Self Planet & People

Bercakap Bersama Iwan Fals: Pelajaran Hidup

Halo Greatminders, terima kasih sudah bergabung dalam edisi bercakap bersama. Bintang tamu spesial kita kali ini, ia terlahir dengan nama Virgiawan Listanto di Jakarta dari seorang Ibu Lies Sudijah dan Bapak Sutopo. Ia tumbuh menjadi musisi, salah satu yang legendaris di negeri ini, dan dari 42 tahun bermusik ia telah menelurkan 37 album. 

Nah, di hari ulang tahun dia yang ke-60 ia meluncurkan kumpulan lagu pilihan yang terangkum dalam album “Pun Aku” dan ia bilang ini adalah penggalan cerita dirinya. Album ini sebagai pengingat atau cermin bagi dirinya. Selain itu, ia pun baru saja mengeluarkan lagu Kinari. Hari ini saya bercakap bersama Iwan Fals. Tentang musik, refleksi hidup, perjalanan, dan juga pelajaran hidup.

Marissa Anita (M): Halo Bang Iwan, apa kabarmu hari ini?

Iwan Fals (I): Baik, baik Marissa, semuanya.

M: Senang sekali bisa ketemu kembali setelah 7 tahun yang lalu saya wawancara. Bang, dirimu ini prolifik sekali alias produktif sekali mengeluarkan banyak lagu dalam sebulan terakhir, termasuk Kinari. Bagaimana Bang rasanya diarahkan sama Dee Lestari?

I: Aku senang, karena dia juga jelas (mengarahkan) dan saya juga dukung not yang dia pilih dan aku coba berusaha untuk memahami masuk ke situ (lagu). Jadi, ya nggak ada kesulitan.

M: Apa yang membuat Bang Iwan setuju, ingin menyanyikan lagu ini bersama Dee Lestari, penyanyi yang juga penulis dari novel Rapijali?

I: Saya lihat dia figur yang biasa, nggak terlalu wah. Ibarat air putih yang dibutuhkan semua orang. Berkembang dia menjadi penulis yang luar biasa produktif dan saya ada membaca beberapa tulisannya. Lalu dia menyodorkan lagu ke Cikal (anak Iwan Fals), tentang lagu Kinari. Akhirnya saya cari tentang Kinari. Saya juga dikasih buku Rapijali, tentang band anak-anak muda. Menarik, nggak bisa berhenti.

M: Berapa lama baca? Bukunya Dee itu tebal-tebal, lho bang!

I: Mungkin tiga hari, rasanya nggak bisa putus. Terus ya kira-kira segitu, lah. Nggak sampai seminggu. Dan saya jadi ingin tahu tentang Kinari bukan hanya sebagai cucu-nya Aki Yuda di buku itu, tapi ini rupanya ada mitologi Sunda, penunggu pohon. Di Asia Tenggara Kinari (atau Kinara) dikenal sebagai manusia setengah dewa. Saya jadi ingat tentang burung Kenari dan saya senang menanam pohon. Lalu saya dengarkan lagunya, saya langsung menyanyi dan ambil gitar, saya hafalkan chord-nya. Contoh lagunya menggunakan piano dengan Reza. Saya kirimkan ke Cikal dan kasih ke dia (Dee Lestari). Saya membayangkan kalau pohon nggak ada penunggunya gimana yang jagain?

M: Hahaha, ini penunggu bisa dua arti, ya? Selama ini yang kita bayangkan itu makhluk halus atau ya kita-kita ini, orang yang peduli lingkungan?

I: Iya bumi kan tidak bisa diselamatkan kalau tidak ditungguin oleh manusia-manusia setengah dewa. Sekarang pemimpin dunia aja kebingungan sama perubahan iklim. Makanya saya membayangkan lagu itu (Kinari) diputar di PBB, suruh mereka nungguin pohon jangan mikirin duit melulu. 

M: Cikal juga tadi sempat bilang katanya “Iya, Bapak itu baper kalau nyanyikan lagu Kinari,” Bang Iwan kan jadi karakter Yuda Alexander, kenapa baper bang?

I: Ya, ini kan cerita tentang anak saya dari karakter Yudha itu. Kemudian saya perdengarkan sama cucu saya yang punya bakat musik luar biasa. Gimana nggak baper? Ini Dewi langsung ngajak ke jeroan (perasaan dalam hati). Apalagi lagi musim hujan ini sambil dengerin lagu ini, aduh. Saya pikir dunia kenapa mikirin perang melulu, kenapa nggak mirkirin Kinari? Hahaha.

