Self Lifehacks

On Marissa's Mind: Sabotase Diri

Marissa Anita

Jurnalis & Aktris

“Kita adalah musuh terbesar kita sendiri”. Itu yang kira-kira diungkapkan filsuf Friedrick Nietzsche. 

Kita manusia secara umum ingin bahagia, biasanya dalam hubungan atau karir. Tapi perhatikan, tidak sedikit dari kita malah (tanpa sadar) berperilaku seakan mau merusak jalan menuju kebahagiaan kita sendiri.

Contoh, dalam hal cari pasangan. Anda berkesempatan kencan dengan orang yang sebetulnya pas untuk Anda. Tapi, bukannya menikmati kencan ini, Anda malah ngajak tengkar, atau melakukan hal yang tidak menyenangkan hingga kencan ini rusak. Akhirnya, teman kencan tidak jadi suka dengan Anda.

Bagi yang sudah berpasangan, semua sedang baik-baik saja, tetiba Anda cari alasan untuk bertengkar hebat dengan orang yang Anda sayangi. Tujuannya (tanpa sadar) untuk mendorong/memaksa pasangan untuk meninggalkan Anda.

Dalam karir, Anda bertahun-tahun bekerja dengan tekun. Tapi giliran ada pengumuman promosi, Anda tetiba bertingkah di kantor, agar bos tidak memilih Anda untuk dipromosikan.

Ini terjadi, dan ini adalah bentuk-bentuk sabotase diri.

Sabotase diri adalah perilaku atau pola pikir yang menahan atau mencegah Anda melakukan apa yang Anda ingin lakukan atau inginkan untuk mencapai kebahagiaan.

Seseorang yang menyabotase diri biasanya dengan sengaja menciptakan masalah dalam kehidupan sehari-hari yang merugikan diri sendiri bahkan mengganggu tujuan jangka panjang.

Bentuk sabotase diri yang paling umum di antaranya prokrastinasi, perfeksionisme, “mengobati diri” dengan obat terlarang atau alkohol, makan berlebihan karena stres, melukai diri sendiri, berkonflik dengan orang lain.

Mengapa sabotase diri terjadi? 

Kita telusuri masa kecil. 

(1) Bisa jadi waktu kecil Anda tumbuh di lingkungan yang penuh kesedihan, kekhawatiran atau ketakutan. Ini memaksa Anda "terbiasa" dengan kemalangan sehingga kebahagiaan menjadi sesuatu yang aneh/berlawanan dengan intuisi. Bahkan, kebahagiaan bisa jadi sesuatu yang terasa menakutkan.

Ketika dewasa, Anda jadi orang yang lebih memilih kemalangan dibandingkan sesuatu yang sebenarnya lebih baik untuk kebahagiaan Anda. Buat Anda, kemalangan terasa lebih pasti, lebih bisa dikendalikan, pilihan yang lebih "aman". Sementara kebahagiaan tergantung takdir, terasa terlalu berisiko.

Anda mengira sabotase diri adalah bentuk kendali. Tapi, ini pemahaman yang tidak tepat, bukan? 

Ini selaras dengan penelitian neuropsikolog klinis dan forensik Dr Judy Ho. Menurutnya, akar sabotase diri adalah naluri alami manusia untuk (i) mendapatkan imbalan (ii) menghindari ancaman. Sabotase diri biasanya terjadi ketika dorongan Anda mengurangi ancaman jauh lebih tinggi daripada dorongan Anda mendapatkan imbalan.

(2) Perasaan rendah diri juga menyebabkan sabotase diri. Seseorang yang rendah diri percaya ia tidak pantas menerima hal baik dalam hidupnya. It's a self-fulfilling prophecy. Ketika kita yakin bahwa kita tidak pantas menerima kebahagiaan, ya akhirnya kita tidak akan pernah bahagia.  

