Self Lifehacks

Segala Alasan Untuk Percaya Pada Agama

Greatmind

@greatmind.id

Redaksi

Ilustrasi Oleh: Robby Garsia (Atreyu Moniaga Project)

Dalam film Angels & Demons terdapat sebuah kutipan tentang agama yang dapat menjadi refleksi kita semua, “Agama bercela karena kita manusia bercela.” Pernah tidak kita kurang setuju dengan ajaran agama orang lain? Atau bahkan heran dengan apa yang ada di ajaran agama kita sendiri? Agama adalah sebuah ajaran penuh interpretasi yang bisa diserap secara berbeda antar manusia. Bukan agamanya yang salah, tapi kadang manusia yang tidak sempurna inilah yang kurang dapat menafsirkan atau bahkan memiliki perspektif yang berbeda akan suatu dogma di dalam agama tersebut.

Lalu mengapa kita beragama? Alasan utamanya memang terletak pada agama sebagai warisan. Memang, di Indonesia dan banyak negara lainnya agama diturunkan dari generasi ke generasi. Sehingga kita seakan terlahir dengan agama yang orangtua kita percaya. Namun mungkin beranjak dewasa kita pernah bertanya: Mengapa saya harus beragama? Sebenarnya hal ini berkaitan erat dengan budaya. Sebagai masyarakat yang tinggal di negara berbudaya, agama pun menjadi sangat mudah masuk ke dalam keseharian kita. Lihat saja masyarakat Bali yang mayoritas memeluk agama Hindu. Agama dan budaya mereka tak dapat terpisahkan. Secara tidak sadar ketika kita terbiasa melakukan sebuah tradisi atau ritual maka kita pun menjalankan ajaran agama. Namun terlebih dari sekadar menghormati budaya atau orangtua, terdapat beragam alasan untuk percaya pada ajaran agama.

Agama adalah sebuah ajaran penuh interpretasi yang bisa diserap berbeda antar manusia. Bukan agamanya yang salah, tapi kadang manusia yang tidak sempurna inilah yang kurang dapat menafsirkan.

Beberapa peneliti menemukan bahwa agama adalah produk kemanusiaan yang bekerja dalam otak dan hati kita. Setiap agama mengajarkan kita untuk percaya pada suatu hal yang besar. Pada alam yang luas yang telah diciptakan untuk kita. Seakan kita adalah makhluk paling mulia di muka bumi dengan segala kecintaan Tuhan untuk kita. Kita memiliki “kepercayaan” pada diri kita sendiri sebagai pribadi yang kuat, pintar, dan luar biasa. Kepercayaan yang ditanamkan oleh semua agama ini juga yang membuat kita memberikan sugesti pada diri sendiri bahwa semuanya baik-baik saja selama percaya pada ajaran agama tersebut. Percaya pada hal besar yang akan terjadi pada hidup, yang dapat melindungi kita dari kesulitan dan mara bahaya.

Setiap agama mengajarkan kita untuk percaya pada suatu hal yang besar. Kepercayaan yang ditanamkan oleh semua agama ini juga yang membuat kita memberikan sugesti pada diri sendiri bahwa semuanya baik-baik saja selama percaya pada ajaran agama tersebut.

Kepercayaan ini dibentuk dari banyaknya afirmasi positif dalam ritual agama yang seringkali kita ucapkan. Misalnya saja pada pesan-pesan positif yang kita baca pada kitab suci. Selama hidup kita membacanya berulang kali dan menyuntikkan kalimat yang sama. Repetisi tersebut bermain dengan otak kita, menyimpan memori yang kuat untuk nantinya berhembus ketika kita berada dalam kesedihan dan mencari afirmasi yang dapat membantu kita termotivasi kembali. Tidak lain kala kita berdoa, mengucapkan harapan berbagai harapan dalam kondisi yang tenang, khusyuk, dan penuh kesadaran. Kala kita berbicara pada Tuhan, situasi kontemplatif yang menyentuh dunia spiritual membuat otak kita fokus pada kata-kata yang kita ucapkan. Berdoa pun menjadi medium untuk memberikan sugesti pada diri untuk percaya harapan yang diucapkan itulah yang akan terjadi. 

