Self Work & Money

Hidup Untuk Hari Ini

Sun Wahyu

@soonsunsoon

Pengusaha Kuliner

Fotografi Oleh: Sun Wahyu

Selama masih berada di dunia, merasa takut gagal adalah hal yang wajar. Namun gagal sebenarnya hanyalah sebuah perspektif. Tidak ada seorang pun yang sebenarnya layak diberikan label gagal. Latar belakang saya bukan dari industri kuliner. Saya tidak pernah belajar secara khusus tentang bagaimana mengaduk adonan, memanggang, hingga menghiasnya. Tapi kemudian saya terus mempelajarinya tekniknya, banyak membaca, dan mencoba resep. Kadang gagal membuat resep. Wajar. Tapi saya tidak menghentikan langkah karena masa depan tidak ada yang tahu. Seberapapun kita merasa takut jangan pernah membiarkan rasa takut itu menelan kita bulat-bulat. Akan terasa percuma jika kita terus membiarkan rasa takut itu terpelihara dalam benak. Worrying about the future doesn’t do anything. Berikan yang terbaik saja setiap harinya. Itulah yang terpenting.

Seberapapun kita merasa takut jangan pernah membiarkan rasa takut itu menelan kita bulat-bulat.

Beruntungnya sejak kecil orangtua saya pun membesarkan tanpa ketetapan tertentu sehingga saya dibebaskan untuk menjadi apa saja yang diinginkan. Mereka membebaskan saya untuk mengalami berbagai emosi yang timbul dari setiap keputusan yang saya buat. Sehingga rasa takut itu pun tidak terkungkung di dalam diri, namun diimbangi dengan motivasi yang kuat untuk mencoba lagi. Begitu pula ketika saya akhirnya memutuskan untuk menyudahi karier sebagai desainer grafis. Saya sempat merasa terjebak di dalam industri tersebut. Merasa bahwa menjadi seorang desainer grafis tidak akan membawa saya ke mana-mana. Ada rasa takut tentunya karena belum memiliki bayangan akan menjadi apa setelah itu. Namun karena terbiasa untuk menentukan pilihan dan keputusan, saya jadi lebih berani mengambil risiko. Sebelum akhirnya menjatuhkan keputusan untuk menghidupi bisnis kuliner saya pernah menjajal di dunia keramik. Kala berhenti menjadi desainer grafis, saya mulai menyadari ketertarikan saya pada proses pembuatan produk. Lalu mencoba menekuni media keramik, saya kemudian kembali menemukan jalan buntu karena sulitnya mengontrol proses pembuatan keramik, sedangkan saya memiliki kecenderungan menyukai situasi yang bisa dikendalikan. Walau dalam proses pembelajaran keramik, saya belajar tentang adanya hal yang di luar kontrol kita, dan itu adalah hal yang wajar.

Sejak kecil, orangtua membebaskan saya untuk mengalami berbagai emosi yang timbul dari setiap keputusan yang saya buat. Sehingga rasa takut itu pun tidak terkungkung di dalam diri, namun diimbangi dengan motivasi yang kuat untuk mencoba lagi.

Eksplorasi diri saya setelah itu diawali dari keisengan membuat sebuah tampilan situs. Dulu saat menjadi desainer grafis kebetulan sering membuat proyek tersebut dan mulailah saya membayangkan situs apa yang ingin dibuat. Saya berpikir kalau memiliki toko kue akan seperti apa tampilan situsnya. Dari mengembangkan situs tersebut saya pun seakan mengingat kebiasaan waktu kecil yang suka membantu ibu membuat kue. Lagi-lagi karena coba-coba, saya pun berkutat di dapur membuat kue. Semakin sering mencoba membuat satu resep, saya penasaran untuk membuat yang lain.Secara tidak sadar proses dari memikirkan ide sebuah kue mulai dari namanya, imajinasi tampilannya, hingga proses meracik, memanggang dan menghias mengingatkan saya akan proses seperti di laboratorium kimia. Ya, ketika sekolah dulu saya menikmati mata pelajaran kimia dan proses perubahan wujud dari studi itulah yang secara tidak langsung menumbuhkan minat saya pada proses pembuatan kue. Dari wujud tidak nyata (ide, inspirasi) berubah menjadi sebuah resep, menggabungkan elemen-elemen bahan dan menjadi sebuah kue, ketertarikan pada proses inilah yang akhirnya membuat saya berani menekuni bisnis kue ini.

