Self Health & Wellness

Kehilangan Kenangan

Greatmind

@greatmind.id

Redaksi

Fotografi Oleh: Jon Tyson (Unsplash)

“Dari mana datangnya bekas luka ini, ya? Oh iya, kata Mama ini karena saya pernah terjatuh saat berumur tiga tahun. Tapi kenapa saya tidak ingat kejadiannya, ya?”

Pernah tidak suatu kali berpikir demikian? Mempertanyakan kejadian-kejadian di masa kecil yang sekarang tidak pernah lagi teringat? Kita hanya tahu saat orangtua menceritakannya. Ingatan-ingatan menyenangkan saat kita bermain dengan orangtua, ketika pertama kali berbicara, pertama kali berjalan, sama sekali tidak membekas di otak. Kenapa bisa begitu, ya? Apakah hanya semata-mata kita bukan pengingat yang baik? Atau memang ada suatu sistem di otak kita yang memaksa untuk melupakannya?

Selama bertahun-tahun para psikolog terbaik dunia pun mempertanyakan hal yang sama dan telah melakukan beragam penelitian soal memori kita yang hilang. Apakah benar-benar hilang atau hanya mengendap tapi kita tidak bisa mengingatnya saja? Nah, fenomena ini seringkali disebut “childhood amnesia” atau amnesia masa kecil. Banyak penelitian yang membuktikan bahwa setelah kita berumur tiga tahun kita tak lagi bisa mengingat memori di tahun-tahun sebelumnya. Sehingga membuat hidup kita berada dalam paradoks yang menunjukkan bahwa masa kecil membentuk karakter kita di saat dewasa karena menyerap begitu banyak hal tetapi justru di kala dewasa kita tidak bisa mengingat kejadian-kejadian penting yang membentuk diri tersebut.

Seorang ahli saraf asli Kanada pun mengungkapkan bahwa fase kita saat hendak menjadi pribadi yang dewasa memiliki satu syarat yaitu untuk menenggelamkan memori masa kecil kita. Sebenarnya teori tersebut mengalami rekonstruksi berkali-kali. Sigmund Freud, seorang filsuf yang menemukan teori psikoanalisis, berargumen bahwa peristiwa ini terjadi karena ketika kita berproses menjadi dewasa kita menekan pengalaman-pengalaman atau ingatan-ingatan yang berkaitan dengan munculnya hasrat seksual di kala kecil. Sehingga memori yang tercampur dalam memori tersebut pun ikut tenggelam. Hanya saja banyak psikolog lain memiliki teori berbeda mulai dari kesulitan otak anak untuk mempertahankan memori di masa kecil. Sehingga kala beranjak dewasa memori semakin menumpuk dan memori masa kecil semakin terlupakan. 

Semakin berganti era pun teori amnesia masa kecil ini semakin berkembang dan menunjukkan hasil yang lebih signifikan melalui beragam eksperimen. Jadi untuk dapat mengingat sebuah kejadian diperlukan bahasa yang kita komunikasikan ke dalam diri sendiri. Kita harus memiliki “kesadaran diri” dan kemampuan berbicara secara verbal baik dengan orang lain atau dengan diri sendiri. Inilah yang akan memperkuat kekuatan ingatan sebagai manusia. Semasa kecil, khususnya pada umur 0-3 tahun, kita masih berusaha meningkatkan dua kemampuan tersebut sehingga otak kita pun belum dapat terintegrasi dengan seluruh perangkat yang kita miliki dalam diri. Pesan-pesan yang diolah pun belum dapat terserap dalam waktu lama. Fokus kita pun saat di usia tersebut hanya pada beberapa hal tertentu saja yang berhubungan dengan kelima panca indera. Kita belum dapat mengolah perasaan yang dapat membungkus memori tertentu.

Lebih jauh lagi, memori tersebut mudah hilang karena tidak disejajarkan dengan pengalaman. Kita belum mengerti esensi dari mengalami sesuatu sehingga proses ingatan tersebut dapat mudah lepas dari sel-sel otak. Hanya beberapa pengalaman saja yang dapat tetap hidup di otak kita ketika kecil. Sebenarnya memori-memori tersebut tidak hilang tapi mengendap dan beberapa di antaranya terstrukturisasi atau tergantikan dengan memori baru yang kita punya. Memori tersebut pun sebenarnya bisa kembali meski samar. Salah satu caranya dengan menghubungkannya dengan asosiasi kata, kata yang berkaitan dengan masa kecil kita itu. Memori tersebut pun bisa kembali secara alami tanpa kita sadari saat tidak berusaha mengingatnya.

Seperti yang sudah diungkapkan sebelumnya soal bagaimana cara kita berpikir, bertindak atau bahkan memilih sesuatu itu berasal dari masa kecil. Misalnya saja waktu kita dewasa kita secara tidak sadar membangun rumah mirip seperti rumah kita di masa kecil. Atau hobi kita saat dewasa adalah memasak karena ketika kecil hampir setiap hari kita bermain masak-masakan. Atau kita suka sekali warna biru saat dewasa karena ornamen yang ada di kamar kita saat bayi adalah warna biru. Itu semua berasal dari masa kecil bukan? Meski kita tidak benar-benar bisa mengingat kembali keseluruhan memori di masa kecil, tapi memori tersebut sebenarnya masih ada bahkan jadi fondasi hidup kita. Bagaimana masa kecil kita terbentuk, perasaan sedih atau senang, apa yang kita lihat, dengar, rasakan, apa yang kita sering makan saat kecil dapat kembali di umur kita yang tidak tergolong anak-anak lagi. Secara tidak langsung versi dewasa kita sebenarnya banyak belajar dari versi anak-anak kita.

Related Articles

Card image
Self
Lesson Learned: Depresi

Merasa sedih itu bagian dari hidup, tapi kalau sampai berlarut-larut dan menganggu aktivitas itu pertanda ada yang perlu dibenahi atau kamu perlu segera cari bantuan professional. Kita tidak bisa sepenuhnya mengontrol atau mengendalikan apa yang terjadi dan kita alami dalam hidup, tapi kita bisa mengendalikan cara kita memproses pengalaman tersebut. Tidak mudah tapi kita pasti bisa.

By Trisa Triandesa
31 July 2021
Card image
Self
Kesehatan Mental Harus Dibicarakan

Bicara tentang kesehatan mental, masih banyak sekali orang di masyarakat kita yang belum percaya bahwa seseorang bisa memiliki gangguan mental. Akhirnya, orang-orang yang mengalami hal tersebut enggan untuk menceritakan apa yang dirasakan dan memendamnya sendiri. Padahal ia sangat membutuhkan pertolongan untuk keluar dari kemelut benaknya. 

By Carissa Perruset
31 July 2021
Card image
Self
Yang Pergi dan Tak Terlupakan

Bagi kita kepergian orang yang dekat apalagi kita sayangi memang membawa derita dan luka mendalam. Apalagi orang tersebut begitu baik atau berjasa. Kenangan tentang mereka terkadang begitu indah tiada bercela. Tidak jarang proses berduka dialami dalam jangka waktu yang tidak singkat.

By Dr. Clara Moningka
31 July 2021