Self Lifehacks

Menjadi Diri Sendiri

Sungguh sesuatu yang manusiawi apabila kita punya kekurangan. Meski kita diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang sempurna namun perilaku kita di dunia pasti ada yang tidak sempurna. Pasti pernah melakukan kesalahan. Meskipun begitu kita juga tetap harus bisa berterima kasih pada diri sendiri. Atas upaya yang sudah dilakukan untuk mencapai keberhasilan sekalipun mengalami kegagalan. Jangan pernah menyalahkan diri sendiri ketika bertemu kegagalan itu. Jangan juga menyalahkan situasi yang ada. Sebab semua usaha yang sudah dibuat pasti akan ada hasilnya walau belum terlihat sekarang. Mungkin sekarang belum waktunya saja. Sesuatu yang baik pasti akan datang di waktu yang tepat.

Jangan pernah menyalahkan diri sendiri ketika bertemu kegagalan itu. Jangan juga menyalahkan situasi yang ada. Sebab semua usaha yang sudah dibuat pasti akan ada hasilnya walau belum terlihat sekarang.

Aku adalah seseorang yang bisa dibilang perfeksionis. Dulu aku suka mengerjakan segalanya sendiri sampai lupa tidur. Suka sekali mengendalikan apapun. Sekalipun itu bukan pekerjaanku. Memikirkan semua konsep musik dari A sampai Z dan berharap semuanya sesuai ekspektasiku. Ketika tidak sesuai ekspektasi aku bisa sangat kecewa. Sering sekali aku bertanya sendiri, “Apa lagi sih yang kurang? Padahal sudah usaha 110% tapi kenapa hasilnya tidak sesuai?” Kemudian marah pada diri sendiri, keadaan, bahkan orang lain. Malah sampai berpikir ada seseorang yang tidak bekerja dengan baik sampai hasilnya tidak sesuai ekspektasiku. Selalu merasa tidak puas. 

Semakin berjalannya waktu, meski aku masih menjadi seseorang yang cukup perfeksionis, tapi aku merasa sudah tidak lagi seperti dulu. Tidak ngotot agar semuanya sesuai dengan ekspektasiku. Aku masih melakukan upaya terbaik untuk membuat sebuah karya yang maksimal. Tapi jika ada satu-dua hal yang tidak seperti dibayangkan, kini aku sudah bisa menerimanya. Biasanya menenangkan diri dengan bilang, “Tidak apa-apa. Mungkin ini yang terbaik. Kalau aku mendapatkan ini sekarang mungkin akan ada yang tidak seimbang dalam hidupku. Mungkin nanti.” Tidak bisa dipungkiri usia membuatku melihat segala sesuatunya berbeda. Lebih bisa berpikir apa yang paling bijak untuk diriku dan orang sekitarku. Jahat sekali kalau sampai menyalahkan orang lain yang sudah membantuku. Termasuk diriku sendiri yang sudah menuangkan segala tenaga, pemikiran dan upaya keras. Sudah capek sendiri malah tetap menyalahkan karena sesuatu yang di luar kendali.

Lama kelamaan aku mulai berdamai dengan diri dan situasi dengan kesadaran bahwa kita manusia cuma bisa merencanakan saja tapi penentunya bukan kita. Tuhan yang mengatur segalanya. Kita tidak bisa takabur dengan berpikir karena sudah merencanakan maksimal hasilnya sudah pasti maksimal. Padahal mungkin saja ada yang terjadi di luar rencana. Sesuatu yang tidak bisa dikendalikan. Bukan berarti dengan menyadari ini aku lalu membatasi diri dari mimpi dan harapan besar. Aku tidak berhenti bermimpi, memiliki ambisi dan terus berupaya melakukan segala sesuatunya maksimal. Hanya saja sekarang aku sudah bisa mempersiapkan mental agar tidak tenggelam dalam kekecewaan jika nantinya ada yang tidak sesuai rencana. 

Lama kelamaan aku mulai berdamai dengan diri dan situasi dengan kesadaran bahwa kita manusia cuma bisa merencanakan saja tapi penentunya bukan kita.

