Self Work & Money

Jangan Lupa Bersenang-Senang

Merasa tidak sih kalau kita ini punya kecenderungan menjadi seorang masokis? Ya, seseorang yang suka sekali menderita. Seakan apa yang kita lakukan harus sampai bersimbah darah baru bisa puas. Harus kerja lembur 24 jam agar bisa mencapai hasil maksimal. Harus melewati akhir pekan di depan laptop tanpa henti demi menepati jadwal deadline. Di pikiran kita berhasil itu adalah kerja keras. Apapun caranya, bagaimanapun caranya. Bekerja keras memang perlu untuk menjadi orang yang berhasil. Tapi terkadang kita tidak sadar banyak yang kita korbankan untuk sampai ke sana. Bahkan kita melupakan faktor bersenang-senang di dalamnya. Akhirnya ketika proses kerja keras kerap kali kita komplain, mengeluh, marah-marah. Mengorbankan suasana hati yang baik setiap hari demi mencapai sukses dengan kerja keras itu. Coba kita tanyakan kembali deh memang harus sampai begitu untuk mendapatkan apa yang kita mau?

Bekerja keras memang perlu untuk menjadi orang yang berhasil. Tapi terkadang kita tidak sadar banyak yang kita korbankan untuk sampai ke sana.

Kecenderungan menjadi seorang masokis tadi sering kali membuat kita merasa bersalah jika kita bersenang-senang. Misalnya saja sebenarnya kita bisa tidak mengerjakan sebuah tugas karena tenggat waktu yang masih cukup panjang. Dan kita sebenarnya bisa meluangkan waktu untuk bermain video game kesukaan. Tapi karena perasaan bersalah itu kita membatalkannya dan justru mulai mengerjakan pekerjaan. Seakan tidak memberikan toleransi sedikit pun pada diri sendiri demi mencapai keberhasilan yang ideal menurut kita yaitu bekerja keras tanpa henti, tanpa istirahat, tanpa bermain-main. Sebab pemikiran kerja keras harus menderita itu juga kita sampai-sampai mengabaikan berbagai faktor negatif di kantor yang membuat suasana tidak nyaman. Politik di kantor, bos galak, teman kerja tukang gosip, semua itu kita tolerir. Seringnya kita berpikir bahwa kalau bisa melewati itu semua berarti kita dapat menjadi seseorang yang lebih kuat nantinya. Memang benar demikian?

Berbagai studi dan penelitian membuktikan bahwa untuk mencapai produktivitas yang maksimal kita harus bersenang-senang dalam bekerja. Jangan salah ya, maksudnya bukan sampai lalai mengerjakan tugas. Tapi mengerjakannya dengan pikiran tenang, suasana hati yang riang gembira. Salah satunya adalah dengan meluangkan waktu untuk bersenang-senang dan mendapatkan suasana lingkungan yang juga menyenangkan untuk mendorong semangat bekerja. Contoh sederhana ketika bekerja kita mendengarkan musik yang kita suka. Lalu sambil bekerja kita ikut bersenandung atau bahkan menggoyangkan badan. Ini hal simpel yang bisa membuat pikiran kita tidak stres saat fokus pada suatu pekerjaan dan justru sel-sel otaknya bisa berpikir lebih jernih. Jadi pekerjaan itu tidak seperti obat pahit yang terpaksa harus diminum tapi seperti es krim yang ingin kita habiskan.

Untuk mencapai produktivitas yang maksimal kita harus bersenang-senang dalam bekerja.

Begitu pula dengan rekan kerja dan bos yang menyenangkan. Datang ke kantor tidak lagi dengan berat hati tapi justru dengan amat suka rela. Itulah mengapa penting sekali untuk bisa meningkatkan ikatan hubungan sosial dengan mereka. Bukan untuk menjilat ya melainkan untuk membuat suasana kantor lebih ramah tidak seperti berada di tempat asing. Bermain badminton bersama seusai kerja, misalnya, bisa meningkatkan unsur solidaritas di antara kita dan rekan kerja. Tidak perlu benar-benar membuatnya jadi sahabat atau membuat geng layaknya di sekolah. Cukup meningkatkan kedekatan saja dari sekadar tahu nama menjadi tahu hobinya apa. Inilah juga yang akan membuat produktivitas kita meningkat karena berpikir bisa lebih bekerja sama dengan orang yang terasa dekat dengan kita. Tambahkan juga humor dan guyonan selama bekerja. Jangan buat semuanya jadi terlalu serius. Ketika otak dalam frekuensi tegang kita akan lebih mudah berpikir negatif yang dapat membuat kita cepat lelah. 

Seperti juga yang dikatakan oleh Dale Carnegie, seorang penulis asal Amerika, “People rarely succeed unless they have fun in what they are doing.” Untuk mencapai misi dalam hidup kita memang tidak bisa hanya menggerakkan satu aspek saja dan melupakan aspek lainnya. Sebab semua aspek dalam hidup saling berkaitan. Bekerja, bersenang-senang, beristirahat, semua saling berkaitan satu sama lain dengan porsi yang seimbang. Kalau kita sudah bisa menemukan hal menyenangkan di pekerjaan, lakukanlah itu berkali-kali. Jagalah agar tidak hilang. Itulah kunci sukses kita nantinya. Namun satu hal lagi yang tidak kalah penting di antara semua faktor adalah menemukan pekerjaan yang kita cintai dulu. Kalau tidak mau seperti apapun upaya kita membuatnya menyenangkan kita tidak akan merasa puas. Tidak akan berhenti untuk merasa menderita sepanjang perjalanannya. 

Bekerja, bersenang-senang, beristirahat, semua saling berkaitan satu sama lain dengan porsi yang seimbang.

Related Articles

Card image
Self
Lesson Learned: Depresi

Merasa sedih itu bagian dari hidup, tapi kalau sampai berlarut-larut dan menganggu aktivitas itu pertanda ada yang perlu dibenahi atau kamu perlu segera cari bantuan professional. Kita tidak bisa sepenuhnya mengontrol atau mengendalikan apa yang terjadi dan kita alami dalam hidup, tapi kita bisa mengendalikan cara kita memproses pengalaman tersebut. Tidak mudah tapi kita pasti bisa.

By Trisa Triandesa
31 July 2021
Card image
Self
Kesehatan Mental Harus Dibicarakan

Bicara tentang kesehatan mental, masih banyak sekali orang di masyarakat kita yang belum percaya bahwa seseorang bisa memiliki gangguan mental. Akhirnya, orang-orang yang mengalami hal tersebut enggan untuk menceritakan apa yang dirasakan dan memendamnya sendiri. Padahal ia sangat membutuhkan pertolongan untuk keluar dari kemelut benaknya. 

By Carissa Perruset
31 July 2021
Card image
Self
Yang Pergi dan Tak Terlupakan

Bagi kita kepergian orang yang dekat apalagi kita sayangi memang membawa derita dan luka mendalam. Apalagi orang tersebut begitu baik atau berjasa. Kenangan tentang mereka terkadang begitu indah tiada bercela. Tidak jarang proses berduka dialami dalam jangka waktu yang tidak singkat.

By Dr. Clara Moningka
31 July 2021