M: Kalau sampai membayangkan seperti Yuda Alexander itu, berarti next geeknya di film ya bang?

I: Sempet ngomong gitu sama Dewi. Saya pikir seru juga, tapi pembuat filmnya harus jago, harus benar. Itu tadi, bisa masuk ke jeroan itu.

M: Tapi berarti kalau di ajak nanti dalam film mau bang?

I: Oh, itu belum tahu. Apakah saya mau atau nggak nanti harus dilihat lagi. Tapi, nggak harus saya lah yang membawa cerita itu. Hubungan antara kakek dengan cucu. Kakeknya kan ini rock n roll, cerita di buku itu luar biasa dan imaji saya mengenai penunggu pohon, manusia setengah dewa. Bagaimana kita bisa hidup tanpa pohon? Tanpa menghargai makhluk lain? Lagu ini mengajarkan saya, bahwa ini penting. Ini penting banget. 

Apalagi saya baru baca itu ada ledakan dari matahari, agak menakutkan juga. Berpengaruh terhadap apa yang ada di langit. Jadi Kinari buat saya sangat luar biasa. Saya ngebayangin kalau ini dinyanyikan atau diputar di PBB. Wah, saya akan ikut nyanyi. Saat saya dengar rasanya tidak bisa keluar suara saya, nyangkut di kerongkongan. Baru membayangkan aja begini, apalagi kalau ini terjadi.

M: Iya, lagu Kinari ini sepertinya satu warna atau satu rasa dengan albumnya Bang Iwan yang dikeluarkan juga mirip-mirip waktunya. Selamat ulang tahun loh Bang yang ke-60, 3 September kemarin. Di album “Pun Aku” itu ada salah satu lagu, “Kabar Aroma Tanah” kira-kira satu warna ya dengan Kinari ini?

I: Iya sebenarnya ini kan tentang rasa ini dari tahun 80-an sebenarnya. Walaupun saya nggak paham soal alam, tapi ada naluri untuk mengenal lingkungan, kerinduan akan hutan yang sehat. Ini kebutuhan semua orang. Tapi perjalanan waktu sampai aku dapat lagu Kinari kok rasanya ini menjadi berbunyi (disadari). Apa mungkin umur, aku nggak ngerti juga. 

Walaupun saya nggak paham soal alam tapi ada naluri untuk mengenal lingkungan, kerinduan akan hutan yang sehat. Ini kebutuhan semua orang.

M: Di setiap album biasanya Bang Iwan mau bercerita tentang sesuatu. Nah di usia Bang Iwan yang ke-60 ini, album “Pun Aku” ini mau cerita tentang apa bang?

I: Ini cuma guyon, bahwa saya harus bergerak karena ini kan ciri hidup. Jadi, (selama ini) saya banyak bikin lagu dengan nama-nama, ada Bung Hatta, Bento, Oemar Bakri bahkan nama-nama anak saya. Saya berpikir kapan gue bikin lagu buat gue. Yaudah aku bilang sama Cikal, yang ini judulnya “Pun Aku” aja deh gitu. Sekali-sekali boleh dong, air laut asin sendiri. 

M: Berarti isu-isu yang menggelitik rasa Bang Iwan belakangan terakhir seputar diri itu apa aja bang?

I: Waduh ternyata semesta itu ada dalam diri. Sesibuk-sibuk diri melihat ke luar, ternyata di dalam juga banyak yang tidak terlihat. Seperti tentang aroma tanah, meskipun saya mencium bau hujan tapi akhirnya ke dalam juga, bahwa saya butuh itu. Setengah jam dari sini, saya ada tempat kecil lah di Jonggol. Saya cerita tentang kolam kecil di situ, saya mulai tanami tanah yang tadinya tandus sekarang burung mulai datang. Lagu yang lain seperti Bunga Kayu itu kekhawatiran saya tentang anak saya, sebagai orang tua. Apalagi saat itu lagi jamannya reformasi. Saya kan nggak berdaya juga, boleh jadi nama Iwan Fals tapi kan dibalik tembok saya nggak tahu. Sebagai orang tua biasa pasti bertanya kapan anak gua pulang ya? Ada lagi soal penghibur hati. Ini kan omongan lama soal jodoh, mati, rezeki itu kan cerita dari bayi tapi kok jadi bermakna hari ini, dan lain-lainnya.

