Self Work & Money

Melawan Rasa Malu

Nurul Idzni

@nurulidzni__

Penulis & Pengusaha Kreatif

Ilustrasi Oleh: Mutualist Creative

Adakah dari kita yang tidak memiliki rasa malu? Saya menduga tidak ada. Setiap orang memilikinya, dan setiap orang pernah berjuang untuk mengatasinya. Ada yang menghindar, ada pula yang mencoba menghadapi dengan mengubah rasa malu tersebut menjadi keberanian. Mulai dari malu mengakui kesalahan, malu tampil di depan umum, malu berterus terang, malu akan kondisi diri dan keluarga, malu bertemu orang baru, hingga malu berbuat salah. Semua rasa malu memang erat kaitannya dengan tingkat keberanian dan kepercayaan diri yang seseorang miliki.

Toh malu tidak selalu bermakna negatif. Tiap orang tetap perlu memiliki rasa malu sebagai kontrol dirinya untuk berpikir, bersikap, dan bertindak. Terlepas dari itu semua, sebenarnya tidak seorang pun bisa sepenuhnya memutus urat malunya. Yang ada hanyalah, bagaimana mereka bisa menyikapi diri saat menghadapi suatu hal yang membuatnya malu, dan memberanikan diri untuk melaluinya.

Le Petit Prince, babak ke-12, karya Antoine de Saint-Exupéry. Dikisahkan Pangeran Kecil tiba di suatu planet yang dihuni oleh seorang pria mabuk. Duduk di antara tebaran botol di sekelilingnya, pria tersebut menjawab tatap penuh tanya si Pangeran Kecil yang menanyakan mengapa dirinya minum.  "Supaya lupa..." jawab pemabuk. "Melupakan apa?" tanya Pangeran Cilik yang kini merasa iba. "Melupakan aku merasa malu,"

Saya tidak berujar bahwa untuk melupakan rasa malu seseorang harus minum sekian botol hingga merasa memperoleh keberanian. Saya juga tidak mengatakan menghadapi rasa malu bisa dihadapi dalam sekejap. Tapi penggalan literasi si Pangeran Kecil, memberi pandangan bahwa setiap orang memiliki caranya sendiri dalam menepis rasa malu yang dimilikinya. Proses dan pembiasaan adalah yang saya rasa menjadi benang merah dari semuanya.

Saya akui, sewaktu kecil saya adalah sosok yang sangat pemalu dan penakut. Saya tidak ingat bagaimana mulanya saya bisa menjadi sepemalu itu, namun saya masih ingat bagaimana akhirnya saya dibentuk dan membentuk diri untuk keluar dari rasa malu yang dimiliki. Ibu saya seorang psikolog. Ia tahu betul saat saya kecil, saya amat sangat pemalu dan penakut, terutama dalam hal bertemu orang baru dan tampil di depan umum. Saya tidak senang masuk ke lingkungan baru karena harus berinteraksi dengan orang asing. Saya akan memilih diam, menggambar, dan mengarang. Cita cita saya sewaktu kecil? Pelukis dan penulis. Karena bagi saya, saya hanya perlu berbicara pada dua medium bisu: kanvas dan kertas. Mereka tidak akan menilai saya atau memiliki pandangan yang mungkin dapat menjatuhkan. Saya merasa aman.

Orangtua adalah figur yang akhirnya paling berperan membentuk saya. Mereka tahu jika saya tidak berani keluar dari gelembung yang saya ciptakan, saya tidak dapat menghadapi dunia luar saat dewasa nanti. Berangkat dari mempelajari minat saya, orangtua banyak mengikutsertakan saya dalam berbagai lomba melukis dan kursus di luar sekolah. Tujuannya adalah agar saya terbiasa berinteraksi dengan lingkungan baru, orang dengan latar belakang berbeda, dan situasi dimana saya harus berada di hadapan banyak orang. Apakah berjalan lancar? Sama sekali tidak. Di masa-masa awal, saat saya menang suatu lomba, berkali-kali adik saya yang menggantikan saya menerima hadiah dan piala karena saya takut maju ke atas panggung, malu untuk berada di depan banyak orang. Berkali-kali saya menangis saat perlombaan berlangsung karena merasa malu gambar saya jelek dan tidak layak menang. Dan berkali-kali juga kursus yang saya ikuti tidak saya lanjutkan karena merasa tidak nyaman dan malu untuk berinteraksi dengan teman sebaya. Tapi sekeras apapun saya berusaha menghindar dari khalayak umum, usaha orangtua jauh berlipat lebih keras lagi dengan terus mendaftarkan diri saya mengikuti beragam macam lomba dan kursus lainnya. Pada akhirnya, pembiasaan yang dilakukan orangtua membuahkan hasil. Seiring dengan banyaknya piala yang saya peroleh, rasa percaya diri dan keberanian saya meningkat. Demikian pula dengan semakin banyaknya kursus yang saya ikuti, mau tidak mau saya harus beradaptasi dengan lingkungan baru, dan berani untuk menjalin komunikasi dengan orang-orang yang berada di dalamnya.

