari sudut pandang gue, hal prioritas adalah kesehatan dan pola asuh. “Di Rumah Aja” jadi kesempatan buat memperbaiki hubungan dengan pasangan dan pola asuh dengan anak.

“Di Rumah Aja” jadi kesempatan buat memperbaiki hubungan dengan pasangan dan pola asuh dengan anak.

M: Apa bedanya yang dulu dengan yang sekarang?

B: Dalam hubungannya dengan pasangan. Gue dan Ines sudah nikah empat tahun. Dulu, ritmenya gue keluar untuk kerja, terus pas balik ke rumah, kita cerita tentang kerjaan. Gue bersama dia ada waktu-waktunya misal weekend, atau waktu kita pergi keluar berdua, atau pas mau tidur. Sekarang kita bersama-sama seharian penuh, setiap hari. Padahal ada waktu-waktu di mana gue mau jadi diri gue sendiri, dan dia mau jadi dirinya sendiri. Jadi diri sendiri tidak selalu menyenangkan buat pasangan kan?

M: Maksudnya?

B: Misal, gue kebiasaan baju nggak gue taruh di tempatnya dan ini terus-terusan. Hahaha. Sementara Ines maunya sebaliknya dan ngasih tahunya nggak terdengar enak di kuping gue, gue jadi reaktif. Terus jadi masalah.

Perbedaan sifat juga. Dia super introver, gue super ekstrover.  Misal ada masalah, dia butuh waktu untuk memproses, sementara gue maunya cepat selesai. Sekarang, meski sama-sama di rumah, kadang ada waktu kita sendiri-sendiri — dia di lantai atas, gue di lantai bawah, terus nanti makan siang kita bareng, dan sore ngumpul lagi.

Begitu juga sama Sienna. Kondisi ini membuat kita bareng terus-menerus. Sienna lagi di fase bertanya dan dia tanya terus-terusan “Kenapa gini? Kenapa gitu? Kenapa gini?” dan gue harus menjawab. Misal, dia kapan hari tanya tentang bagian-bagian privat tubuh manusia “Ayah Ben, private parts itu apa?”, “Kalau cowok baliq (mulai menjadi dewasa) itu tandanya apa?”, “Kalau cowok baliq itu dream (bermimpi) ya?”, “Dream-nya apa?”. Dan dia tanya begini tuh pas kita lagi makan. Hahaha.

M: Hahaha. Terus elo jawab apa?

B: “Oke nanti kita cari waktu untuk Ayah Ben jelasin ya?” Tapi dia ya masih terus penasaran gitu. Gue jawab aja, itu suatu mimpi yang menyenangkan ha ha ha. [Pola asuh di kala COVID-19] jadi lebih menantang kan? Tapi gue mensyukuri jadi punya lebih banyak waktu dengan dia. Ketika anak masuk usia 7-8 tahun krusial banget. Sekarang pas mau tidur, gue pijetin sambil cerita-cerita dongeng. Kalau dulu mungkin cuma seminggu sekali karena gue sibuk. Sekarang bisa setiap hari. Banyak hal yang gue bisa syukuri di momen seperti ini.

M: Di Rumah Aja menjadi kondisi normal yang baru dan butuh penyesuaian. Saat penyesuaian ini, ada hari di mana kita merasa baik-baik saja, tapi ada juga hari ini dimana kita nggak merasa baik-baik saja (misal gelisah). Apa yang biasanya membuat elo merasa gelisah?

B: Being negative (menjadi negatif). Being negative sulit saat kita berada dalam satu tempat terus-menerus.

M: Yang negatif elo atau orang sekitar?

B: Gue sendiri. Misal, gue bertanya sama diri sendiri “Kapan ini segera berakhir? Kalau ini berlangsung empat bulan ke depan jadinya akan seperti apa? Bagaimana dengan pekerjaan gue? Apakah gue setelah ini masih punya pekerjaan?” — Begitu banyak pertanyaan yang bikin kita khawatir.

Gue nggak kebayang kalau elo aktif betul di media sosial. Itu juga gila banget. Semua orang [di industri hiburan] sekarang semakin berlomba-lomba untuk be there (ada) di dunia digital karena sekarang eksistensi mereka hanya di rumah, sehingga perasaan left out (ketinggalan) jadi semakin besar.

Gue sampai ada momen di mana gue udah gejala fisik gatal-gatal. Gue ternyata punya kondisi namanya neurodermatitis (penyakit kulit kronis yang ditandai dengan bercak kemerahan di kulit, salah satunya dipercaya disebabkan stres atau gangguan kecemasan). Pas gue mikir yang baik-baik, melakukan hal yang positif, kondisi ini langsung hilang. 