Semesta itu ada dalam diri. Sesibuk-sibuk diri melihat ke luar, ternyata di dalam juga banyak yang tidak terlihat.

M: Setiap orang punya interpretasi seni yang berbeda, tapi interpretasi saya terhadap lagu ini bahwa hidup itu tidak kekal.

I: Tapi kan menuju ke situnya ini yang menarik.

M: Menarik bagaimana?

I: Menarik karena itu hal yang sudah pasti, yang nggak pasti kan sekarang ini. Bahkan ramalan cuaca pun bisa salah. Bagaimana di situasi yang penuh ketidak pastian ini kita bisa tetap menjadi diri kita yang, ya manusia biasa dan harus bersyukur. Seperti ajaran-ajaran leluhur, baru kita bisa menikmati perjalanan ke hal yang pasti. Sayang sekali toh itu sudah pasti belum tentu juga masuk surga, sudah gitu hidupnya mengeluh terus. Sudah jatuh tertimpa tangga. 

M: Orang suka bilang bersyukur itu gampang ngomongnya, gimana tuh bang?

I: Ya itu biasalah terutama remaja. Penuh rasa ingin tahu, pasti sebagian dari orang tua juga ada yang begitu. Kadang saya kalau lihat orang-orang di Masjid suka berpikir kok mereka bisa sabar banget nunggu Isya, masih dzikir pasti ada kenikmatan di situ. Kadang saya suka merenung bukan hanya yang di luar saja yang membuat nikmat tapi juga yang di dalam. Nah, orang tua yang di Mushola itu pasti urusannya dengan dalam. Pun Aku ini penggalan cerita saya dari waktu ke waktu. Saya nggak berani keluar dari diri saya, jadilah pun aku.

M: Kalau Patah itu penggalan hidupmu yang mana?

I: Jadi itu bahwa ada kesepakatan sosial yang harus saya penuhi, dan aku menerima itu dengan ikhlas. Cikal bilang “Pah, perlu lagu tentang cinta,” aku bilang oke kita bikin ini dan mudah-mudahan itu masuk akan buatku dan aku bisa mengolahnya dengan sewajarnya. 

M: Apa yang dibayangkan saat itu. Saat menyanyikan Patah, apa yang dibayangkan?

I: Ya, manusia kan nggak bisa hidup sendiri, tergantung sama orang lain. Kita tidak punya hak untuk tidak merasa patah. Patah juga bukan suatu hal yang hina. Toh, bisa sembuh lagi. Aku melihat kenangan memang tak mudah untuk dilupakan, ya sudah itu kan bagian dari kenyataan. Kehilangan itu juga suatu kenyataan. Itu yang terjadi dan kadang kita bingung harus apa, merasa bodoh, dan itu manusiawi, ya memang begitu manusia. Saya berusaha untuk masuk ke situ. Ini menjadi tantangan juga soal bagaimana saya latihan dan menghayati. Kalau lagu yang saya bikin sendiri tidak ada masalah, bagaimana saya benar-benar ikhlas menghayati lagu itu. Kita bisa bingung dan nggak tahu harus apa, ya kenyataan kan memang begitu. 

Aku melihat kenangan memang tak mudah untuk dilupakan. Ya sudah, itu kan bagian dari kenyataan. Kehilangan itu juga suatu kenyataan. Itu yang terjadi dan kadang kita bingung harus apa, merasa bodoh, dan itu manusiawi. Ya memang begitu manusia.

M: Saat aku mendengarkan Patah, ini tentang kehilangan sosok yang sangat dicinta. Menurut  Bang Iwan cinta sejati itu ada atau nggak?

I: Hmm.. ya itu dijawab di lagu “Kata Siapa Cinta Itu Menyakitkan” itu bertolak belakang dengan Patah tapi itu biasa. Pandangan filsuf kan juga macam-macam. Saya pernah jawab juga pertanyaan ini, sulit sebenarnya kayak gaib. Ya, Tuhan lah yang Maha Segalanya, bentuk lain dari Tuhan. Dalam suatu pernikahan kan ada perjanjian, itu kan aturan ya. Ya, itu cinta. Makanya sampai sekarang nggak habis kalau ngomongin cinta.  

Patah juga bukan suatu hal yang hina. Toh, bisa sembuh lagi.

