Self Lifehacks

On Marissa's Mind: Mengatasi Penolakan

Marissa Anita

Jurnalis & Aktris

Kita semua pasti pernah mengalami penolakan dalam hidup, apa pun bentuknya – gagal masuk sekolah impian, lamaran kerja nggak diterima, atau kontrak kerja nggak diperpanjang, di-ghosting orang, ditolak orang yang kita sukai, nggak diundang ke sebuah acara kemudian kita melihat teman kita hadir dan posting acara itu di medsos. Sakit rasanya, ya?

Apa itu penolakan?

Kita merasa ditolak ketika kita tidak disertakan, diterima, atau diakui, dan ini bisa membuat kita merasa tidak diinginkan dan tidak cukup baik (Sharon Martin, 2021). Kita juga merasa ditolak ketika kehilangan sesuatu, seseorang yang pernah kita miliki, atau mengharapkan sesuatu tapi nggak pernah kesampaian.

Ketika kita ditolak, memang rasanya sakit. Kita jadi merasa malu dan ingin cepat-cepat menyangkal atau melupakan perasaan nggak nyaman ini. Tapi mengapa penolakan terasa begitu menyakitkan? Sebuah studi yang memetakan aktivitas otak FMRI menunjukkan ketika seseorang ditolak, bagian otak yang aktif sama dengan ketika kita mengalami sakit fisik. Rasa sakit ini adalah salah satu mekanisme bertahan hidup.

Sebuah studi yang memetakan aktivitas otak FMRI menunjukkan ketika seseorang ditolak, bagian otak yang aktif sama dengan ketika kita mengalami sakit fisik. Rasa sakit ini adalah salah satu mekanisme bertahan hidup.

Jaman dulu sekali, ketika seseorang dikucilkan dalam sebuah suku, rasanya seperti hukuman mati dan ia yang dikucilkan biasanya sulit bertahan hidup. Karena inilah, menurut psikolog evolusioner, otak manusia kemudian mengembangkan sistem peringatan dini – merasakan sakit ketika ditolak – agar kemudian terdorong untuk memperbaiki perilaku untuk mengurangi kemungkinan ditolak di masa datang (Winch, 2013).

Meski menyakitkan, penolakan adalah bagian dari hidup. Tidak ada yang bisa menjamin kita tidak akan mengalaminya di masa datang. Maka itu, yang kita bisa lakukan hanya mengendalikan bagaimana kita bereaksi terhadap penolakan.

Meski menyakitkan, penolakan adalah bagian dari hidup.

Respon setiap orang terhadap penolakan macam-macam. Ada yang malu dan menyalahkan diri secara berlebihan, kemudian menarik diri dari berbagai kesempatan baru hanya karena takut sakit jika gagal; Ada yang malu kemudian menyalahkan atau balas dendam terhadap orang yang menolaknya. Sejumlah reaksi ini muncul karena penolakan sering membuat kita kehilangan harga diri, merasa tidak cukup. Tapi tidak juga harus seperti ini.

Lantas bagaimana baiknya kita mengatasi penolakan sambil terus menjaga semangat dalam hidup?

1. Akui rasa sakitnya.

Jika mau menangis, menangislah. Proses rasa sakit ini dengan cara yang Anda rasa paling pas untuk Anda – saya pribadi biasanya memproses dengan menulis buku harian, olah tubuh, atau diskusi dengan orang yang saya percayai atau menangis sekalian, biar lega. Psikolog Guy Winch bilang menghabiskan waktu dengan seseorang atau sekelompok orang yang menyayangi, menghargai dan menerima Anda apa adanya terbukti menenangkan setelah penolakan (Winch, 2013). Cara lain, bisa curhat ke psikolog, berada di alam, atau memberi perawatan diri sedikit ekstra? A relaxed body equals a relaxed mind.

2. Betul. Rasa sakit akibat penolakan ini valid, tapi perasaan ini bukan fakta.

Maksudnya, penolakan itu bukan selalu karena kita. Ada berbagai faktor di luar kendali kita yang bisa membuat kita ditolak sehingga tak perlu menyalahkan diri secara berlebihan. Contoh, kita gagal dapat job karena CEO memutuskan untuk mempekerjakan ponakannya (kita sadar secara pengalaman kita lebih banyak, tapi siapa yang bisa mengontrol kalau CEO sudah bulat mempekerjakan ponakannya sendiri kan?); atau teman kencan tidak lagi ngontak setelah kencan pertama (bisa jadi dia merasa kurang cocok, bisa jadi ternyata dia belum siap kencan lagi setelah pisah dengan pasangan sebelumnya). So many external possibilities.

