Self Lifehacks

Jangan Bunuh Rasa Bosan

Greatmind

@greatmind.id

Redaksi

Ilustrasi Oleh: Mutualist Creative

Saat ini kita hidup dalam era di mana hiburan berada di ujung jari kita. Dengan mudahnya kita bisa menghibur diri di waktu senggang dengan melihat-lihat foto kehidupan orang lain, kompilasi video kocak, hingga film blockbuster terbaru. Seakan tidak pernah ada ruang bagi kita untuk merasakan kebosanan karena selalu ada jalan keluarnya. Namun apa memang kita harus selalu membunuh rasa bosan yang melanda?

Manusia modern mengisi harinya dengan berbagai aktivitas. Seolah-olah memiliki waktu senggang merupakan sebuah dosa besar yang hanya dimiliki oleh “si pemalas”. Di antara aktivitas pun kita seringkali tidak mencoba beristirahat namun mengisinya dengan kegiatan-kegiatan lain seperti mengeksplorasi media sosial, mengecek email, dan lain sebagainya. Seringnya ketergantungan pada hiburan-hiburan ini membawa kita pada lubang hitam yang seakan tak ada ujungnya. Setiap halaman situs yang kita buka akan mengarah pada halaman-halaman lainnya, setiap komentar di Facebook akan berbalas komentar lainnya, dan begitu pula yang lainnya.

Meskipun terasa seperti aktivitas yang produktif, nyatanya membunuh kebosanan dengan cara begini malah menurunkan kemampuan mendasar kita sebagai manusia. Jika terus menerus kita terjebak dalam kebiasaan ini, bukan hal yang aneh jika nantinya manusia akan menjadi generasi yang tidak pernah merasa bosan – sama sekali!

Seolah-olah memiliki waktu senggang merupakan sebuah dosa besar yang hanya dimiliki oleh si pemalas

Jika kita kemudian berpikir bahwa menjadi manusia yang tidak pernah bosan adalah hal yang baik, coba pikirkan kembali. Dalam buku terbarunya berjudul Bored and Brilliant, penulis Manoush Zomorodi mengemukakan sebuah argumen menarik bahwa manusia dapat kehilangan momen penting yang berguna untuk kreativitas, refleksi, dan pengembangan diri jika kita tidak mengizinkan diri ini untuk dilanda rasa bosan. Karena sesungguhnya rasa bosan adalah sebuah stimulus bagi otak kita untuk dapat berpikir dan berimajinasi.

Secara biologis, otak manusia memiliki sebuah fase beristirahat yang oleh para peneliti disebut sebagai “default mode”. Ibaratnya, mode ini adalah waktu di saat screensaver muncul di layar komputer yang tetap bergerak meskipun sebenarnya tidak ada proses yang tengah terjadi di dalamnya. Pada  manusia, mode semacam itu berupa proses otak yang berjalan “autopilot” – mengembara sendiri kesana kemari, saat kita melakukan rutinitas.

Menurut Dr. Sandi Mann, dosen psikologi di University of Central Lancashire yang sekaligus peneliti tentang kebosanan, justru di saat rasa bosan melanda otak kita mampu mencapai potensi penuhnya. Asalkan kita tidak mengalihkan fokusnya dengan hal-hal yang seringnya kita anggap sebagai “pembunuh rasa bosan”.

Berdasarkan fakta-fakta tersebut, jadi sesungguhnya hal terbaik untuk dilakukan saat bosan bukanlah dengan mencari distraksi, namun membiarkan otak kita untuk berjalan dengan sendirinya. Sederhananya – melamun. Dengan melamun, kita membiarkan pikiran mengembara jauh hingga ke alam bawah sadar yang membuat otak mampu membangun dan memperkuat ide-ide abstrak yang jarang muncul saat kita berpikir secara logis seperti sehari-hari.

Rasa bosan adalah stimulus bagi otak untuk berpikir dan berimajinasi.

Related Articles

Card image
Self
Usaha Menciptakan Ruang Dengar Tanpa Batas

Aku terlahir dalam kondisi daun telinga kanan yang tidak sempurna. Semenjak aku tahu bahwa kelainan itu dinamai Microtia, aku tergerak untuk memberi penghiburan untuk orang-orang yang punya kasus lebih berat daripada aku, yaitu komunitas tuli. Hal ini aku lakukan berbarengan dengan niatku untuk membuat proyek sosial belalui bernyanyi di tahun ini.

By Idgitaf
19 May 2024
Card image
Self
Perjalanan Pendewasaan Melalui Musik

Menjalani pekerjaan yang berawal dari hobi memang bisa saja menantang. Menurutku, musik adalah salah satu medium yang mengajarkanku untuk menjadi lebih dewasa. Terutama, dari kompetisi aku belajar untuk mencari jalan keluar baru saat menemukan tantangan dalam hidup. Kecewa mungkin saja kita temui, tetapi selalu ada opsi jalan keluar kalau kita benar-benar berusaha berpikir dengan lebih jernih.

By Atya Faudina
11 May 2024
Card image
Self
Melihat Dunia Seni dari Lensa Kamera

Berawal dari sebuah hobi, akhirnya fotografi menjadi salah satu jalan karir saya hingga hari ini. Di tahun 1997 saya pernah bekerja di majalah Foto Media, sayang sekali sekarang majalah tersebut sudah berhenti terbit. Setelahnya saya juga masih bekerja di bidang fotografi, termasuk bekerja sebagai tukang cuci cetak foto hitam putih. Sampai akhirnya mulai motret sendiri sampai sekarang.

By Davy Linggar
04 May 2024