Circle Lifehacks

Belajar Saling Mendengar

REKAMP

@rekamp._

Program Kolaborasi Musik

Awalnya kami hanya berniat untuk berkumpul sebagai sesama musisi. Terlebih karena kami memiliki kegelisahan yang sama sebagai musisi indie di tengah situasi sekarang ini. Gagasan mengenai camp musik ini hadir untuk menghubungkan teman-teman lama sekaligus mengembangkan diri melalui musik, maka akhirnya terlaksanalah Rekamp. Setiap individu memiliki tujuan awal dan latar belakang yang berbeda. Ada yang memang baru meniti karir sebagai musisi, ada juga yang lebih berpengalaman dalam hal produksi yang cenderung lebih teknis. Beberapa musisi yang terlibat diantaranya adalah Angelana, Cellosux, Irsay Agni, LUZERN, Nadhif Basalamah, Ringgo 5, dan RMHRTO.

Menggabungkan banyak kepala dalam suatu project bersama artinya adalah kami harus bisa saling kompromi satu sama lain. Mengutip kalimat dari salah satu mentor kami, Iga Masardi (Baraswara), menjadi teman dan rekan kerja adalah dua hal yang berbeda. Kita bisa saja dengan santai berbincang sebagai teman, tapi kerjasama dalam pekerjaan adalah tentang menurunkan ego dan kesediaan kita untuk mendengar gagasan orang lain. Langkah awal untuk bisa saling menekan ego dan berkompromi adalah dengan memahami dan lebih mengenal satu sama lain. Sehingga kita dapat mengerti mengapa seseorang dapat memiliki sudut pandang yang mungkin saja berbanding terbalik dengan kita. Tidak mudah memang untuk bisa memahami seseorang dalam waktu singkat, tapi kami belajar mengenai hal ini. 

Langkah awal untuk bisa saling menekan ego dan berkompromi adalah dengan memahami dan lebih mengenal satu sama lain.

Selama masa camp kami belajar bahwa setiap orang memiliki perannya masing-masing. Setiap orang penting dengan porsinya tersendiri. Ada yang lebih bersemangat untuk mengutarakan ide yang mereka miliki, ada yang juga yang lebih nyaman untuk membantu mengembangkan ide yang telah hadir. Kami saling melengkapi satu sama lain. Bekerjasama juga artinya kita tidak lantas memonopoli panggung. Terkadang sulit untuk saling memberi warna dalam karya kolaboratif, tapi ini bisa dipelajari. Tetap menunjukkan warna masing-masing individu tanpa menghapuskan warna yang lain.

Setiap orang memiliki perannya masing-masing. Setiap orang penting dengan porsinya tersendiri. Ada yang lebih bersemangat untuk mengutarakan ide yang mereka miliki, ada yang juga yang lebih nyaman untuk membantu mengembangkan ide yang telah hadir. Kami saling melengkapi satu sama lain.

Beragam agenda kami lalui bersama-sama. Mulai dari proses perumusan ide, rekaman, games hingga api unggun. Proses rekaman adalah salah satu yang paling berkesan. Selain karena kami juga pada dasarnya adalah musisi tetapi juga lantaran perbincangan yang hadir saat rekaman dilakukan. Bagaimana kita saling menurunkan ego dan mengendalikan diri untuk mencapai tujuan bersama yang kita inginkan. Selain itu, berkumpul bersama dalam agenda api unggun dipenghujung hari juga menjadi momen-momen yang berkesan bagi kami. 

Kami juga berkesempatan mendapatan mentoring dari Iga Masardi dan Petra Sihombing. Banyak pelajaran yang dapat kami ambil, khususnya sebagai musisi saat ingin melakukan kerjasama ataupun mengenangkan diri sendiri sebagai musisi. Terkadang kita bisa saja terjebak dalam zona nyaman berkarya. Jika mungkin karya kita terdengan aneh, tidak masalah. Jika kamu hanya membuat sesuatu yang terasa familiar, maka karyamu juga akan sama seperti jutaan orang di luar sana. Lakukan apa yang kamu mau, jangan batasi idemu dalam batasan yang sebenarnya tidak benar-benar ada. Coba temukan warnamu sendiri dalam berkarya, hingga saat orang lain melihat mereka akan langsung tahu itu karyamu. 

Jika kamu hanya membuat sesuatu yang terasa familiar, maka karyamu juga akan sama seperti jutaan orang di luar sana. Lakukan apa yang kamu mau, jangan batasi idemu dalam batasan yang sebenarnya tidak benar-benar ada.

