Circle Health & Wellness

Bercakap Bersama Twinda Rarasati: Sembuh Dari Covid-19

Marissa Anita

@

Jurnalis & Aktris

Ketika kangen dengan teman-teman, saya terkadang suka mencari jejak-jejak aktivitas terkini mereka melalui search engine (mesin pencari) di internet. Suatu hari saya teringat salah satu teman ngopi, Twinda Rarasati. Sudah lebih dari setengah tahun saya tidak bertemu muka dengannya karena pandemi.

Kaget dan khawatir ketika mendengar Twinda dan suami, Narendra Pawaka, terkena Covid-19. Saya langsung kirim pesan untuk tanya kabar. Tak lama, lega rasanya mendengar ia dan suami sudah dinyatakan negatif Covid-19 dan baik-baik saja.

Dari pertukaran kabar kita, Twinda bersedia melanjutkan percakapan tentang perjalanannya, dari menerima diagnosa positif Covid-19 hingga melewati proses penyembuhan dari virus yang sudah hampir setahun berada di tengah kita semua.

Marissa Anita (M): Bagaimana kabarmu dan Eda sekarang?

Twinda Rarasati (T): Kita berdua lumayan sehat, lumayan happy sekarang. Alhamdulilah kita berdua sudah dinyatakan sembuh dari Covid-19 bulan Oktober kemarin. Kita sudah mulai melakukan aktivitas sehari-hari seperti orang pada umumnya.

M: Bagaimana ceritanya kamu dan Eda bisa kena Covid-19? Kamu dokter, jadi aku bayangkan kalian sudah menjalankan protokol kesehatan dengan disiplin.

T: Yang terjadi adalah aku nggak kemana-mana dan suatu hari Eda pulang kerja dalam keadaan lemas. 

Tengah malam hari itu, Eda demam tinggi dan menggigil. Paginya kita berdua tes PCR. Kita harus menunggu tiga hari untuk hasilnya keluar. Dalam tiga hari ini, aku dan Eda karantina mandiri di rumah daripada beresiko menulari orang lain.

Selama tiga hari itu keadaan Eda itu lumayan keok. Dia nggak sesak nafas, cuma demam tinggi. Dia nggak bisa turun dari kasur, hanya terbangun untuk makan, terus kembali lagi istirahat. [Dia] batuk dan radang tenggorokan. Tenggorakannya lumayan bengkak dan merah. Di situ aku mikir, ini bisa jadi atau bisa juga bukan Covid-19.

Tiga hari kemudian, hasilnya keluar. Eda positif, aku negatif. Aku langsung bawa Eda ke rumah sakit karena di hari ke-3 itu aku sudah mulai kewalahan. Badanku nggak enak mungkin karena tiga hari itu tidurku kurang karena bangun untuk kompres Eda yang temperatur tubuhnya panas sekali tiap tengah malam.

Setelah bawa Eda ke rumah sakit, aku tes PCR lagi karena aku bisa saja terinfeksi Covid selama tiga hari itu merawat Eda.

Aku pulang, rumah aku bersihkan dan disinfektan. Aku isolasi mandiri. Malam itu aku demam, 38.3 derajat celsius sampai siang besoknya.

Hasil tes aku positif. Di situ aku sudah dalam keadaan lemas dan ngerasa nggak mungkin bisa ngerawat diri sendiri. Akhirnya aku masuk rumah sakit juga. 

M: Eda waktu itu situasinya seperti apa sehingga terpapar Covid-19?

T: Waktu itu Eda sudah aktif kerja di luar di beberapa tempat. Mungkin dia pulang dengan kondisi imun yang sudah turun. Mungkin kecapaian karena ada beberapa pekerjaan yang mewajibkan dia pergi pagi pulang pagi. Imun-nya drop, terus kena.

M: Orang yang kena Covid-19 dan dirawat rumah sakit, proses penyembuhannya seperti apa? Mengingat vaksin untuk Covid-19 masih dalam tahap pengembangan.

T: Perawatan di rumah sakit cukup singkat. Aku tiga hari, Eda empat hari.

Yang paling mengganggu buat aku waktu itu adalah gejala sakit kepala. Aku nggak bisa bangun dari tempat tidur. Kalau aku bangun kelamaan, aku pusing dan kayak pengen jatuh terus. Karena benar-benar nggak bisa ngapa-ngapain akhirnya harus dirawat di RS.

Ketika dirawat, pusingku berkurang. Tiga hari kemudian, aku ngerasa baik-baik saja. Aku tanya ke dokter, "Dok, boleh nggak saya melanjutkan karantina mandiri di rumah?" Dengan catatan aku dan suami sudah sama-sama bisa merawat diri sendiri.

Waktu aku masuk ke UGD, aku nunggu empat jam dan ada enam orang lain yang sedang mencari kamar untuk Covid-19. Kita berpikir sepertinya kita cukup “sehat” untuk merawat diri sendiri di rumah sampai hasil kita negatif sehingga kita bisa kasih kamar ini ke orang lain yang mungkin lebih butuh. 

