Circle Love & Relationship

Menghadapi Patah Hati

SATI

@thisissati

Situs Hubungan dan Percintaan

Patah hati. Dua kata yang seringkali kita hindari. Rasanya tidak ada seorang pun yang mau merasakan patah hati. Tapi, kenapa patah hati rasanya begitu menyakitkan? 

Salah satu alasannya adalah karena kita merasakan begitu banyak perasaan saat patah hati. Sedih, marah, bingung, kecewa, semua bercampur jadi satu. Dalam ilmu psikologi, patah hati karena putus hubungan bisa disebabkan oleh adanya perubahan identitas diri. Kita yang tadinya terikat, berdua, menjadi sendiri. Perubahan inilah yang secara tidak sadar membuat kita kebingungan atas identitas baru. 

Sebagai manusia biasa yang punya perasaan, tentu saja kita tidak bisa langsung move on setelah putus hubungan. Dan itu amat wajar. Biasanya, kita akan melewati lima fase putus hubungan sebelum akhirnya masuk ke fase ke-6 yaitu move on.

Sebagai manusia biasa yang punya perasaan, tentu saja kita tidak bisa langsung move on setelah putus hubungan. Dan itu amat wajar.

Fase pertama adalah shock atau terguncang. Biasanya di fase ini, kita masih percaya tidak percaya akan keputusan yang dibuat. Masih belum ingin merasakan emosi apa yang ada dalam diri. Terkadang malah di fase ini kita bisa merasa “baik-baik saja” seperti tidak akan ada yang berubah. 

Fase kedua adalah penyangkalan. Di fase ini kita berusaha mengabaikan perasaan yang timbul, mencari kesibukan untuk melupakan apa yang terjadi. Bahkan tidak jarang kita selalu menunjukkan perilaku yang biasa saja. “Life must go on!” begitu kata kita kepada teman-teman. 

Fase ketiga adalah marah. Ketika menyangkal kita tidak sadar ada unsur kemarahan yang belum terlepaskan. Bisa saja ketika sedang bekerja tiba-tiba bisa terpikir, “Kenapa sih dia begitu? Sampai minta putus segala! Memang aku tidak bisa cari orang lain?!”.

Namun ternyata saat kita dalam fase marah, segala perasaan itu masih ada sehingga kita masuk ke fase keempat yaitu tawar-menawar. Dalam otak kita bergemuruh dan mencoba memanipulasi diri dengan berandai-andai: “Kalau aku hubungi dia, dia masih akan balas tidak ya? Kalau aku minta kembali, dia masih mau tidak ya?”.

Setelah itu barulah kita tiba di masa-masa “depresi” yang mengantar kita pada fase kelima. Ini adalah masa di mana kita baru bisa melepaskan semua perasaan. Menangis tersedu-sedu, bahkan sampai hilang nafsu makan. Tapi jangan khawatir, di sinilah kita baru bisa jujur pada diri sendiri, merasakan semua emosi yang ada. Kemudian, ketika lima fase ini sudah dialami, biasanya barulah kita bisa masuk ke dalam fase terakhir yaitu penerimaan. 

Di fase tersebut, perasaan marah, sedih, dan kecewa masih ada. Kadang mendengar nama si dia masih mudah teringat kenangan di masa lampau. Meskipun demikian, di fase ini sebenarnya kita sudah mulai bisa menerima dan melihat sisi baik dari keputusan tersebut. Akan tetapi sebelum masuk ke fase terakhir, ada baiknya kita perlu melewati proses pemetaan emosi agar tidak menyisakan perasaan di masa lampau ketika hendak move on. Salah satunya dengan memahami konsep Atlas of Emotions.

Atlas of emotions adalah teori tentang regulasi emosi yang berasal dari psikolog Paul Ekman dengan dukungan dari Dalai Lama. Secara sederhana Atlas of Emotion mengajarkan kita untuk menyadari emosi apa yang sedang dirasakan, memahami mengapa kita merasakannya, dan dari mana asal perasaan tersebut. Jadi, kita bisa mengenal diri sendiri lebih dekat dan merespon masalah dengan tindakan yang lebih konstruktif. Contohnya ketika kita dalam fase depresi, pasti muncul perasaan sedih yang begitu hebat. Kita bisa mencoba memetakan perasaan sedih tersebut dengan menanyakan:

Apa yang membuatku sedih sekarang?

