Self Food For Thought

Food For Thought: Kisah Cinta dan Warna Hidup

Jatuh cinta. Banyak yang bilang ini adalah salah satu alasan kenapa hidup terasa menyenangkan. Tapi tak jarang, ini juga yang menjadi alasan banyaknya masalah yang ada dalam pikiran. Melalui beberapa film ini kita bisa belajar beragam bentuk cinta dan makna kehadikannya bagi setiap fase di hidup kita.

Jatuh Cinta Seperti di Film-Film

Bercerita tentang dua orang kawan lama yang akhirnya bertemu kembali dengan keadaan yang berbeda. Bagus, tokoh utama di cerita ini, adalah seorang penulis naskah film yang sedang menulis karya original pertamanya. Kemudian ia bertemu dengan Hana, seorang perempuan yang sedang berduka karena kehilangan suaminya. Lantas Bagus diam-diam ingin mengungkapkan rasa cintanya melalui karya film yang ia tulis.

Judul film yang satu ini mungkin sudah tidak asing lagi, terutama bagi teman-teman penikmat film Indonesia. Hadir dengan visual gambar yang mayoritas hitam-putih, film ini tidak hanya memberikan cerita yang menarik tetapi juga pengalaman menonton yang berkesan. Berkisah tentang cinta dan proses berduka, kita bisa melihat bagaimana cara orang dewasa jatuh cinta. Sebuah hubungan yang tidak terlalu menggebu-gebu, tapi tetap manis dan menarik untuk disimak.

Cara film ini menceritakan proses seseorang yang sedang menghadapi fase berduka juga sangat realistis. Bahwa, saat seseorang berduka, tak selalu berarti dirinya tidak melanjutkan hidup dan beraktivitas. Seperti manusia pada umumnya, saat seseorang berduka ia terkadang tidak punya pilihan lain untuk terus melanjutkan hidup. Karena pada akhirnya hidup akan terus berjalan, kita yang harus berproses dan berupaya untuk bisa menyesuaikan diri dengan realita yang ada. Move on juga tidak sama dengan melupakan, tapi kembali bersedia menjalani hidup dengan cerita yang baru. Kalau kamu masih berkesempatan menonton “Jatuh Cinta Seperti di Film-Film” di bioskop, sebaiknya luangkan waktumu sejenak karena ini tidak hanya tentang cerita yang disuguhkan, karena setiap detail yang ada mungkin bisa membuatmu jatuh cinta pada dunia film.

Saat seseorang berduka ia terkadang tidak punya pilihan lain untuk terus melanjutkan hidup. Karena pada akhirnya hidup akan terus berjalan, kita yang harus berproses dan berupaya untuk bisa menyesuaikan diri dengan realita yang ada.

Tune In For Love

Film yang telah dirilis hampir empat tahun lalu adalah salah satu film yang turut meramaikan cerita dengan latar tahun 1990-an. Becerita tentang Kim Misoo yang mengelola toko kue warisan orang tuanya bersama sang kakak. Ia kemudian bertemu dengan Hyun Woo. Kesamaan nasib dan kisah hidup membuat mereka kemudian akrab dan terus bertemu satu sama lain.

Film “Tune In For Love” menggambarkan dengan apik bahwa waktu dan keadaan memiliki peran penting dalam menjalani hubungan dengan seseorang. Jatuh cinta memang tidak salah tapi sayangnya kadang ia hadir di waktu yang salah. Kamu akan disuguhkan kisah cinta yang penuh dinamika, ketika dua orang yang jatuh hati harus berjuang dengan keadaan di setiap masa dan fase yang mereka temui.

Jatuh cinta memang tidak salah tapi sayangnya kadang ia hadir di waktu yang salah.

Tidak banyak dialog luar biasa, tapi cerita dalam film ini bisa disampaikan dengan baik melalui gambar dan ekspresi setiap pemain. Kalau kamu butuh tontonan yang ringan sekaligus menghangatkan hati, ini bisa jadi salah satu pilihan yang tepat.

Third World Romance

Sebuah film romansa dari Filipina ini seakan membawa angin segar bagi kisah-kisah romantis yang terkadang terasa terlalu mustahil untuk dialami. Seperti judulnya, film ini bercerita tentang hubungan romansa dari sepasang individu dari negara dunia ketiga. Britney diceritakan sebagai seorang perempuan yang kehilangan pekerjaan di tengah pandemi, selain karena keadaan ia juga terpaksa berhenti karena idealismenya terhadap hak bagi para pekerja. Di sisi lain, Alvin adalah seorang laki-laki yang bekerja dengan sepenuh hati, ia cenderung lebih lapang dada dalam melakukan pekerjaan. Dua orang tokoh ini kemudian bertemu dan mulai saling jatuh hati.

Mengambil latar waktu saat pandemi terjadi di berbagai belahan dunia, film ini bisa menggambarkan dengan cukup akurat bagaimana kesulitan yang banyak orang rasakan, terutama dalam aspek ekonomi. Tanpa busana atau mobil yang mewah, film “Third World Romance” berhasil menggambarkan bagaimana bentuk cinta yang diperlukan setiap orang bisa berbeda-beda. Bahwa ternyata cinta bisa ditunjukkan dengan cara selalu hadir dan bersedia mencari jalan keluar untuk kesulitan yang dihadapi satu sama lain.

Ternyata cinta bisa ditunjukkan dengan cara selalu hadir dan bersedia mencari jalan keluar untuk kesulitan yang dihadapi satu sama lain.

Ketika kamu menonton film “Third World Romance”, ada banyak kegelisahan yang mungkin terasa lebih relate. Tentang hubungan professional dalam dunia kerja, tuntutan finansial di dunia saat ini, hingga cara sederhana untuk menghabiskan waktu bersama pasangan.

Related Articles

Card image
Self
Usaha Menciptakan Ruang Dengar Tanpa Batas

Aku terlahir dalam kondisi daun telinga kanan yang tidak sempurna. Semenjak aku tahu bahwa kelainan itu dinamai Microtia, aku tergerak untuk memberi penghiburan untuk orang-orang yang punya kasus lebih berat daripada aku, yaitu komunitas tuli. Hal ini aku lakukan berbarengan dengan niatku untuk membuat proyek sosial belalui bernyanyi di tahun ini.

By Idgitaf
19 May 2024
Card image
Self
Perjalanan Pendewasaan Melalui Musik

Menjalani pekerjaan yang berawal dari hobi memang bisa saja menantang. Menurutku, musik adalah salah satu medium yang mengajarkanku untuk menjadi lebih dewasa. Terutama, dari kompetisi aku belajar untuk mencari jalan keluar baru saat menemukan tantangan dalam hidup. Kecewa mungkin saja kita temui, tetapi selalu ada opsi jalan keluar kalau kita benar-benar berusaha berpikir dengan lebih jernih.

By Atya Faudina
11 May 2024
Card image
Self
Melihat Dunia Seni dari Lensa Kamera

Berawal dari sebuah hobi, akhirnya fotografi menjadi salah satu jalan karir saya hingga hari ini. Di tahun 1997 saya pernah bekerja di majalah Foto Media, sayang sekali sekarang majalah tersebut sudah berhenti terbit. Setelahnya saya juga masih bekerja di bidang fotografi, termasuk bekerja sebagai tukang cuci cetak foto hitam putih. Sampai akhirnya mulai motret sendiri sampai sekarang.

By Davy Linggar
04 May 2024