Orangtua memang menjadi sosok yang pertama kali mendorong saya untuk bersikap lebih berani. Karena dalam konteks waktu pada masa kanak-kanak, saya belum dapat menentukan apa yang baik untuk saya tanpa arahan orangtua. Namun lambat laun, peran mereka mulai terganti dengan kesadaran diri saya seiring bertambah usia, untuk dengan sendirinya berkembang. Tentunya hal ini tidak lepas dari dasar ‘pemaksan’ dan pembiasaan yang terlebih dahulu dikenalkan oleh mereka. Layaknya seseorang yang belajar naik sepeda, semula akan terasa sulit dan butuh penyesuaian untuk dapat seimbang, sebelum akhirnya menjadi terbiasa dan lancar mengayuh. Kadangkala memang kita harus mencoba melintasi batas ketakutan dan rasa malu, untuk akhirnya sadar bahwa menjadi berani tidak sesulit itu, dan kita menjadi terbiasa terhadapnya. Dorongan keluar dari rasa malu juga memang seharusnya berasal dari diri sendiri. Faktor eksternal hanyalah pendukung yang tidak akan berefek apa-apa bila dalam diri kita sendiri tidak menghendakinya.

Kebanyakan alasan seseorang malu melakukan sesuatu sebenarnya lebih karena takut akan reaksi yang mungkin mereka terima dari orang lain, bukan? Padahal, adakah orang yang benar-benar tahu pikiran orang lain? Tidak ternyata. Kita hanya dapat membuat dugaan yang sebenarnya belum tentu tepat. Bila setiap reaksi orang akan setiap tindakan yang kita lakukan adalah positif, tampaknya tidak akan ada rasa malu dalam diri manusia. Oleh karenanya, bagaimana jika kita coba berpikir tiap kali kita merasa enggan melakukan sesuatu karena malu, bahwa reaksi orang terhadap kita akan mendukung dan simpatik?

Sesungguhnya setiap orang adalah sama. Siapa saja yang kita hadapi, pasti memiliki rasa takut, rasa sedih, masa lalu, dan masa depan. Mereka pasti paham bahwa ada kalanya orang bisa bersikap takut atau bertingkah kikuk padanya. Bila seseorang dapat memberikan reaksi negatif pada diri kita, kita juga bisa melakukan hal yang sama bukan pada mereka? Belum tentu kerumunan yang menonton diri Anda tampil di atas panggung sanggup berada di posisi yang diperhatikan orang banyak. Belum tentu orang yang kita malu untuk berterus terang padanya adalah orang yang jujur dan bersih dari kesalahan. Belum tentu teman kita yang tampak sangat mampu di luar, yang membuat kita minder bila berjalan bersamanya memiliki kondisi keuangan yang sehat. Dan belum tentu juga seseorang yang dianggap cantik, selalu merasa percaya diri di depan kamera.

Semuanya kembali lagi pada diri kita. Melawan rasa malu memang tidak semudah membalikan telapak tangan. Kitalah yang tahu, sampai sejauh mana kita bisa mendobrak tembok keengganan untuk bersikap berani dan percaya diri. Tidak harus dipaksakan bila Anda masih merasa belum siap. Setiap orang memiliki waktunya sendiri untuk mencoba, menyesuaikan diri, hingga kemudian akhirnya merasa berani. Bila kali pertama atau kedua masih merasa malu, masih ada kali ketiga hingga seterusnya yang menanti. Tapi yang perlu diingat, kesempatan sayangnya tidak selalu datang dua kali, sehingga ada kalanya sekarang menjadi satu-satunya waktu yang Anda miliki. Lantas, coba ingat-ingat lagi, hal apa sih yang perlu Anda perbuat tapi Anda malu lakukan?

Related Articles

Card image
Self
Melatih Diri Mengelola Rasa Cemas

Semua rasa atau emosi itu terjadi di sistem saraf. Begitu pula rasa  cemas dan depresi, kedua ini juga terjadi  di  sistem saraf kita. Sistem saraf adalah sebuah sistem yang mengontrol dan mengoordinasi semua aktivitas yang dilakukan oleh tubuh manusia.

By Gwen Winarno
06 August 2022
Card image
Self
Mengenali Diri Lebih Jauh

Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk bisa lebih mengenal diri sendiri. Buatku waktu luang sebenarnya bisa menjadi momen yang bisa kita manfaatkan untuk bisa lebih memahami diri kita dengan baik.

By Dere
06 August 2022
Card image
Self
Tenang dalam Berbuat Baik

Ada banyak cara pandang baru yang aku temukan dalam beberapa waktu ke belakang, terutama selama dua tahun terakhir. Aku merasa kehidupan itu nggak akan selalu di atas untuk waktu yang lami tapi juga tidak akan dibawah selamanya. 

By Reruntuh
06 August 2022