Self Planet & People

Merayakan Perjalanan Dengan Diri Sendiri

Marvin Sulistio

@marvin.sulistio

Jurnalis Televisi

Fotografi Oleh: Marvin Sulistio

Mungkin anda setipe dengan saya, yang tak gemar menyusun itineraries perjalanan, yang penting tiket pesawat dan hotel aman; destinasi wisata? Santai saja. Atau mungkin anda adalah saya dulu yang sangat cemas bila segala sesuatunya belum terencana.

Tidak ada yang salah dan benar. Perjalanan itu untuk dinikmati, bukan digengsikan. Destinasi wisata bukanlah ajang gengsi, namun memperkaya pengalaman diri. Setidaknya itu yang saya dapatkan setelah mengunjungi banyak tempat di sela kesibukan.

Mungkin April 2016 adalah bulan yang membuat saya menyadari ‘kepuasan’ saat saya berkelana sendirian. Perasaan tidak bisa diungkapkan saat saya berada di tengah sand bank di Maladewa. Tanpa menyadari saya ada di tengah samudera, yang bisa saja ombak besar menyapu kapan pun. Perasaan panik bercampur senang tak terasa menjadi candu, yang memaksa saya beresolusi mengulang perjalanan itu lagi.

Saya yakin anda sudah pernah merasakan berada di sebuah tempat di mana anda menikmati menghirup udara segar tiap tarikan nafas anda, panorama pegunungan bercampur es, safari hewan liar yang berlarian, atau akhirnya bisa memotret patung Liberty secara langsung. Momen itulah yang ingin saya ingatkan kepada anda semua.

Momen di mana kita membagikan melalui cerita dan kopi selama berjam-jam bersama teman. Tanpa anda sadari, Anda mengingat semua indera tubuh Anda mencoba mendeskripsikan momen itu tanpa bosan. Menyenangkan bukan?

Itulah momen menghargai dan merayakan perjalanan yang sesungguhnya dengan diri sendiri. Bukan cuma unggahan penuh filter dan caption indah terangkai di media sosial. Unggahan di media sosial adalah album foto daring, bukan cerita lengkapmu. Kadang, kepuasan perjalanan ditunjukkan dari kepuasan diri sendiri saat hari terakhir perjalanan kita.

Setidaknya itu hal yang membuat saya berefleksi di hari terakhir setiap perjalanan. Tidak jarang momen tersebut saya akhiri dengan senyuman tipis saat saya duduk di dalam pesawat menunggu take off. Bersama sahabat saya, kami selalu tertawa saat mengingat diusir dari kursi kereta menuju Innsbruck, Austria, karena tiket yang kami beli palsu, sehingga kami harus duduk di depan toilet gerbong. Atau bahkan kami terkesan dengan pegawai hotel di Phnom Penh yang terlewat ramahnya, dan ia mengajak kami berfoto karena kami adalah turis Indonesia pertamanya.

Dengan aksen Kamboja yang kental ia berkata, “If you ever visit Siem Reap, please stay here again sir!” Sampai saya menulis artikel ini saja, saya masih tersenyum sendiri. Itu lebih membuat saya terngiang ketimbang mendapatkan ‘likes’ di Instagram.

Atau bahkan saat saya berkelana sendiri dan harus mengejar bus jam 5 pagi di Isle of Man, pemilik hotel sampai membuatkan bekal roti dan susu untuk dibawa.

Percaya pada tujuan bukan awal perjalanan — bukan demi konten daring.

Jika motivasimu terbatas pada dunia daring, tujuan perjalananmu hanya terbatas pada apresiasi daring. Apresiasi akan perjalananmu pun akan sementara.

Memang tak terhindarkan perasaan iri akan liburan orang lain pasti akan melanda kita semua. Tidak membandingkan diri sendiri dengan orang lain itu sulit. Makin banyak kita melihat unggahan foto kawan di Instagram dengan beragam filternya — semakin memicu kita untuk mendapatkannya. Namun kembali lagi, bisakah sebelum menekan tombol membeli tiket, kita berpikir untuk apa kita jalan-jalan kali ini?

Saya pun percaya, berkelana itu artinya kita sudah percaya dengan diri sendiri, termasuk akan semua risikonya — bukan sekadar nekat demi konten.

Karena kadang tak perlu jauh ke Greenland untuk mencari kebahagiaan itu, bisa jadi dengan makan roti di toko roti langganan di Singapore, kita sudah terpuaskan.

Betul jika ada orang berkata, jika kemampuanmu baru bisa ke Solo, dan bukan Oslo, maka jalanilah. Jika hostel merupakan pilihanmu dan bukan resor ternama, maka nikmatilah. Hidup terlalu sulit jika kita terjerumus dalam keniscayaan perbandingan dengan orang lain. Sekali lagi, memang sulit untuk tidak membandingkan dirimu. Namun jadikanlah itu untuk motivasi mengenal dirimu lebih dalam. Memang yang nampak di media sosial adalah kesempurnaan, namun apakah kita menginginkan itu dalam hidup nyata kita? Atau hanya di hidup maya? Tak ada yang ingin pulang dari liburan merasakan penyesalan.

Sekarang, rayakanlah perjalanan untuk dirimu, bukan dunia darimu.

Related Articles

Card image
Self
Lesson Learned: Depresi

Merasa sedih itu bagian dari hidup, tapi kalau sampai berlarut-larut dan menganggu aktivitas itu pertanda ada yang perlu dibenahi atau kamu perlu segera cari bantuan professional. Kita tidak bisa sepenuhnya mengontrol atau mengendalikan apa yang terjadi dan kita alami dalam hidup, tapi kita bisa mengendalikan cara kita memproses pengalaman tersebut. Tidak mudah tapi kita pasti bisa.

By Trisa Triandesa
31 July 2021
Card image
Self
Kesehatan Mental Harus Dibicarakan

Bicara tentang kesehatan mental, masih banyak sekali orang di masyarakat kita yang belum percaya bahwa seseorang bisa memiliki gangguan mental. Akhirnya, orang-orang yang mengalami hal tersebut enggan untuk menceritakan apa yang dirasakan dan memendamnya sendiri. Padahal ia sangat membutuhkan pertolongan untuk keluar dari kemelut benaknya. 

By Carissa Perruset
31 July 2021
Card image
Self
Yang Pergi dan Tak Terlupakan

Bagi kita kepergian orang yang dekat apalagi kita sayangi memang membawa derita dan luka mendalam. Apalagi orang tersebut begitu baik atau berjasa. Kenangan tentang mereka terkadang begitu indah tiada bercela. Tidak jarang proses berduka dialami dalam jangka waktu yang tidak singkat.

By Dr. Clara Moningka
31 July 2021