Apakah karena sedang mendengarkan lagu sedih dan teringat dia?

Apakah ada seseorang yang sedang membicarakannya? 

Kenapa teringat padanya membuatku sedih? 

Apakah aku merasa kosong? 

Apakah aku merasa ditolak dan akhirnya merasa malu?

 

Setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dan jujur pada diri sendiri, kita pun dapat meningkatkan kesadaran dengan memetakan respon apa selanjutnya yang harus dilakukan ketika merasakan emosi tersebut. Contohnya dengan menyadari ternyata yang membuat sedih adalah perasaan kosong karena kehilangannya. Maka sebenarnya, ada tiga pilihan yang bisa dilakukan yaitu menceritakan perasaan itu kepada seseorang, menyimpannya sendiri atau mencoba mengabaikannya.

Jika kita mau menyadari betul apa yang sangat kita perlukan saat ini, tindakan yang konstruktif dan dapat membuat perasaan lebih lega adalah dengan menceritakan perasaan itu kepada seseorang. Ini adalah sebuah langkah untuk mengungkapkan perasaan sedih. Meminta dukungan orang lain ketika sedang merasa sedih dapat membantu kita melewati fase sulit tersebut. Tapi tetap saja kuncinya hanya satu: jujurlah pada diri sendiri tentang apa yang sedang dirasakan. Jangan mencoba untuk mengabaikan atau menyangkalnya.

Jujurlah pada diri sendiri tentang apa yang sedang dirasakan. Jangan mencoba untuk mengabaikan atau menyangkalnya.

Dengan memetakan perasaan, kita akan lebih sadar kondisi yang sedang dialami. Jika memang tidak baik-baik saja, kita bisa selalu menggunakan waktu yang dimiliki untuk tidak baik-baik saja. Tidak memaksakan untuk langsung kembali ceria dan baik-baik saja. Memang hanya waktu yang perlahan membuat kita merasa lebih baik dan menyembuhkan segala perasaan sedih, marah, serta kecewa. Untuk dapat melangkah kembali, kita tidak bisa langsung melompati tiga langkah sekaligus. Tidak bisa langsung ingin berada di masa depan. Kita harus menjalani hari ini. Sedikit demi sedikit. Merasakan betul proses perasaan-perasaan tidak nyaman tersebut hingga akhirnya memudar. Semoga setelah itu, kita bisa kembali berani memulai hubungan baru yang sehat dengan perasan-perasaan yang sudah tidak lagi tertinggal di masa lampau. Dan tentunya, kembali berani jatuh cinta.

Related Articles

Card image
Circle
Progresivitas Seni

Setiap orang dengan profesinya masing-masing, mungkin memiliki pemahaman yang berbeda-beda tentang belajar. Sebagai seorang seniman, menurut saya belajar adalah sebuah proses menyampaikan karya ke masyarakat yang lebih luas. Proses belajar menjadi sebuah medium untuk berbagi dan merefleksikan diri terhadap sebuah kondisi tertentu.

By Ican Harem
31 July 2021
Card image
Circle
Hidup Di Beda Generasi

Berada di lingkungan dengan orang-orang yang berasal dari lapisan generasi berbeda sangatlah menarik. Kita bisa mendapatkan referensi, pandangan, dan motivasi yang beragam untuk menambah perspektif dan pandangan baru untuk pengembangan diri. Selama kita bisa saling menghargai dan tidak mempermasalahkan adanya perbedaan itu, kita semua bisa tetap terhubung dan nyaman hidup berdampingan satu sama lain. 

By Jerome Kurnia
24 July 2021
Card image
Circle
Susah dan Senang Bersama

Tidak pernah ada yang tahu orang yang tadinya asing untuk kita ternyata bisa menjadi seorang teman baik yang melengkapi diri. Begitu pula dengan Mario Pratama dan Narendra Pawaka. Pertama kali bertemu satu sama lain, mereka tidak pernah menyangka hubungan rekan kerja akhirnya menuntun mereka menjalin hubungan pertemanan di luar ruang profesional.

By Narendra Pawaka
10 July 2021