Bahkan, tapi saya bukan bermaksud ini, membunuh pun atas dasar cinta. Umpamanya saat perang zaman dulu, perang agama itu semua kan atas nama cinta. Ada saya lagu cinta, ‘orang bicara cinta atas nama Tuhannya, membunuh berdasarkan keyakinan mereka’. Bukan berarti atas nama cinta lantas membunuh, yang jelas salah, lah. Tapi ada yang begitu, atas nama cinta.

M: Tapi apakah itu cinta sejati, Bang?

I: Kalau pendek ceritanya, yang baik-baik aja lah cinta sejati. Yang menghargai etika, estetika, akal sehat. Banyak kepala nih, Mbak, kalau nggak ada kesepakatan yang bagus kan repot juga.

M:  Album ini sepertinya, buat saya, lho, Bang, sangat filosofis. Lagi seneng baca buku apa sih Nang?

IF: Dulu seneng saya baca buku, hampir seluruh hidup saya, saya habiskan di buku. Sekarang sudah nggak bisa saya baca buku-buku panjang. Sekarang paling di Twitter aja. Apalagi pikiran orang kan banyak ya, lantas saya bilang ‘kapan pikiran gue, ya?” makanya Pun Aku. Tapi cerita Kinari ini mulai saya baca buku, kan sederhana seru gitu. Belakangan ini bukan baca buku saya malah mendengar podcast. Kadang saya dengan Buya Syakur, Gus Baha, kadang Ngaji Filsafat, kadang saya juga dengar Rocky Gerung, Benang Merah Rara Sekar sama Ben. Saya senang dengar orang ngomong, sambil lari. Kadang nggak masuk juga tapi merasa ditemenin aja. Teman diam, teman dalam diam.

M: Terakhir kali dengerin podcastnya siapa? Dan apa yang didapat dari situ?

IF: Buya Syakur, tapi tentang Islam ya. Al-Qur’an ya harus dibaca banyak orang, jadi jangan larang orang baca Al-Qur’an. Seingat saya dia bilang, ada orang yang nggak seiman mau baca Al-Qur’an, ada yang bilang nggak boleh. Lah, gimana nanti orang mengerti Al-Qur’an kalau nggak dibaca, jadi harus dibaca. Bukan hanya dibaca tapi dengan akal juga dia bilang. Itu aja, nanti jamaahnya ketawa. Ada juga Guruji, saya jadi tenang perasaan. Gus Baha juga kadang- kadang pake Bahasa Jawa kan, padahal saya juga kurang ngerti tapi beberapa bisa nangkep, menenangkan. Fachrudin (Ngaji Filsafat) itu juga menenangkan. Tapi terlalu tenang juga kadang nyebelin, perlu ada naik turunnya. Kadang saya dengerin podcast anak-anak muda, seru juga itu. Kata Tempo juga aku dengerin, ngomongin politik.

M: Masih ngikutin berita politik, Bang?

I: Ya ngikutin tapi nyebelin, ya. Udah ketebak, paling itu lagi. Apalagi sekarang (pemilu) masih 2024 orang udah sibuk dari sekarang mikirnya. Jadi ya mohon maaf, norak gitu. Gimana sih orang mau belajar dari orang-orang ini. Kerja dulu lah, kita juga ngerti. Kasih alternatif yang baru gitu biar seger. Kalau ngomongin kehancuran ya pasti akan hancur lah jadi ngapain lagi, bicara kehidupan aja lah. Saya berusaha untuk optimis. Bumi makmur kan semua makmur juga, kalau bumi mati, punya duit juga percuma.

Saya berusaha untuk optimis. Bumi makmur kan semua makmur juga, kalau bumi mati, punya duit juga percuma.

M: Aku suka banget loh Bang Iwan banyak melibatkan musisi muda dalam lagu Kabar Aroma Tanah.

I: Iya dan mereka bagus banget. Aku tuh hiburanku kalau pergi sama keluarga kan selalu nunggu aku paling seneng kalau dengerin anak-anak muda pada ketawa, rasanya seneng banget. Itu sudah cukup menghibur, apalagi anak-anak kecil. Tapi karena pandemi ya kita jarang keluar.

M: Aku mau tanya album “Pun Aku” ini kan banyak berkolaborasi dengan generasi muda, penerus di masa depan. Bermusik itu dulu dan sekarang berbeda atau sama?

I: Satu itu bukan penerus lah, mereka jadi diri sendiri. Becandaan saya dengan teman di musik itu nggak ada junior senior, yang ada a minor, d minor, c minor. Dari dulu sampai sekarang tetap saja do re mi fa sol la si do. 

M: Prosesnya? 