Dulu aku juga tidak sepercaya diri sekarang. Selain sempat tidak jadi diri apa adanya dalam bermusik, dalam kehidupan sehari-hari aku juga sering tidak nyaman dengan diri sendiri. Aku merasa rambutku terlalu lurus dan tipis, badanku terlalu kurus dan kecil. Sampai-sampai dulu aku kemana-mana pakai sepatu hak agar percaya diri. Padahal aku tersiksa sekali. Tidak hanya itu saja, kehidupan percintaan juga berantakan karena aku yang jaga image. Setelah aku pikir-pikir sekarang, dulu aku sepertinya lebih sering mendahulukan pemikiran orang lain dari pada diriku sendiri. Terlalu peduli dengan apa yang dikatakan orang lain. Hingga sering sekali memberikan kritik pada diri sendiri dan sulit menerima apa adanya. Walaupun agak terlambat, akhirnya aku sadar betapa pentingnya bisa mencintai diri apa adanya. Sekarang aku sudah percaya diri pakai sneakers ke mana-mana. Percaya diri dengan rambut meski dibilang tipis dan lepek. Dari lahir rambutku memang begini, mau bagaimana? Sedangkan di percintaan, semuanya berjalan lancar ketika aku bisa jadi diri sendiri tanpa harus berusaha tidak menunjukkan kejelekan. Tidak ada yang aku tutupi dari dia yang sekarang menjadi suami dan ayah dari anak kami. 

Menjadi sebuah pelajaran besar untukku ketika aku bisa mengekspresikan diri sendiri tanpa ada batasan. Dalam karier, lebih banyak kesempatan yang terbuka. Dalam kehidupan sehari-hari pun aku lebih bebas dan nyaman dengan keadaan yang mungkin tidak menyenangkan. Seperti saat baru melahirkan. Perubahan tubuhku dari yang kecil sekali sampai besar sekali menghasilkan banyaknya stretch mark di mana-mana. Tiba-tiba konsep feel good luntur seketika. “Ini kenapa? Kenapa tubuhku bisa jadi begini?” Pikirku saking kagetnya melihat perubahan bentuk tubuh. Aku kembali tidak percaya diri sampai takut berkaca. Hingga ada satu momen saat anakku sedang menyusui sambil menatapku lekat-lekat. Kala itu aku langsung menangis dan menyesal mengkhawatirkan stretch mark yang muncul. Aku telah mendapat anugerah terbesar dalam hidup yang tidak bisa digantikan dengan apapun. Kenapa aku sempat-sempatnya memikirkan stretch mark. Dari momen itu, aku langsung berkata pada diri sendiri, “Ya sudahlah, Rin.” Lalu berdamai dengan keadaan dan berusaha menghilangkan insecurity itu.

Menjadi sebuah pelajaran besar untukku ketika aku bisa mengekspresikan diri sendiri tanpa ada batasan. 

Pengalaman ini juga yang memberikanku inspirasi untuk berkarya. Aku ingin menyebarkan pesan pada wanita-wanita di luar sana yang sering insecure pada dirinya sendiri. Yang sering menghitung kekurangannya hingga menutupi kelebihannya. Aku pernah berada di titik itu tapi aku belajar untuk lebih bangga pada diri sendiri. Bangga dengan kondisi fisik dan apapun yang ada di diriku. Mungkin aku terlambat menyadarinya. Baru setelah menikah dan punya anak. Namun tidak pernah ada kata terlambat. Aku sadar apa yang sudah didapatkan sampai sejauh ini sudah sangat baik dan aku hanya perlu bersyukur dengan itu. Dengan bersyukur berarti aku telah memberikan apresiasi terbesar pada diri sendiri. Sampai akhirnya aku bisa menjalani segalanya lebih ringan sebab aku sudah merasa amat nyaman dengan diri sendiri.

Related Articles

Card image
Self
Sepercik Air: Marah dalam Islam

Saat kita marah, biasanya kita akan hilang akal sehingga rawan mengucapkan kata atau melakukan perbuatan yang diluar kendali kita. Dalam hadits Rasulullah yang diriwayatkan Imam Bukhari, disebutkan ada seorang lelaki yang berkata pada Rasulullah, “Berilah aku wasiat.” Rasulullah pun menjawab, “Janganlah engkau marah.”

By Archie Wirija
16 October 2021
Card image
Self
Sembuhkan Luka Hati

Tumbuh besar di Australia menjadikanku lebih nyaman menggunakan Bahasa Inggris saat menceritakan diriku sendiri, hal ini sempat membuatku cukup takut saat masa awal transisi berkarir di Indonesia. Buat aku, aku tidak terlalu memikirkan bias bahwa aku dibesarkan di luar, jadi aku harus lebih baik dan sebagainya. Kalau dunia musik aku rasa aku sangat beruntung bisa bertemu dengan musisi lainnya serta mentor-mentor di Industri.

By Will Mara
16 October 2021
Card image
Self
Belajar Memahami Manusia

Film menawarkan kesempatan untuk bertemu dengan berbagai karakter manusia yang berbeda-beda. Menyenangkan rasanya mengenal beragam sifat dan karakter. Sedikit demi sedikit aku juga akhirnya mampu mengenali mana karakter yang baik dan buruk untuk diriku sendiri.

By Tissa Biani
16 October 2021