Menurut Maria Montessori, di usia 0-6 tahun, otak anak menyerap banyak hal. "Ia tidak hanya mengingat apa yang ia lihat dan dengar. Apa yang dia lihat dan dengar ini juga membentuk jiwanya."  

Misal waktu kecil, orang tua Anda sering mengatakan, 'ya memang anak saya ini nggak terlalu pintar (atau) anak saya ini pemalu (atau) anak saya ini minderan'. 

Ketika Anda dewasa, itulah yang Anda percaya sehingga Anda kurang motivasi untuk mencoba sesuatu yang sebetulnya baik untuk diri Anda. That's the power of labelling. 

(3) Takut perubahan atau sesuatu yang belum diketahui. Kebanyakan dari kita memang tidak suka perubahan. Dan untuk merasa nyaman/secure, kita butuh punya kendali dan tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ketika rasa takut akan perubahan ini berlebihan, Anda akan membatasi diri, diam di zona nyaman, terjebak dalam pola membosankan daripada mendorong diri ke tingkat hidup yang sebetulnya lebih memuaskan.

Contoh, Anda menerima saja diperlakukan tidak baik oleh orang lain selama bertahun-tahun hanya karena takut mengganggu ketenangan palsu atau menghadapi konsekuensi yang tidak jelas. Learned helplessness.

(4) Sabotase diri juga bisa terjadi pada ia yang gila kontrol (control freak). Ini biasanya terjadi pada ia yang berprestasi tinggi. Dalam menggapai sesuatu, jika Anda tahu dalam perjalanannya Anda tidak punya kontrol penuh sehingga Anda tidak bisa menjamin hasil sesempurna ekspektasi Anda, Anda lebih baik mundur dari awal. Lebih baik mengontrol kegagalan sendiri daripada harus terkejut dengan hasil tak terduga. Alhasil, hilang kesempatan. 

Semua perilaku sabotase diri ini cenderung terjadi di luar kesadaran kita. Lantas bagaimana stop sabotase diri? 

Menurut Alice Boyes, penulis The Healthy Mind Toolkit, kita harus terlebih dulu menyadari dan mengakui bahwa kemungkinan besar kitalah hambatan terbesar diri kita sendiri mencapai hidup yang kita mau. Kita bisa mulai keluar dari sabotase diri dengan satu pertanyaan: “Adakah perilaku saya yang tidak sejalan dengan tujuan jangka panjang?”

Setelah menyadari, selidiki lebih dalam dengan bertanya pada diri sendiri dan jawab pertanyaan-pertanyaan ini dalam tulisan. Setelah paham akar sabotase diri, hentikan perilaku yang menghambat dan mulailah lakukan hal-hal yang mendukung kemajuan kita. 

Contoh:

SABOTASE DIRI: "Saya ingin bahagia sama pasangan. Pasangan saya orang yang baik buat kehidupan saya. Tapi kenapa saya ajakin berantem mulu ya?" 

SELIDIKI AKAR: "Perasaan ini sepertinya berakar dari melihat bapak mengkhianati ibu berkali-kali, jadi ketika dewasa, saya gampang menuduh pasangan nyeleweng padahal tanpa dasar." 

SOLUSI/ TINDAKAN: "Jika saya merasa insecure, saya akan bicarakan baik-baik apa yang saya rasakan dengan pasangan, sehingga dia bisa membantu saya memproses trauma ini." 

SABOTASE DIRI: "Kenapa ya saya pelarian ke makanan atau alkohol ketika saya sedang merasa down?" 

SELIDIKI AKAR: "Saya merasa rendah diri. Perasaan ini sangat membuat saya tidak nyaman." 

SOLUSI/ TINDAKAN: "Namun mabuk atau makan banyak terus-terusan tidak akan menghilangkan perasaan ini secara permanen. OK, mungkin aku butuh bantuan psikoterapis untuk membantuku keluar dari masalah ini."