I: Yang beda paling industrinya kali ya. Dulu kan belum ada internet. Orang untuk ngasih lagu ke perusahaan rekaman butuh waktu yang lama untuk sampai ke masyarakat. Saya dulu di Saharjo rekamannya di Perdatam. Sekarang kan di rumah aja bisa, rebahan aja bisa bikin musik. Pernyataan sama aja sih, cinta, kemarahan, kesedihan, kegembiraan kan sama. Alat kan hanya untuk menyampaikan ekspresi itu kan, terus penggabungan itu kan kreativitas. Di handphone bahkan ada instrumen keyboard, gitar, dan lain-lain. 

M: Kalau nulis lagu gimana?

I: Kalau saya dulu di buku, saya rekam pakai walkman atau pita (rekaman) itu. Saya rekam. Kalau sekarang nulis di handphone, rekam di handphone. Kalau mau lebih serius nulis di laptop, rekam di laptop. Tinggal nanti panggil pemain (musik) siapa atau mau ngisi sendiri. Jadi lebih banyak kemudahan, tapi banyak juga kebingungan karena harus memilih. Ini yang menjadi persoalan, saya nggak terlalu bingung karena sudah ngalamin perjalanan, tapi teman-teman yang baru pasti bingung. Karena semuanya bagus.

M: Teknologi ini kan bisa bermata dua, ya. Tapi di saat yang sama musik sekarang itu bermunculan, istilahnya overproduce, terlalu rame banyak instrumennya sehingga musik itu tidak lagi terasa lebih ke jedag-jedug. Bagaimana mereka menjaga keotentikan bermusik di tengah gempuran teknologi?

IF: Ya, kalau kata gempuran sendiri kan udah serem ya, gimana mau bermusik?. Tapi ini dua hal yang berbeda antara rasa dan kemudahan. Alat tidak ada hubungannya dengan rasa. Kadang kalau hanya ingin menyampaikan rasa vokal saja sudah cukup, dengan kita di handphone nyanyi, asal tulus pasti akan sampai. Yang jadi masalah kan banyak instrumen sehingga ada istilah tergempur, tapi kembali lagi pada pelakunya. Kamu jujur nggak? Kalau jujur kamu suka, ya pasti bagus. Kalau tergempur dan paksain pasti nggak bagus, kalau kamu jujur dalam kebisingan itu seperti orang berselancar mungkin kebisingan itu jadi kejernihan, jadi suatu kebutuhan. 

Saya kemarin nonton film tentang semacam (Indonesian) idol tapi hip-hop kan itu bising ya? Tapi luar biasa, bukan sekedar penyajiannya tapi kejujuran dari penyanyinya saya bisa nangis juga nonton itu. Dia ngomong tentang kakaknya yang tertembak, kena narkoba, dan segala macam. Dari latar belakang daerah dia tinggal, dan indah banget padahal bising. Karena di film itu jelas terlihat orang ini jujur mengungkapkan lewat syair juga mengekspresikan. Balik lagi ke agama yang saya yakini, yang dari hati akan sampai ke hati. Saya dengar kata ini dari Rhoma Irama. Jadi kalau jujur menyampaikan rasa, aku pikir kebisingan itu nggak ada. Itu cuma alat yang dibuat manusia untuk mempermudah mengungkapkan isi perasaan, tinggal bagaimana menyikapinya.

M: Berarti bicara tentang jujur, aku ingat dua minggu lalu ada “inovasi” dari dunia musik. Ada satu komposisi dari Beethoven, yang tidak selesai. Akhirnya komposisi yang ditinggalkan ini diselesaikan dengan kecerdasan buatan. Menurut Bang Iwan, apakah kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) ini bisa menggantikan kecerdasan manusia dalam menciptakan musik?

I: Kalau ego ku ya mungkin, nggak bisa!. Tapi kalau kenyataan, itu catur manusia sulit lho mengalahkan catur komputer. Bahkan juara dunia catur nggak bisa mengalahkan catur komputer, berartikan bisa dong kecerdasan buatan mengalahkan manusia.

M: Itu kan catur, kalau musik?

I: Catur akal ya?. Sebagai teman untuk masuk ke rasa yang sesungguhnya mungkin bisa ya, tapi kalau dia sendirian pergi ke situ, saya agak ragu juga, ya. Karena membosankan juga kalau kita dengar suara (AI), lain ya kalau kita dengar suara air, angin, atau burung bernyanyi, anak-anak main hujan, seru banget. Apakah teknologi bisa sampai ke situ? Saya nggak yakin. Tapi saya nggak ngerti, saya nggak tahu! Tapi rasanya sulit, ya. 