Banyak hal yang didapatkan melalui proyek kolaborasi ini. Salah satunya adalah akhirnya kami melahirkan karya kolektif dalam bentuk EP bertajuk “It’s Not So Sunny”. Selain itu kami juga ikut bertumbuh sebagai individu. Ada banyak aspek yang tak sengaja terlatih melalui Rekamp. Seperti skill komunikasi, bagaimana kita menentukan pendekatan komunikasi yang tepat terhadap berbagai karakter individu yang terlibat. Bersosialisasi dengan orang baru dalam waktu singkat juga memaksa kami untuk bisa lebih cepat memahami orang lain. Tak lupa juga tentunya kami belajar banyak mengenai bagaimana teknis produksi yang baik dalam memproduksi musik.

Salah satu indikasi kolaborasi yang sehat adalah munculnya mutual respect antar individu yang terlibat. Memahami mungkin saja beberapa orang lebih beruntung dari yang lain, tapi kami tetap berusaha melihat ini dengan perspektif yang lebih cerah. Melihat bagaimana setiap individu mengahadapi masalah dan memroses masalah yang terjadi. Saling belajar satu sama lain. Memahami betul apa tujuan kita saat melakukan kolaborasi juga menjadi salah satu hal penting yang pantas diingat. Menjaga komunikasi dan berani mencoba untuk menyampaikan ide ataupun opini yang kita miliki membatu kita untuk bisa saling memahami. Jangan takut untuk mengeluarkan ide yang kamu punya seaneh apa pun itu. Jangan takut salah, karena itu memang bagian dari proses yang harus dilalui.

Jangan takut untuk mengeluarkan ide yang kamu punya seaneh apa pun itu. Jangan takut salah, karena itu memang bagian dari proses yang harus dilalui.

Pada akhirnya Rekamp ini bukan hanya tentang memproduksi musik terbaru, tetapi juga untuk belajar satu sama lain dan memahami ada orang lain yang juga masih sama-sama berjuang saat ini. Angka yang ditunjukkan mungkin belum terlalu besar, tetapi secara personal kami sangat menikmati setiap momen yang dilalui selama Rekamp. Prosesnya sendiri adalah bentuk apresiasi terhadap perjuangan kami. Kami pun menyadari angka bukan lah segalanya, tetapi proses pembelajaran yang kita lalui adalah inti dari kolaborasi yang kami lakukan.  

Prosesnya sendiri adalah bentuk apresiasi terhadap perjuangan kami. Kami pun menyadari angka bukan lah segalanya, tetapi proses pembelajaran yang kita lalui adalah inti dari kolaborasi yang kami lakukan.  

Related Articles

Card image
Circle
Perbedaan Bukan Halangan

Kita perlu akui bahwa di Indonesia, hubungan beda agama masih menjadi masalah besar. Kalau kita tidak mampu menyelesaikan masalahnya, saling kompromi saat berproses, pasti ada sesuatu yang terjadi di depan.  Kami berdua sama-sama yakin dan percaya bahwa memang agama itu sebuah hal yang diturunkan di bumi untuk hal-hal yang positif. Tidak mungkin kemudian kita berdua ribut, ujungnya karena agama.

By Della Dartyan
04 December 2021
Card image
Circle
Perjalanan Melalui Kegagalan

Perasaan gagal dan ragu akan diri sendiri memang menjadi salah satu permasalahan yang sedang dihadapi oleh banyak orang, terlebih generasi Millennial dan Gen Z. Bagi mereka yang mungkin sudah memasuki tahun ke-5 atau 6 perjalanan karir mereka, mulai timbul pertanyaan apakah memang ini pilihan yang tepat untuk masa depan?. Merasa bahwa dirinya tidak berkembang, ditambah dengan segala potongan informasi semu yang terpampang di media sosial.

By Greatmind X Festival Pulih
27 November 2021
Card image
Circle
Keraguan Untuk Kembali Jatuh Cinta

Sebuah penelitian mengatakan bahwa komponen dari rasa cinta adalah rasa saling membutuhkan, saling percaya, optimisme, serta kegembiraan tetapi di sisi lain juga berhubungan dengan perasaan depresi, gelisah, serta kehilangan fokus dan sulit untuk berkonsentrasi. Fakta ini bisa terasa sangat kontradiktif. Jatuh cinta memang sering kali membuat kita bingung sebenarnya bagaimana kita menghadapi perasaan positif dan negatif yang datang bersamaan.

By Sivia Azizah
20 November 2021