Self Work & Money

Kendalikan Serbuan Diskon

Greatmind

@greatmind.id

Redaksi

Ilustrasi Oleh: Mutualist Creative

Akhir tahun begini, serbuan pesta diskon selalu menghampiri dari berbagai penjuru. Tak apa sedikit kalap, asal tetap bisa pegang kendali.

Sama seperti saat lebaran, bila Natal dan tahun baru menjelang, semua pusat perbelanjaan akan meriah dengan berbagai program potongan harga berjudul “Year End Sale”, Cuci Gudang, dan sebagainya. Situs-situs belanja online pun tak mau ketinggalan. Mereka juga menggelar berbagai program diskon Potongan harga hingga puluhan persen selalu menggiurkan para pembelanja, baik yang tengah mempersiapkan Natal, maupun mereka yang baru saja mendapat bonus akhir tahun. Hasrat belanja seperti diberi wadah setiap akhir tahun datang. 

Sama sekali tak ada larangan berbelanja dan menikmati hebohnya pesta potongan harga akhir tahun. Namun tak ada salahnya membatasi diri, karena pesta diskon semacam itu kerap menjebak kita berbelanja hal-hal yang tak perlu. Empat hal ini barangkali bisa jadi rujukan agar hasrat belanja tersalurkan, tapi kita terhindar dari kebiasaan belanja impulsif yang menyebabkan dompet kosong melompong sebelum akhir bulan datang. 

Tentukan Batas Maksimum Uang yang Boleh Dibelanjakan.

Sebelum musim belanja dan pesta diskon datang, kita sebaiknya sudah menentukan berapa banyak uang yang kita siapkan dan boleh dihabiskan. Tapi kalau belum, tak ada kata terlambat untuk melakukannya, termasuk bila kita harus membeli hadiah natal dan tahun baru buat orang-orang tersayang atau sahabat dan teman-teman baik yang merayakan, maka uang yang sudah dianggarkan, perlu lagi dibagi. Berapa untuk belanja hadiah, berapa untuk belanja pribadi. Bila akhir tahun tak hanya diisi berbelanja tapi juga liburan, perlu pula dipikirkan semua aspek kebutuhan itu. Bila memang ternyata dana yang tersedia tidak bisa menutupi semuanya, akan lebih mudah melakukan penyesuaian, pos mana yang masih bisa diutak-atik jumlahnya. Seringnya, kita lupa membuat kategorisasi dan batas maksimal ini sehingga sering membeli barang-barang yang tak terlalu perlu dan baru menyadari belakangan ada kebutuhan lebih penting yang juga menunggu.

Boleh Skeptis Pada Label “Sale”

Barang berlabel “sale” belum tentu serta merta jadi murah harganya. Kecuali kita benar-benar tahu harga sebuah barang sebelum “sale” dan bisa memastikan kalau harganya jadi lebih murah dari hagra sebelumnya, tak ada salahnya bersikap skeptis. Sering kali terjadi, di karton-karton berisi penjelasan persentase diskon, harga sebelum dan sesudah, pihak penjual menaikkan harga barang tersebut lalu mendiskonnya beberapa persen yang hasilnya adalah harga asli barang tersebut bila dijual tanpa diskon. Kalau harga diskon yang tertera terasa tak masuk akal untuk sebuah barang yang tengah dipotong harganya, kita harus tahu kalau kita punya hak untuk tak tergoda olehnya.

Jangan Terbuai Fasilitas yang Katanya Istimewa.

Pembeli adalah raja. Ini moto para penjual yang selalu diagung-agungkan para pembeli yang sering luput menyadari bahwa sebenarnya mereka yang berada dalam kendali. Para penjual mengendalikan dengan baik hasrat belanja para pembelinya dengan berbagai fasilitas yang membuatnya merasa spesial seperti kartu keanggotaan dengan iming-iming berbagai fasilitas yang katanya istimewa, kartu diskon dan sebagainya. Perasaan mendapat keisitimewaan ini sering kali membuat kita sebagai pembeli lepas kendali dan lupa pada rencana belanja yang telah kita susun.

Batasi Penyisipan “Kado Buat Diri Sendiri” di Tiap Sesi Belanja.

Saat membeli hadiah buat orang-orang tersayang, ada kalanya kita dihinggapi rasa ingin memberi hadiah buat diri sendiri. Tentu saja hal itu bukan ide buruk, karena mencintai diri sendiri itu memang paling utama. Tapi usahakan untuk tidak latah memberi diri sendiri hadiah di setiap sesi belanja. Batasi satu atau dua barang saja, dan selebihnya benar-benar fokus mencari hadiah buat orang lain. Hadiah untuk diri sendiri bisa diberikan kapan saja kita mau, bukan?

Telusuri Pengeluaran.

Bahkan ketika kita memiliki isi rekening dengan jumlah uang tak berseri, menelusuri rekam jejak aliran pengeluaran tetaplah merupakan hal yang perlu dilakukan. Apalagi bila kita masih harus mengatur pengeluaran dengan bijak agar semua kebutuhan bisa terpenuhi tanpa harus pusing tujuh keliling di akhir bulan. Memang tak perlu juga terlalu pelit dan galak pada diri sendiri soal keuangan seperti seorang akuntan publik pada kliennya. Tapi akan sangat baik bila kita membuat catatan belanjasederhana yang bisa membantu mengetahui untuk apa saja uang terpakai.

Related Articles

Card image
Self
Lesson Learned: Depresi

Merasa sedih itu bagian dari hidup, tapi kalau sampai berlarut-larut dan menganggu aktivitas itu pertanda ada yang perlu dibenahi atau kamu perlu segera cari bantuan professional. Kita tidak bisa sepenuhnya mengontrol atau mengendalikan apa yang terjadi dan kita alami dalam hidup, tapi kita bisa mengendalikan cara kita memproses pengalaman tersebut. Tidak mudah tapi kita pasti bisa.

By Trisa Triandesa
31 July 2021
Card image
Self
Kesehatan Mental Harus Dibicarakan

Bicara tentang kesehatan mental, masih banyak sekali orang di masyarakat kita yang belum percaya bahwa seseorang bisa memiliki gangguan mental. Akhirnya, orang-orang yang mengalami hal tersebut enggan untuk menceritakan apa yang dirasakan dan memendamnya sendiri. Padahal ia sangat membutuhkan pertolongan untuk keluar dari kemelut benaknya. 

By Carissa Perruset
31 July 2021
Card image
Self
Yang Pergi dan Tak Terlupakan

Bagi kita kepergian orang yang dekat apalagi kita sayangi memang membawa derita dan luka mendalam. Apalagi orang tersebut begitu baik atau berjasa. Kenangan tentang mereka terkadang begitu indah tiada bercela. Tidak jarang proses berduka dialami dalam jangka waktu yang tidak singkat.

By Dr. Clara Moningka
31 July 2021