Self Lifehacks

Manusia: Hitam Putih Yang Tak Pernah Mutlak

Greatmind

@greatmind.id

Redaksi

Ilustrasi Oleh: Mutualist Creative

Seperti simbol Yin dan Yang, pada diri setiap manusia, selalu ada bidang kecil berwarna sebaliknya yang membuat hitam dan putih menjadi tak pernah mutlak.  

Ingatkah kamu pada Maleficent, peri yang mengutuk putri Aurora dalam dongeng Sleeping Beauty? Bertahun-tahun, kita selalu bersetuju bahwa Maleficent adalah peri yang jahat karena ia, tak seperti peri-peri lainnya yang datang di hari pemberkatan bayi cantik Aurora, menyampaikan kutukan dan bukan berkat. Ia yang membuat putri Aurora harus tertusuk jarum alat pemintal benang dan tidur seperti mati bertahun-tahun lamanya. Namun dalam film Maleficent yang dilansir pada 2014 lalu, terkuak latar belakang yang menyebabkan peri yang sejatinya berhati amat baik itu menjadi begitu murka dan pendendam. Dalam sikapnya yang terlihat jahat, ia sejatinya memiliki kelembutan hati.

Dalam dunia nyata, ada banyak sosok seperti Maleficent. Terlihat jahat, tapi sebenarnya memiliki hati yang baik. Sebaliknya, ada pula yang tampaknya mulia karena kelembutan hati, tapi menyimpan muslihat tak terduga. Itu sebabnya, jargon yang mengatakan “Don’t judge a book from its cover” masih amat relevan hingga saat ini. Sebab apa yang kita lihat, memang tak serta merta bisa membuat kita bisa dengan tepat mengenali dan menilai seseorang. Demikian pula kita. Selalu ada bidang hitam dalam bidang putih, dan sebaliknya, bidang putih dalam bidang hitam dari lingkaran Yin Yang yang mendiami hati kita. 

Prinsip Yin dan Yang ini merupakan sebuah konsep keseimbangan sekaligus dualitas yang telah ada sejak ribuan tahun dalam budaya Cina. Konsep yang merupakan dasar dalam filosofi dan budaya Cina yang berakar pada Taoisme ini secara makro menyampaikan tentang segala sesuatu yang berpasangan dalam Semesta. Simbol Yin adalah bidang berwarna hitam dengan titik putih di dalamnya, antara lain merupakan analogi bagi malam, kegelapan, kelambanan, kelembutan, bayangan, feminitas, dan kerap dihubungkan dengan air, bumi dan bulan. Sementara Yang, bidang putih yang di dalamnya terdapat titik hitam antara lain menganalogikan kontradiksi, kecepatan, kesulitan, maskulinitas, fokus, panas, kering, aktif sehingga kerap dihubungkan dengan api, langit dan matahari. Namun hal yang menarik dari Yin dan Yang ini adalah penemuannya tentang hal yang tidak selalu mutlak dari segala yang berpasangan itu, termasuk dalam kebaikan dan kejahatan.

Dalam diri kita semua, keduanya –kebaikan dan kejahatan, energi positif dan energi negatif- selalu ada, bergerak dinamis, mencoba saling melampaui, dan mendominasi. Keduanya memiliki peluang menang yang sama, dan menjadi penguasa dalam diri siapa saja. Untungnya, sebagai manusia, kita dilengkapi pula dengan sebuah sensor bernama hati nurani di mana kita bisa melakukan konfirmasi tentang apa hal terbaik yang perlu kita pilih dan lakukan, terutama bila itu terkait dengan energi negatif yang mendorong kita melakukan hal-hal tak patut dan melanggar nurani.

Dalam tulisannya di Kompasiana, Marhento Wintolo, seorang praktisi Ayur-Hypnotherapy dan Neo Zen Reiki mengatakan, jahat dan baik, positif dan negatif, merupakan energi yang memang harus ada dalam Semesta. Kedua energi ini saling melengkapi dan terbentuk dari friksi energi baik dan buruk.  Itu sebabnya, menurut Marhento, manusia jahat tidak ada dan yang ada hanyalah orang lemah yang menyerah pada hal yang jahat. Karena sifatnya yang negatif, kejahatan biasanya juga bersifat destruktif, ingin merusak keseimbangan karena negativitas biasanya bertentangan dengan sifat alam. Sementara kebaikan atau energi energi positif, selaras dengan sifat alam dan senantiasa berusaha mencapai keseimbangan.

Kita tak perlu mati-matian menyangkal bahwa sifat jahat secara alamiah memang juga kita miliki dan jungkir balik berusaha mencitrakan diri sebagai orang yang hanya punya kebaikan. Sebab tak ada manusia yang hanya memiliki salah satunya saja. Hal yang benar adalah orang yang mampu mempertajam rasa, merawat dan terus berupaya meningkatkan kadar kebaikannya ke taraf sempurna, meski dalam kenyataannya, sedikit saja manusia yang benar-benar bisa memiliki kebaikan yang murni. Dalam upaya menyempurnakan kebaikan inilah biasanya kita berjumpa dengan berbagai alat yang kita duga bisa kita gunakan untuk mendekati kebaikan. Agama dan spiritualitas merupakan dua di antara berbagai alat yang dianggap bisa menuntun kita menyempurnakan kebaikan.
 

Namun, sebanyak apa pun alat yang kita miliki dan gunakan untuk menyempurnakan kebaikan, kita selalu membutuhkan sensor utama yang ada dalam diri kita sendiri, yakni hati nurani. Ia, hati nurani kita, sesungguhnya adalah kompas yang senantiasa bisa menunjukkan arah di mana kebaikan berada. Sama seperti alat lain yang bersifat membantu, agama, spiritualitas dan hal lain yang kita sepakati sebagai alat semata, amat bisa kita ragukan dan pertanyakan kebenaranannya, manakala kita menyadari kalau alat-alat tersebut ternyata tak menuntun kita untuk menyempurnakan kebaikan. Sejatinya, kita semua adalah Maleficent yang tak pernah berhenti mencintai kebaikan

Related Articles

Card image
Self
Lesson Learned: Depresi

Merasa sedih itu bagian dari hidup, tapi kalau sampai berlarut-larut dan menganggu aktivitas itu pertanda ada yang perlu dibenahi atau kamu perlu segera cari bantuan professional. Kita tidak bisa sepenuhnya mengontrol atau mengendalikan apa yang terjadi dan kita alami dalam hidup, tapi kita bisa mengendalikan cara kita memproses pengalaman tersebut. Tidak mudah tapi kita pasti bisa.

By Trisa Triandesa
31 July 2021
Card image
Self
Kesehatan Mental Harus Dibicarakan

Bicara tentang kesehatan mental, masih banyak sekali orang di masyarakat kita yang belum percaya bahwa seseorang bisa memiliki gangguan mental. Akhirnya, orang-orang yang mengalami hal tersebut enggan untuk menceritakan apa yang dirasakan dan memendamnya sendiri. Padahal ia sangat membutuhkan pertolongan untuk keluar dari kemelut benaknya. 

By Carissa Perruset
31 July 2021
Card image
Self
Yang Pergi dan Tak Terlupakan

Bagi kita kepergian orang yang dekat apalagi kita sayangi memang membawa derita dan luka mendalam. Apalagi orang tersebut begitu baik atau berjasa. Kenangan tentang mereka terkadang begitu indah tiada bercela. Tidak jarang proses berduka dialami dalam jangka waktu yang tidak singkat.

By Dr. Clara Moningka
31 July 2021