Yuk, stop sabotase diri, berikan diri kesempatan untuk menjadi versi terbaik demi hidup yang memuaskan.

 

Referensi:

Bernstein, J. (2020, October 25). Two Proven Ways to Overcome Self-Sabotage. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/liking-the-child-you-love/202010/two-proven-ways-overcome-self-sabotage

Boyes, A. (2018, May 16). How to Stop Sabotaging Yourself. Greater Good Magazine. https://greatergood.berkeley.edu/article/item/how_to_stop_sabotaging_yourself

Dillard-Wright, D. B. (2018, July 27). Getting in Our Own Way. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/au/blog/boundless/201807/getting-in-our-own-way

Everly, G. (2020, January 7). Self Sabotage: How to Recognize and Conquer It. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/when-disaster-strikes-inside-disaster-psychology/202001/self-sabotage-how-recognize-and-conquer

Hendriksen, E. (2017, February 18). 6 Reasons Why We Self-Sabotage. Scientific American. https://www.scientificamerican.com/article/6-reasons-why-we-self-sabotage/

Hendriksen, E. (2017). Why Do We Self-Sabotage?. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/how-be-yourself/201710/why-do-we-self-sabotage

Ho, J. (2019, November 2). Why We Self-Sabotage. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/unlock-your-true-motivation/201911/why-we-self-sabotage)

Nietzsche, F. (n.d.). Quotable Quote. Good Reads. Retrieved July 21, 2021, from https://www.goodreads.com/quotes/331586-but-the-worst-enemy-you-can-meet-will-always-be

Raypole, C., & Brito, J. (2019, November 20). How Self-Sabotage Holds You Back. Healthline. https://www.healthline.com/health/self-sabotage

Self Sabotage. (n.d.). Psychology Today. Retrieved July 21, 2020 from https://www.psychologytoday.com/us/basics/self-sabotage

The School of Life. (2016, December 30). Self Sabotage. https://youtu.be/ni-Gqp9-Has

Why Your Child's Brain is Like a Sponge. (n.d.). Age of Montessori. Retrieved July 21, 2020, from https://ageofmontessori.org/why-your-childs-brain-is-like-a-sponge/

Related Articles

Card image
Self
Proses Menerima Kehilangan

Proses penerimaan saat menghadapi momen kehilangan memang tentu berbeda-beda bagi setiap individu. Banyak fase yang harus kita lalui mulai dari sedih, menghindari percakapan dengan orang lain, frustrasi, depresi, hingga akhirnya kita bisa menerima apa yang terjadi. Ada juga yang memilih untuk memendam dan menyimpan rasa yang kita miliki, tapi dari pengalaman, kami juga belajar bahwa kita tidak harus melalui semuanya sendirian.

By Duara
23 October 2021
Card image
Self
Lesson Learned: Otak Kanan vs. Kiri

Kamu tipe orang otak kanan yang kreatif atau otak kiri yang analitis dan logis? Kalaupun kamu tidak tahu tipe yang mana mungkin setidaknya pernah dengar “tes kepribadian” terkait ini atau mungkin melihat judul artikel berita atau judul buku soal perbedaan otak kanan dan kiri. Pemahaman mengenai perbedaan gaya berpikir dan kepribadian berdasarkan sisi otak yang lebih dominan merupakan MITOS. Tapi sayangnya awam dijadikan pembenaran atau rasionalisasi.

By Trisa Triandesa
23 October 2021
Card image
Self
Jurnal Sebagai Wadah Luapan Rasa

Konsep kebahagiaan dan kesejahteraan kini dimaknai dengan semakin dalam untuk generasi yang paham pentingnya self-care di masa yang cukup menuntut diri kita di lintas area kehidupan. Kesejahteraan dan kebahagiaan, atau lebih ramah kita kenal sebagai welfare dan wellbeing, adalah istilah yang kini sering digunakan secara tumpang tindih di banyak media.

By Georgina Wait
23 October 2021