Kian hari saya menyadari alasan mengapa dulu saya merasa kurang menikmati bekerja menjadi desainer grafis. Ternyata saya adalah seseorang yang suka sesuatu yang dinamis. Ketika berkecimpung di dapur semuanya itu saya dapatkan. Membuat sesuatu dari nol sampai berbentuk indah sungguh memuaskan hati. Sejujurnya Surely Someday Kitchen, bisnis kue online yang saya jalani sekarang juga bukan hanya sekadar bisnis. Saya memandangnya seperti proyek pribadi yang penuh dengan eksplorasi diri. Bisnis ini menyadarkan saya tentang banyak hal terutama tentang diri saya sendiri. Saya belajar tentang apa yang saya inginkan dalam hidup dan ternyata saya ingin berkarya di mana karya itu berasal dari hal-hal yang dekat dari dalam diri. Contohnya salah satu nama kue yang saya ambil dari nama lukisan. Sejak melihat lukisan bertajuk August Blue saya mulai membayangkan kira-kira seperti apa tampilan kue dengan nama tersebut, kira-kira kandungan apa saja yang ada di dalamnya, serta rasanya apa. Saya berusaha menerjemahkan dari apa yang saya lihat, dengar, ke dalam bentuk kue. Jadi setiap kue yang dihasilkan biasanya berasal dari hal-hal sederhana. Sesederhana mendengar sebuah judul lagu atau sebuah lanskap pemandangan.

Karena terbiasa untuk menentukan pilihan dan keputusan, saya jadi lebih berani mengambil risiko.

Meskipun begitu, tentu yang namanya bisnis tetap punya gol dan harapan walau saya tidak dengan langkah agresif mencapainya. Tentu saya mensyukuri bisa mendapatkan penghasilan dari hal yang saya nikmati kerjakan, tetapi untuk saya pribadi ukuran sukses tidak melulu tentang profit, tetapi bagaimana diri kita berkembang seiring dengan berjalannya usaha. Membangun Surely Someday Kitchen nyatanya lebih bertujuan personal yaitu untuk membantu saya memahami diri saya lebih jauh lagi, memahami proses berkarya di mana mediumnya kebetulan adalah kue dan selalu jujur dengan diri sendiri. Juga menyadari bahwa proses berkarya saya juga tidak lepas dari peran kedua orang tua. Ayah saya yang dulu adalah penjual mobil antik dan akrab dengan barang-barang antik memengaruhi selera saya pada desain yang kemudian saya suntikan pada foto-foto kue. Tak berbeda dengan ibu saya yang jelas-jelas mengenalkan pada dunia kuliner. Dari resep-resep yang dulu kami buat bersama, saya meruncingkan tekniknya, menyempurnakan keahlian yang ibu bagikan pada saya. Nama Surely Someday pada akhirnya adalah tentang attitude untuk menjadi diri yang lebih baik lagi, hidup untuk sekarang. Apabila masih belum berhasil, tidak apa, mulai lagi dengan pengetahuan yang baru sampai akhirnya menjadi lebih baik selanjutnya.

Untuk saya pribadi ukuran sukses tidak melulu tentang profit, tetapi bagaimana diri kita berkembang seiring dengan berjalannya usaha.

Related Articles

Card image
Self
Lesson Learned: Depresi

Merasa sedih itu bagian dari hidup, tapi kalau sampai berlarut-larut dan menganggu aktivitas itu pertanda ada yang perlu dibenahi atau kamu perlu segera cari bantuan professional. Kita tidak bisa sepenuhnya mengontrol atau mengendalikan apa yang terjadi dan kita alami dalam hidup, tapi kita bisa mengendalikan cara kita memproses pengalaman tersebut. Tidak mudah tapi kita pasti bisa.

By Trisa Triandesa
31 July 2021
Card image
Self
Kesehatan Mental Harus Dibicarakan

Bicara tentang kesehatan mental, masih banyak sekali orang di masyarakat kita yang belum percaya bahwa seseorang bisa memiliki gangguan mental. Akhirnya, orang-orang yang mengalami hal tersebut enggan untuk menceritakan apa yang dirasakan dan memendamnya sendiri. Padahal ia sangat membutuhkan pertolongan untuk keluar dari kemelut benaknya. 

By Carissa Perruset
31 July 2021
Card image
Self
Yang Pergi dan Tak Terlupakan

Bagi kita kepergian orang yang dekat apalagi kita sayangi memang membawa derita dan luka mendalam. Apalagi orang tersebut begitu baik atau berjasa. Kenangan tentang mereka terkadang begitu indah tiada bercela. Tidak jarang proses berduka dialami dalam jangka waktu yang tidak singkat.

By Dr. Clara Moningka
31 July 2021