M: Waktu di RS, perawatan seperti apa yang kalian jalani?

T: Tenaga medis kasih kita obat setiap hari ada sepuluh biji, delapan jenis.

M: Serius?

T: Ya. Meski aku dokter, buat aku minum pil sebanyak itu juga usaha.

M: Apa saja obat yang dikasih, Twin?

T: Antibiotik, vitamin, anti virus, obat sakit kepala. Aku juga sempat dapat injeksi anti mual karena beberapa obat yang dikasih punya efek samping buatku.

M: Jadi kamu sama Eda minum obat sepuluh biji setiap hari?

T: Ya. Itu obat pagi saja, ya. Malamnya minum sekitar empat hingga enam biji.

M: (Marissa menganga)

T: Itu belum termasuk injeksi pagi dan siang hari. Waktu melanjutkan perawatan di rumah, kita dikasih obat minum saja.

M: Protokol isolasi mandiri seperti, Twin?

T: Untungnya aku dan Eda tidak tinggal dengan anggota keluarga lain. Jadi kita benar-benar mengurangi kontak dengan dunia luar.

Bagi yang masih tinggal dengan anggota keluarga lain, yang sakit harus membatasi ruang geraknya, pakai masker di rumah, kamar mandi harus khusus untuk yang sakit, begitu juga dengan ruang tidur. Alat makan dan alat mandi juga terpisah. Bukan untuk mengucilkan yang sakit, tetapi juga melindungi yang sehat.   

M: Misal seseorang kena Covid-19, bagaimana ia mengukur apakah dia harus dirawat di rumah sakit atau isolasi mandiri saja?

T: Jika pemeriksaan PCR-nya positif, kita bawa diri ke rumah sakit. Di rumah sakit akan dicek lagi apakah ada gelaja, seberapa berat penyakitnya. Berat atau tidak penyakit dilihat dari pemeriksaan penunjangnya: dari darah, foto paru-paru, ada keluhan yang membutuhkan sampai dirawat di rumah sakit atau nggak.

Dalam kasus aku, aku sakit kepala sampai nggak bisa bangun dari kasur. Ini berarti aku nggak bisa merawat diri sendiri. Kalau sampai ada gejala sesak nafas, itu membutuhkan bantuan dari rumah sakit. Tapi kalau seseorang nggak ada gejala dan keluhan atau kita kenal dengan OTG (Orang Tanpa Gejala), boleh melanjutkan perawatan dengan isolasi mandiri.

M: Setelah dua minggu isolasi mandiri, kamu sembuh?

T: Dari panduan tata laksana, ada dua kriteria orang sembuh dari Covid-19. Kalau dulu berdasarkan 2 x PCR dengan hasil negatif. Kalau sekarang tergantung derajat sakitnya. Kalau aku waktu itu derajatnya masih ringan. Jadi aku cuma butuh 10 + 3 hari karantina mandiri dari ketika hasil PCR dinyatakan positif. Ini sebenarnya sudah boleh kembali ke masyarakat karena dianggap risiko penularan itu sudah minimal.

Dalam kasus aku, aku ngobrol sama dokter yang merawat aku, "Dok, [pekerjaan membuat saya] kontak dengan banyak orang. Meski tetap jaga jarak, menurut dokter gimana?" Akhirnya dengan pertimbangan ini, dokter menyarankan kita tunggu sampai kriteria dua kali PCR dengan hasil negatif. Untuk yang menentukan sembuh atau nggak, ternyata pertimbangan dokter yang merawat.

Total [perawatan] sampai aku negatif itu tiga minggu. [Dalam tiga minggu itu] aku PCR empat kali. 

M: Hari-harimu isolasi mandiri sama Eda seperti apa?

T: My days were fine (hari-hariku baik-baik saja). Ternyata menyenangkan dikarantina bersama Eda. Hahaha...

M: Karena kalian berdua jadi nggak sibuk...

T: Yes. Akhirnya kita punya waktu berkualitas bersama. Menyenangkan ketika dikarantina bersama seseorang, apalagi dia pasanganku. Kita main board games, bikin podcast, melakukan keseharian kita bersama di rumah. 

Tapi aku selalu keok, selalu jatuh mentalnya ketika aku dipisah sama Eda. Ketika aku harus menjalani perawatan itu sendiri.

Kayak waktu aku bawa Eda ke RS, aku harus pulang nunggu [sendirian], di situ badan aku drop. Kemudian ketika aku dinyatakan negatif, tapi Eda masih positif, kita harus dipisah seminggu.

M: Mental kamu drop saat itu karena apa?

