Self Art & Culture

Tak Perlu Takut Ketinggalan Tren

Primo Rizky

@primorizky

Penulis & Penerbit

Illustration By: @MutualistCreatives

“Sudah coba restoran hits di daerah elit itu?”

“Sudah nonton film terbaru?”

“Sudah punya gadget terkini?”

“Sudah datang ke pameran seniman eksentrik itu?”

Bukan satu dua kali kita mendengar pertanyaan-pertanyaan seperti itu dari orang di sekitar kita. Pertanyaan intimidatif yang seakan jawabannya akan memengaruhi penghakiman atas diri kita sebagai manusia urban yang trendi atau tidak.  

“Ah, nggak gaul deh.” Biasanya cibiran seperti itu yang justru didapat saat kita enggan mengikuti tren yang tengah berkembang.

Pertanyaannya, apakah memang wajib hukumnya untuk kita selalu mencicipi hal-hal baru? Apa memang manusia harus selalu trendi?

Sebenarnya tak ada yang salah dengan mencoba hal baru. Karena pada kenyataannya, tanpa disadari otak manusia memang selalu tergerak kepada hal-hal yang belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya. Dalam beberapa hal, mencoba sesuatu yang baru merupakan sebuah bentuk pembelajaran.

Namun yang harus diwaspadai adalah apabila pembaruan tersebut hanya sekedar pemenuhan kepuasan seperti keharusan untuk membeli barang terbaru atau mencoba hal-hal baru hanya karena semua itu ‘baru’ atau sedang tren. Konon, mereka yang sering tergerak oleh hal-hal baru seperti itu merupakan orang-orang yang kurang bahagia terhadap dirinya sendiri. Hal baru menjadi sebuah simbol bagi diri mereka yang lebih baik. Di luar kesadaran, dengan memiliki sesuatu yang baru tersebut mereka menjadi pribadi lain dan meninggalkan kualitas diri yang tidak disenangi sebelumnya. Antusiasme seseorang terhadap hal baru berbanding lurus dengan keinginannya untuk melepaskan diri.

Problematika seperti ini yang pada akhirnya kerap mengarah pada sindrom FOMO atau fear of missing out di mana seseorang akan merasa khawatir ‘tertinggal’ dari orang-orang sekitarnya karena tidak mengikuti atau memiliki sesuatu yang baru. Bagi beberapa orang mungkin mereka bisa cuek dengan situasi tersebut. Namun sebagian besar justru malah semakin tertekan.

Sekarang cobalah berpikir ulang. Mengapa kita tidak coba untuk berpuas diri dengan situasi yang ada tanpa harus tergesa-gesa mengikuti hal-hal baru. Ini lah antitesis dari FOMO: JOMO – joy of missing out. Pada prinsipnya, JOMO mendorong kita untuk merangkul kebahagiaan menjadi diri sendiri dengan apa yang kita miliki saat ini. JOMO adalah tentang memahami diri sendiri; kebutuhan dan keinginan diri untuk menjalani hidup yang membawa kebahagiaan.

Dengan memahami kebahagian melalui apa yang kita miliki saat ini, pada akhirnya kita tidak memerlukan lagi hal-hal baru untuk meng-upgrade diri. Karena yang terpenting adalah menjalani hidup dengan tenang dan terus merasa bahagia.

Related Articles

Card image
Self
Lesson Learned: Depresi

Merasa sedih itu bagian dari hidup, tapi kalau sampai berlarut-larut dan menganggu aktivitas itu pertanda ada yang perlu dibenahi atau kamu perlu segera cari bantuan professional. Kita tidak bisa sepenuhnya mengontrol atau mengendalikan apa yang terjadi dan kita alami dalam hidup, tapi kita bisa mengendalikan cara kita memproses pengalaman tersebut. Tidak mudah tapi kita pasti bisa.

By Trisa Triandesa
31 July 2021
Card image
Self
Kesehatan Mental Harus Dibicarakan

Bicara tentang kesehatan mental, masih banyak sekali orang di masyarakat kita yang belum percaya bahwa seseorang bisa memiliki gangguan mental. Akhirnya, orang-orang yang mengalami hal tersebut enggan untuk menceritakan apa yang dirasakan dan memendamnya sendiri. Padahal ia sangat membutuhkan pertolongan untuk keluar dari kemelut benaknya. 

By Carissa Perruset
31 July 2021
Card image
Self
Yang Pergi dan Tak Terlupakan

Bagi kita kepergian orang yang dekat apalagi kita sayangi memang membawa derita dan luka mendalam. Apalagi orang tersebut begitu baik atau berjasa. Kenangan tentang mereka terkadang begitu indah tiada bercela. Tidak jarang proses berduka dialami dalam jangka waktu yang tidak singkat.

By Dr. Clara Moningka
31 July 2021