Kala kita berbicara pada Tuhan, situasi kontemplatif yang menyentuh dunia spiritual membuat otak kita fokus pada kata-kata yang kita ucapkan. Berdoa pun menjadi medium untuk memberikan sugesti pada diri.

Seperti yang juga sudah disampaikan sebelumnya tentang agama mengajarkan kebaikan. Setiap ajaran agama mengajarkan kita untuk meningkatkan simpati dan empati terhadap sesama. Menolong dan membantu sesama. Terlebih menjadi seseorang yang baik. Arti baik di sini adalah tidak merugikan orang lain, melanggar aturan agama yang juga dapat dikategorikan sebagai kriminalitas. Sehingga secara tidak langsung kita memiliki panduan untuk berbuat baik, untuk tetap berada di  dalam jalur yang “benar” agar tercipta harmoni antar manusia. Ketika berbuat baik – kebanyakan untuk orang lain, kita akan merasakan bahagia. Bagaimana orang tersebut berterima kasih pada kita, merasa kita telah menolong, dan menjadi pribadi yang terpuji. Dari perasaan bahagia ini pula otak kita akan melepaskan hormon yang membentuk pikiran positif di mana panduan berbuat baik tersebut juga melatih diri untuk disiplin, hidup teratur. Bayangkan apabila dunia ini carut marut tanpa adanya hukum. Mungkin kita akan berada dalam perang setiap hari.

Agama, apapun itu, seberapapun banyaknya pemeluk, mengajarkan untuk hidup secara harmonis dalam kelompok. Betul, terkadang kelompok-kelompok ini dapat berakibat adanya pertentangan antar agama. Tapi dalam satu agama biasanya terlibat lebih dari satu atau dua suku, bahkan kewarganegaraan. Sisi baiknya dari hidup beragama, berkelompok adalah kita belajar untuk bersatu dalam satu ajaran meski memiliki perbedaan. Kita berusaha untuk menyentuh individu lebih banyak untuk hidup secara kolaboratif memperjuangkan apa yang dipercaya, mengubah dunia. Itulah mengapa kita butuh eksistensi agama dalam kehidupan. Esensi agama membantu kita memahami diri sendiri, orang lain, dan dunia meski tetap kebaikanlah fokusnya. Bukan kekuasaan, menjadi superior atas agama lain dan pribadi lain.

Agama membantu kita memahami diri sendiri, orang lain, dan dunia

Related Articles

Card image
Self
Perbedaan dalam Kecantikan

Perempuan dan kecantikan adalah dua hal yang tidak akan pernah terpisahkan. Cantik kini bisa ditafsirkan dengan beragam cara, setiap orang bebas memiliki makna cantik yang berbeda-beda sesuai dengan hatinya. Berbeda justru jadi kekuatan terbesar kecantikan khas Indonesia yang seharusnya kita rayakan bersama.

By Greatmind x BeautyFest Asia 2024
01 June 2024
Card image
Self
Usaha Menciptakan Ruang Dengar Tanpa Batas

Aku terlahir dalam kondisi daun telinga kanan yang tidak sempurna. Semenjak aku tahu bahwa kelainan itu dinamai Microtia, aku tergerak untuk memberi penghiburan untuk orang-orang yang punya kasus lebih berat daripada aku, yaitu komunitas tuli. Hal ini aku lakukan berbarengan dengan niatku untuk membuat proyek sosial belalui bernyanyi di tahun ini.

By Idgitaf
19 May 2024
Card image
Self
Perjalanan Pendewasaan Melalui Musik

Menjalani pekerjaan yang berawal dari hobi memang bisa saja menantang. Menurutku, musik adalah salah satu medium yang mengajarkanku untuk menjadi lebih dewasa. Terutama, dari kompetisi aku belajar untuk mencari jalan keluar baru saat menemukan tantangan dalam hidup. Kecewa mungkin saja kita temui, tetapi selalu ada opsi jalan keluar kalau kita benar-benar berusaha berpikir dengan lebih jernih.

By Atya Faudina
11 May 2024