M: Apa yang elo lakukan untuk mengatasi kecemasan? Tapi kita juga nggak mau akhirnya jadi menyangkal perasaan tidak menyenangkan dan akhirnya pura-pura bahagia kan?

B: Obatnya cuma being present in your moment now (tubuh dan pikiran hadir di saat ini). Gue biasa melepaskan dulu teknologi. Kecemasan gue biasa muncul ketika gue terlalu banyak main media sosial — jadi memikirkan hal-hal yang nggak ada di saat ini. Ketika elo nggak main media sosial, elo ada di present moment (saat ini), elo terhubung dengan orang-orang yang ada di sekitar elo, berbagi dengan mereka. Di sini elo bisa merasa diterima, elo nggak merasa atau memikirkan seberapa tidak berharganya elo ketika dibandingkan dengan orang di luar sana (yang terlihat di media sosial). Kalau kita udah ngerasa cemas, gue dan Ines biasanya log out media sosial.

Obatnya cuma being present in your moment now (tubuh dan pikiran hadir di saat ini). Gue biasa melepaskan dulu teknologi. Kecemasan gue biasa muncul ketika gue terlalu banyak main media sosial — jadi memikirkan hal-hal yang nggak ada di saat ini.

M: Emang teman-teman di industri lagi buat konten semua ya?

B: Semua, semua, semua. Elo benar-benar nggak ngikutin ya?

M: Nggak punya medsos pribadi. Hahaha. Ben, ada rencana seputar bulan puasa di tengah COVID-19 ini?

B: Gue sih... Shalat Jumat bersama kan udah nggak boleh. Waktu itu sempat jadi polemik, dipolitisir. Sebenarnya kalau mau dibikin mudah, secara syariat (hukum agama) Islam pun, kalau kita belajar benar, boleh Shalat Jumat asal berdua itu sudah cukup. Gue akhirnya Shalat Jumat di rumah bokap, kumpul bertiga yang sehat semua.

Ke depan, pas puasa, Tarawih ya di rumah. Sambil nunggu kabar soal Salat Ied nanti. Salat Ied kan sunnah yang dikuatkan. Kalau dilakukan dapat reward (pahala), kalau nggak bisa dilakukan ya nggak perlu dibesar-besarkan apalagi melihat situasi seperti ini. Gue sama keluarga untungnya ibadah bukan tradisi tapi memang syariat agama. Agama nggak kita buat ribet — yang bisa dilakukan ya dilakukan, kalau ternyata terlalu sulit dan tidak mungkin dilakukan, ya coba cari alternatif lain, nggak perlu dipermasalahkan. Kalau mau belajar betul, agama itu sebetulnya mudah kalau elo bikin mudah. 

M: Refleksi bulan puasa, Ben?

B: Buat gue, obat semuanya itu bersyukur sih. Memang terdengar standar, tapi itu obat semua — elo jadi nggak negatif. Penyakit kita sesungguhnya memang kurang bersyukur. Elo punya pekerjaan, punya kesehatan, punya kemampuan, nggak perlu nyari-nyari lagi. Mensyukuri apa yang kita punya lebih dari cukup.

Related Articles

Card image
Self
Lesson Learned: Depresi

Merasa sedih itu bagian dari hidup, tapi kalau sampai berlarut-larut dan menganggu aktivitas itu pertanda ada yang perlu dibenahi atau kamu perlu segera cari bantuan professional. Kita tidak bisa sepenuhnya mengontrol atau mengendalikan apa yang terjadi dan kita alami dalam hidup, tapi kita bisa mengendalikan cara kita memproses pengalaman tersebut. Tidak mudah tapi kita pasti bisa.

By Trisa Triandesa
31 July 2021
Card image
Self
Kesehatan Mental Harus Dibicarakan

Bicara tentang kesehatan mental, masih banyak sekali orang di masyarakat kita yang belum percaya bahwa seseorang bisa memiliki gangguan mental. Akhirnya, orang-orang yang mengalami hal tersebut enggan untuk menceritakan apa yang dirasakan dan memendamnya sendiri. Padahal ia sangat membutuhkan pertolongan untuk keluar dari kemelut benaknya. 

By Carissa Perruset
31 July 2021
Card image
Self
Yang Pergi dan Tak Terlupakan

Bagi kita kepergian orang yang dekat apalagi kita sayangi memang membawa derita dan luka mendalam. Apalagi orang tersebut begitu baik atau berjasa. Kenangan tentang mereka terkadang begitu indah tiada bercela. Tidak jarang proses berduka dialami dalam jangka waktu yang tidak singkat.

By Dr. Clara Moningka
31 July 2021