3. Ubah pola pikir. Penolakan bukan berarti Anda orang yang gagal.

Anda bisa melihat penolakan sebagai bagian dari proses hidup yang normal dan perlu, sebagai batu loncatan bagi Anda untuk terus mengasah kemampuan Anda untuk menjadi lebih baik dan lebih siap ketika kesempatan berikutnya datang. Seperti kata penulis Stoik Ryan Holiday, “The obstacle is the way!” Ubah cobaan/tantangan menjadi kemenangan! Penolakan bisa jadi juga menjadi berkah tersembunyi.

Setiap orang butuh waktu berbeda-beda untuk memproses kekecewaan atau kesedihan setelah ditolak. Tapi yang jelas dalam hidup akan selalu ada momen baik dan momen mengecewakan. That’s just life and it’s okay.

 

 

 

 

References

Martin, S. (2021, June 14). 4 Strategies to Cope With Rejection. Psychology Today. Retrieved January 21, 2022, from https://www.psychologytoday.com/us/blog/conquering-codependency/202106/4-strategies-cope-rejection

Greenberg, B. (2020, January 4). The 3 Best Ways to Deal With Rejection. Psychology Today. Retrieved January 21, 2022, from https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-teen-doctor/202001/the-3-best-ways-deal-rejection

Rose, H. (2019, January 23). Facing Rejection. Psychology Today. Retrieved January 21, 2022, from https://www.psychologytoday.com/us/blog/working-through-shame/201906/facing-rejection

Greenberg, B. (2021, December 8). 10 Ways to Manage Rejection. Psychology Today. Retrieved January 21, 2022, from https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-teen-doctor/202112/10-ways-manage-rejection

Kim, J. (2017, September 11). How To Deal With Daily Rejection. Psychology Today. Retrieved January 21, 2022, from https://www.psychologytoday.com/intl/blog/the-angry-therapist/201709/how-deal-daily-rejection

Moore, V. (2021, June 19). Why Does Rejection Hurt So Much? Psychology Today. Retrieved January 21, 2022, from https://www.psychologytoday.com/us/blog/loss-and-resilience/202106/why-does-rejection-hurt-so-much

Winch, G. (2013, July 2). 10 Surprising Facts About Rejection. Psychology Today. Retrieved January 21, 2022, from https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-squeaky-wheel/201307/10-surprising-facts-about-rejection

Degges-White, S. (2020, April 10). What’s the Best Way to Ease the Pain of Rejection? Psychology Today. Retrieved January 21, 2022, from https://www.psychologytoday.com/us/blog/lifetime-connections/202004/whats-the-best-way-ease-the-pain-rejection

Lamia, M. C. (2018, November 4). Behind Rejection. Psychology Today. Retrieved January 21, 2022, from https://www.psychologytoday.com/us/blog/intense-emotions-and-strong-feelings/201811/behind-rejection

Durayappah-Harrison, A. (2010, December 16). Rejection: A Loser’s Guide. Psychology Today. Retrieved January 21, 2022, from https://www.psychologytoday.com/us/blog/thriving101/201012/rejection-losers-guide

Winch, G. (2015, December 8). Why Rejection Hurts So Much - And What To Do About It. Ideas.Ted.Com. Retrieved January 21, 2022, from https://ideas.ted.com/why-rejection-hurts-so-much-and-what-to-do-about-it/

Rejection. (n.d.). Good Therapy. Retrieved January 21, 2022, from https://www.goodtherapy.org/learn-about-therapy/issues/rejection

https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/14551436/

Related Articles

Card image
Self
Perbedaan dalam Kecantikan

Perempuan dan kecantikan adalah dua hal yang tidak akan pernah terpisahkan. Cantik kini bisa ditafsirkan dengan beragam cara, setiap orang bebas memiliki makna cantik yang berbeda-beda sesuai dengan hatinya. Berbeda justru jadi kekuatan terbesar kecantikan khas Indonesia yang seharusnya kita rayakan bersama.

By Greatmind x BeautyFest Asia 2024
01 June 2024
Card image
Self
Usaha Menciptakan Ruang Dengar Tanpa Batas

Aku terlahir dalam kondisi daun telinga kanan yang tidak sempurna. Semenjak aku tahu bahwa kelainan itu dinamai Microtia, aku tergerak untuk memberi penghiburan untuk orang-orang yang punya kasus lebih berat daripada aku, yaitu komunitas tuli. Hal ini aku lakukan berbarengan dengan niatku untuk membuat proyek sosial belalui bernyanyi di tahun ini.

By Idgitaf
19 May 2024
Card image
Self
Perjalanan Pendewasaan Melalui Musik

Menjalani pekerjaan yang berawal dari hobi memang bisa saja menantang. Menurutku, musik adalah salah satu medium yang mengajarkanku untuk menjadi lebih dewasa. Terutama, dari kompetisi aku belajar untuk mencari jalan keluar baru saat menemukan tantangan dalam hidup. Kecewa mungkin saja kita temui, tetapi selalu ada opsi jalan keluar kalau kita benar-benar berusaha berpikir dengan lebih jernih.

By Atya Faudina
11 May 2024