Self Lifehacks

Merangkul Kegagalan

Kegagalan tentu bukan hasil yang diharapkan bagi semua orang yang sedang berjuang. Banyak diantara kita yang mungkin tengah atau telah melalui masa sulit, baik karena pandemi maupun karena masalah pribadi. Sayangnya, kegagalan bukan hal yang bisa kita hindari. Kegagalan akan selalu hadir sebagai bagian penting dalam proses pembelajaran hidup yang masih akan kita jalani hari ini dan seterusnya. Tidak mungkin ada orang yang tidak pernah gagal satu kali pun dalam hidup, jadi yang bisa kita lakukan adalah dengan menerima dan memahami fase kegagalan yang ditemui.

Banyak diantara kita yang mungkin tengah atau telah melalui masa sulit, baik karena pandemi maupun karena masalah pribadi. Sayangnya, kegagalan bukan hal yang bisa kita hindari. Kegagalan akan selalu hadir sebagai bagian penting dalam proses pembelajaran hidup yang masih akan kita jalani hari ini dan seterusnya.

Tak jarang kegagalan meninggalkan luka hati yang cukup mendalam ketika kita sudah berharap dan tenggelam dalam ekspektasi kita sendiri. Meski sering kali menyakitkan, kita harus tetap meyakini bahwa kegagalan adalah salah satu bekal kita untuk mencapai kesuksesan. Terdengar klise memang, tapi fakta ini masih tetap relevan hingga saat ini. Arti kesuksesan akan sangat subjektif bagi setiap individu, tetapi kegagalan ketika menjalani prosesnya akan selalu terjadi.

Meski sering kali menyakitkan, kita harus tetap meyakini bahwa kegagalan adalah salah satu bekal kita untuk mencapai kesuksesan. Terdengar klise memang, tapi fakta ini masih tetap relevan hingga saat ini.

Setiap orang sayangnya harus menghadapi kegagalan dalam hidup sebagai tanda kita sedang berproses, tetapi jangan lupa bahwa kita juga berhak untuk kembali pulih. Mungkin perjalanan kembali pulih bukanlah perjalanan singkat yang menyenangkan. Perlu waktu yang tidak sebentar untuk bisa memastikan diri kembali baik-baik saja setelah menemui kegagalan. Setiap orang punya caranya sendiri untuk menerima kegagalan dan menyembuhkan luka yang terlanjur ditinggalkan.

Proses menerima kegagalan juga menjadi topik yang dianggap penting oleh Popbela.com. Sejak awal November 2021, melalui platform Festival Pulih, sudah banyak konten inspiratif yang dihadirkan, sebagai ruang bagi para generasi Millenial dan Gen Z untuk saling berbagi. Festival Pulih dihadirkan sebagai bentuk dukungan bagi mereka yang harus melalui masa-masa sulit. Sejalan dengan tagline yang diusung pada tahun ini, yaitu “Rangkul Kegagalan, Rayakan Luka”. Setiap kita pun harus memiliki kemampuan untuk berjuang dengan konsisten untuk dapat kembali pulih. 

Festival yang telah rampung dilaksanakan pada 25-27 November lalu juga menghadirkan banyak figur yang turut membagikan perjalanan mereka untuk dapat kembali pulih. Beberapa diantaranya adalah Najwa Shihab, Marshanda, Ariel Tatum, Denada, Prilly Latuconsina, Dena Rachman, Hana Madness, dan masih banyak lagi. Dengan rangkaian program yang dihadirkan seperti womenpreneurs, mind, body and soul, wellness, career moves, relationship, entertainment, dan lain-lain. Festival Pulih mengajak audiens untuk belajar menerima kesalahan dan kegagalan, serta untuk mantap melangkah maju dan melanjutkan kehidupan dengan langkah yang lebih baik lagi. 

Related Articles

Card image
Self
Meyakinkan Hati

Cinta dimaknai bukan sekedar perasaan yang menyala lalu padam, tetapi melibatkan kesadaran individu dalam memutuskan untuk bisa mencintai seseorang. Menurutku cinta adalah pilihan, apakah kita mau mencintai orang ini atau tidak.

By Sivia Azizah
22 January 2022
Card image
Self
Membentuk Rutinitas Dengan Journaling

Kita semakin terbiasa mencatat apa pun di handphone. Namun masih banyak individu yang merasa lebih nyaman untuk mencatat atau menulis di buku menggunakan pulpen. Kegiatan ini, termasuk journaling sebenarnya dapat melatih ingatan kita. Dengan menulis menggunakan tangan, otak kita dapat dengan lebih mudah mengingat apa yang dicatat.

By Greatmind X The Self Hug
15 January 2022
Card image
Self
Live Optimally: 25 Jam dalam Sehari

Sering kali 24 jam dalam sehari rasanya tidak cukup. Bisa jadi karena pekerjaan kita yang terlalu banyak, kemampuan kita yang kurang efisien untuk menggunakan waktu, atau karena kita terkadang suka memprioritaskan hal yang salah. Apa pun alasannya, it seems so hard to make friends with time.

By Rama Satya
15 January 2022