Self Health & Wellness

Sehat Berpuasa Saat Corona

Sebagian orang cukup khawatir ketika harus berpuasa di masa corona seperti sekarang ini. Ada yang berpikir kalau mengurangi asupan sehari-harinya dapat meningkatkan risiko terjangkit virus COVID-19. Padahal sebenarnya itu semua hanya soal pola makan yang sehat disertai dengan pikiran yang sehat pula. Memang banyak orang yang kecemasannya meningkat di saat pandemi ini dirasakan. Sehingga secara tidak sadar kecemasan tersebut memengaruhi pemilihannya terhadap makanan. Berbagai kecemasan yang hadir di rumah dapat membuat seseorang yang memiliki kecemasan tinggi mengalami emotional eating. Salah-salah di saat berpuasa ia akan melampiaskan emotional eating itu di saat buka puasa setelah 12 jam menahan lapar. Akhirnya asupan yang dipilih kurang bernutrisi dan asal kenyang saja. Kondisi ini justru dapat lebih memberikannya risiko untuk terserang virus.

Memang banyak orang yang kecemasannya meningkat di saat pandemi ini dirasakan. Sehingga secara tidak sadar kecemasan tersebut memengaruhi pemilihannya terhadap makanan.

Beberapa riset membuktikan bahwa 80% para penderita di Belanda mengalami risiko terserang virus akibat kelebihan berat badan atau obesitas. Begitu pula yang terjadi di Inggris. Faktanya adalah seseorang dengan perut buncit memiliki lemak yang mengelilingi organ dalam. Lemak tersebut kemudian menghasilkan zat yang bisa membuat tubuh meradang. Di sana tubuh sibuk memerangi sesuatu seperti seakan dalam kondisi marah. Kalau tubuh terus meradang karena bertambahnya lemak, akhirnya ketahanan tubuh kita pun akan berkurang. Sedangkan virus corona yang masuk ke tubuh juga memunculkan peradangan. Sehingga kalau virus tersebut masuk di saat tubuh sudah mengalami peradangan, jadilah tubuh kesulitan menyembuhkan peradangan tersebut. 

Secara sederhana berarti kita harus berupaya untuk mencegah terjadinya peradangan di dalam tubuh dengan pemilihan asupan yang tepat. Tapi memang kadang kita sulit untuk menghindari keinginan menikmati makanan khas berpuasa. Dan bukan berarti harus benar-benar sepenuhnya menghindari. Sebaliknya kita harus bisa mempelajari tubuh sendiri. Kapan dan seberapa banyak mengonsumsi makanan tersebut. Ibaratkan tubuh bekerja seperti mobil dengan mesin yang bekerja 24 jam meskipun sedang tertidur. Agar dapat berjalan, mobil membutuhkan bensin yang cukup. Bensin di sini dimaksudkan sebagai asupan makanan yang mana kalori dalam makanan bisa dibilang menjadi bensin tidak kasat mata. Sehingga kalau kita bisa mengatur kalori dalam asupan makanan, tubuh kita dapat tercukupi secara seimbang. Dalam sehari tubuh kita butuh kurang lebih 1.800-2.000 kalori, tergantung massa tubuh masing-masing orang. Kalau memang sulit untuk menurunkan berat badan paling tidak membuatnya tubuh tidak mengalami kenaikan berat badan dapat tetap menjaga daya tahan tubuh. Menemukan asupan yang bijak adalah kunci yaitu asupan dalam porsi besar, mengenyangkan tapi berkalori kecil.

Menemukan asupan yang bijak adalah kunci yaitu asupan dalam porsi besar, mengenyangkan tapi berkalori kecil.

Sayur-sayuran harus ada dalam menu sahur atau berbuka sebab kalorinya yang kecil kurang lebih 25 kalori per 100 gram. Protein juga amat penting untuk menjaga daya tahan tubuh. Ayam, ikan, tahu, tempe, dan telur mengandung asam amino. Mengonsumsi protein dapat membantu tubuh memperbaiki organ yang rusak atau meradang tadi. Begitu juga untuk memerangi penyakit yang menyerang sel darah putih seperti corona. Kalau kita orang Indonesia terbiasa makan nasi, sebenarnya nasi tidak bisa dibilang jahat. Akan tetapi jumlahnya saja yang harus diatur. Sedangkan untuk mereka yang memiliki diabetes pilihlah nasi dengan serat tinggi seperti nasi merah agar gula darahnya naik pelan-pelan sehingga tidak langsung menaikan gula darah. Nasi merah juga bisa membuat kita kenyang lebih lama. Sehingga di kala berpuasa rasanya bisa jadi solusi. 