T: Waktu kita dipisah, yang aku pikirin saat itu adalah pasanganku gimana. Ketika aku harus dipisah untuk kedua kalinya — ketika hasilku negatif dan dia masih positif — itu udah mulai berpikir tentang ekonomi. Waktu Eda masih positif, aku berpikir berapa kali lagi tes yang dia harus jalankan; berapa banyak biaya yang akan kita keluarkan untuk sejumlah tes Covid-19 ini; kemudian mikir, "Kapan ya kita bisa ketemu lagi?"

M: Setelah kalian sembuh, apakah ada perubahan secara fisik atau mental sebelum dan setelah kena Covid-19?

T: Kalau aku secara fisik dan mental nggak begitu melihat perubahan yang signifikan. Mungkin aku gendutan karena aku harus makan teratur di rumah. Hahaha! Dari pengalaman kena Covid-19, aku jadi semakin paham bahwa panik itu tidak berguna.

M: Maksudnya?

T: Ketika aku dinyatakan positif Covid-19, yang pertama aku kabari adalah orang-orang terdekat seperti orang tua dan mertua. Aku merasakan kebisingan yang luar biasa dimana semua orang punya pendapat. Tapi kembali lagi, yang menjalani adalah kita — minum obat dan lain sebagainya. Ketika kita lagi panik, emosi naik turun. Ketika lagi bising, tenangkan diri dulu, nggak usah buru-buru. Ketika panik, nggak bisa mikir.

Aku waktu itu jadinya membatasi, nggak terlalu banyak balas chat. Kalau pun balas, aku rapel, terus aku taruh lagi ponselnya.

Aku banyak menghabiskan waktu membaca buku, salah satunya yang ngebantu banget judulnya How to Stay Sane dari School of Life, penulisnya Philippa Perry.

M: Aku udah baca buku itu dan aku suka sekali buku itu!

T: Aku menghabiskan buku itu. Bikin catatan-catatan sendiri. Baca buku bikin tenang.

M: Adaptasi perilaku di publik setelah kamu sembuh dari Covid-19 adakah?

T: Sekarang aku lagi sibuk di dunia per-emcee-an dan moderator. Aku paham risiko pekerjaanku cukup besar karena ada di tengah masyarakat di masa pandemi. Jadi aku memastikan, kalau aku pergi kerja di suatu tempat, timku juga aman dan sehat. Aku copot masker ketika aku on air saja. Ketika selesai, pakai lagi. Kalau ada briefing sehari sebelum, lewat Zoom saja. Make up dan hairdo aku persiapkan dari rumah untuk meminimalisir kontak dengan orang lain. Buat aku aman, buat orang yang ketemu aku juga bisa merasa aman. Beberapa event minta aku untuk melampirkan hasil swab antigen terakhir. Jika itu diperlukan untuk membuat mereka dan aku merasa aman, ya aku lakukan.

M: Setelah sembuh ada perspektif yang berubah nggak dalam hidup?

T: Kadang kita suka fokus pada yang negatif saja. Muncullah trend toxic positivity. Tapi setelah aku sembuh dari Covid-19, aku mikir nggak apa-apa lho untuk melihat sisi positif dari hal apa pun. Karena ketika kita dinyatakan positif Covid-19, kita butuh energi positif dari orang lain karena itu yang menguatkan kita menjalani penyakit itu.

Karena manusia makhluk sosial, kita nggak bisa sendiri. Se-introver apa pun seseorang, kita butuh terkoneksi satu sama lain.

Orang suka bilang, "Sehat selalu ya." Kalimat ini berarti banget buat aku karena kalau kita doakan orang sehat selalu, kita mendoakan dia selamat dari pandemi.

Related Articles

Card image
Circle
Perjalanan Menemukan Makna dan Pentingnya Pelestarian Budaya

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kadang kita lupa bahwa pada akhirnya yang kita butuhkan adalah kembali ke akar budaya yang selama ini sudah ada, menghidupi kembali filosofi Tri Hita Karana, di mana kita menciptakan keselarasan antara alam, manusia, dan pencipta. Filosofi inilah yang coba dihidupkan Nuanu.

By Ida Ayu Astari Prada
25 May 2024
Card image
Circle
Kembali Merangkai Sebuah Keluarga

Selama aku tumbuh besar, aku tidak pernah merasa pantas untuk disayang. Mungkin karena aku tidak pernah merasakan kasih sayang hangat dari kedua orang tua saat kecil. Sejauh ingatan yang bisa aku kenang, sosok yang selalu hadir semasa aku kecil hingga remaja adalah Popo dan Kung-Kung.

By Greatmind
24 November 2023
Card image
Circle
Pernah Deep Talk Sama Orang Tua?

Coba ingat-ingat lagi kapan terakhir kali lo ngobrol bareng ibu atau bapak? Bukan, bukan hanya sekedar bertanya sudah makan atau belum lalu kemudian selesai, melainkan perbincangan yang lebih mendalam mengenai apa yang sedang lo kerjakan atau usahakan.

By Greatmind x Folkative
26 August 2023