M: Setiap orang pasti memaknai hidup berbeda-beda. Buat Bang Iwan pribadi, apa pelajaran hidup terdalam bagi Bang Iwan sejauh ini?

I: Itu perjuangan untuk bersyukur, perjuangan untuk alhamdulillah. Hal itu (meninggal) sudah pasti, soal ke mana nanti kita, yang belum pasti kan prosesnya ini. Satu sisi kita nggak boleh mengeluh, bahwa saya harus berjuang untuk bersyukur, walaupun ada tekanan untuk berjuang. Kita juga punya penilaian standar baik, buruk. Bahwa energi negatif itu kan berdampak nggak baik ya, kalau buat diri sendiri sih yaudah lah ya tapi kalau buat lingkungan kan serem juga. Jangan sampai kekesalan kita membuat orang lain rugi, padahal kekesalan ada di kita. Butuh kesadaran bahwa ayo kita isi perjalanan itu dengan gembira. Semua orang nggak sama, ini shiratal mustaqim, perjalanan yang tipis sekali untuk mencapai ke situ. Kita harus jadi diri sendiri, kita nggak boleh kehilangan kegembiraan, kewaspadaan. Tapi juga harus menjaga nilai-nilai yang orang tua kita kasih, agama kita ajarkan, dan negara bikin. Kita harus merdeka dalam arti sejati. Alhamdulillah saya dikasih kesempatan untuk bermusik, yang mungkin kecerdasan buatan nggak bisa jawab. Menghayati hidup yang sudah diberi, nggak semua orang bisa hidup. 

Kita harus jadi diri sendiri, kita nggak boleh kehilangan kegembiraan, kewaspadaan. Tapi juga harus menjaga nilai-nilai yang orang tua kita kasih, agama kita ajarkan, dan negara bikin. Kita harus merdeka dalam arti sejati. Menghayati hidup yang sudah diberi, nggak semua orang bisa hidup. 

Mulai saja dari hal-hal yang kita mampu, kan bising nih. Nikmati prosesnya pasti akan hadir kebersyukuran itu. Kalau kita belajar dan ngerti pas ujian kan gampang kita. Kaya raya itu batinnya kaya, hatinya kaya. Dampak dari pekerjaan yang ditekuni secara ikhlas. 

M: Kalau ini diteruskan kita bisa semalaman suntuk, bang. Memang hidup itu isinya obrolan ngalor-ngidul.

IF: Ya, PBB harus dengerin ini, hahaha.

M: Oke, Bang Iwan. Terima kasih banyak untuk waktunya ngobrol-ngobrol. Senang sekali, sehat selalu lho. Karena sehat adalah bagian dari kebahagiaan.

Related Articles

Card image
Self
Perbedaan dalam Kecantikan

Perempuan dan kecantikan adalah dua hal yang tidak akan pernah terpisahkan. Cantik kini bisa ditafsirkan dengan beragam cara, setiap orang bebas memiliki makna cantik yang berbeda-beda sesuai dengan hatinya. Berbeda justru jadi kekuatan terbesar kecantikan khas Indonesia yang seharusnya kita rayakan bersama.

By Greatmind x BeautyFest Asia 2024
01 June 2024
Card image
Self
Usaha Menciptakan Ruang Dengar Tanpa Batas

Aku terlahir dalam kondisi daun telinga kanan yang tidak sempurna. Semenjak aku tahu bahwa kelainan itu dinamai Microtia, aku tergerak untuk memberi penghiburan untuk orang-orang yang punya kasus lebih berat daripada aku, yaitu komunitas tuli. Hal ini aku lakukan berbarengan dengan niatku untuk membuat proyek sosial belalui bernyanyi di tahun ini.

By Idgitaf
19 May 2024
Card image
Self
Perjalanan Pendewasaan Melalui Musik

Menjalani pekerjaan yang berawal dari hobi memang bisa saja menantang. Menurutku, musik adalah salah satu medium yang mengajarkanku untuk menjadi lebih dewasa. Terutama, dari kompetisi aku belajar untuk mencari jalan keluar baru saat menemukan tantangan dalam hidup. Kecewa mungkin saja kita temui, tetapi selalu ada opsi jalan keluar kalau kita benar-benar berusaha berpikir dengan lebih jernih.

By Atya Faudina
11 May 2024