Kalau biasanya kita tidak banyak menggunakan rempah, di masa pandemi jahe dan temulawak berperan penting untuk jadi antioksidan yang dapat membantu meredakan peradangan di dalam tubuh. Serat, vitamin, dan mineral seperti yang ada pada jamur disebut-sebut juga sebagai corona fighter. Berfungsi untuk membantu kekebalan tubuh dan mengikat radikal bebas. Sedangkan makanan dengan kandungan krim, gula, dan tepung (disebut corona slugger) dapat menghambat kekebalan tubuh. Pada minuman boba milk tea atau pada martabak misalnya. Banyaknya gula dan tepung di dalamnya bisa mengganggu kinerja pankreas yang mengolah makanan. Apalagi kalau dikonsumsi untuk berbuka puasa ketika pankreas baru saja beristirahat. Saat pankreas disuruh langsung bekerja berat dalam satu waktu bisa-bisa mengalami peradangan juga. Selain itu tingginya gula pada asupan makanan kita juga bisa meningkatkan kandungan gula pada pembuluh darah sehingga bisa merusak sel-sel darah. Di Cina sebuah studi menemukan pasien-pasien dengan histori diabetes dan kardiovaskular berisiko lebih tinggi terjangkit virus corona. 

Contoh pola makan ketika puasa yang bisa saya anjurkan adalah ketika berbuka mulailah dengan teh manis atau sirup atau madu bisa ditambah kurma atau buah-buahan. Lalu berikan jeda sebentar untuk mengistirahatkan pankreas selagi shalat terlebih dahulu. Setelah itu barulah makan besar dengan nasi, sayur dan lauk. Sedangkan ketika sahur saya menganjurkan serat yang tinggi seperti oat, nasi merah, chia seed ditambah lauk, sayur atau sup. Dalam sehari konsumsi air putih 8-10 gelas juga amat penting untuk meningkatkan cairan dalam tubuh. Apalagi saat berpuasa cairan tubuh banyak berkurang. Lebih pentingnya lagi adalah kita harus memahami betul tubuh kita. Memiliki pengetahuan yang cukup tentang kondisi tubuh dan mengerti efek makanan tertentu pada tubuh. Kemampuan memiliki makanan yang tepat disertai dengan emosi yang sehat dapat membantu kita tetap sehat meski harus berpuasa di kala pandemi.

Lebih pentingnya lagi adalah kita harus memahami betul tubuh kita. Memiliki pengetahuan yang cukup tentang kondisi tubuh dan mengerti efek makanan tertentu pada tubuh.

Related Articles

Card image
Self
Lesson Learned: Depresi

Merasa sedih itu bagian dari hidup, tapi kalau sampai berlarut-larut dan menganggu aktivitas itu pertanda ada yang perlu dibenahi atau kamu perlu segera cari bantuan professional. Kita tidak bisa sepenuhnya mengontrol atau mengendalikan apa yang terjadi dan kita alami dalam hidup, tapi kita bisa mengendalikan cara kita memproses pengalaman tersebut. Tidak mudah tapi kita pasti bisa.

By Trisa Triandesa
31 July 2021
Card image
Self
Kesehatan Mental Harus Dibicarakan

Bicara tentang kesehatan mental, masih banyak sekali orang di masyarakat kita yang belum percaya bahwa seseorang bisa memiliki gangguan mental. Akhirnya, orang-orang yang mengalami hal tersebut enggan untuk menceritakan apa yang dirasakan dan memendamnya sendiri. Padahal ia sangat membutuhkan pertolongan untuk keluar dari kemelut benaknya. 

By Carissa Perruset
31 July 2021
Card image
Self
Yang Pergi dan Tak Terlupakan

Bagi kita kepergian orang yang dekat apalagi kita sayangi memang membawa derita dan luka mendalam. Apalagi orang tersebut begitu baik atau berjasa. Kenangan tentang mereka terkadang begitu indah tiada bercela. Tidak jarang proses berduka dialami dalam jangka waktu yang tidak singkat.

By Dr. Clara Moningka
31 July 2021