Circle Love & Relationship

Selingkuh (Tak) Membawa Bahagia

Greatmind

@greatmind.id

Redaksi

Ilustrasi Oleh: Salv Studio

Perselingkuhan merupakan suatu hal yang begitu cepat ditanggapi secara negatif oleh banyak orang. Secepat itu mereka yang berselingkuh akan dilabeli ‘penjahat’ dan yang diselingkuhi dijadikan ‘korban’ – simpati pun akan bergulir pada mereka yang menjadi ‘korban’. Namun sesungguhnya perselingkuhan bukanlah hal yang sesederhana itu. Pasti ada sebab musabab yang kompleks yang kemudian menjadi pemicu bagi terjadinya peristiwa menyakitkan itu.

Seorang pakar seksualitas dan psikoterapis, Esther Perel, dalam buku yang bertajuk The State of Affairs memberikan sudut pandang yang sedikit berbeda mengenai perselingkuhan. Dalam penyusunannya, ia menghabiskan beberapa tahun untuk riset dengan mendengar kisah-kisah dari para pasangan-pasangan yang berselingkuh. Dari pengalamannya tersebut ia mencoba mengingatkan kita untuk jangan terlalu cepat menilai perselingkuhan sebagai sebuah kejahatan.

Perel menulis berbagai bantahan terhadap mitos-mitos mengenai perselingkuhan yang umumnya dipercayai oleh banyak orang. Salah satunya adalah anggapan “once a cheater, always a cheater” – sekali berselingkuh, selamanya akan berselingkuh. Dalam bukunya, ia menjelaskan bahwa hidup adalah sebuah jalinan kisah yang kompleks. Perselingkuhan pun sebagai bagian dari hidup bukanlah hitam-putih yang mutlak. Ada banyak alasan mengapa perselingkuhan dapat terjadi.

Meski begitu, bukan secara serta merta berselingkuh menjadi hal yang diperbolehkan. Perel sendiri menentang ide selingkuh – ketidaksetiaan, pengkhianatan, berbohong, dan segala macam aktivitas turunan dari sebuah perselingkuhan. Namun, menurut Perel, ada banyak hal yang bisa dipelajari dari sebuah perselingkuhan, “Melalui yang terburuk, kita mencoba untuk memahami yang terbaik.”

Perselingkuhan sebagai bagian dari hidup bukanlah hitam-putih yang mutlak. Ada banyak alasan mengapa perselingkuhan dapat terjadi.

Konsep mengenai tidak ada yang salah dalam perselingkuhan mungkin menjadi suatu pemikiran yang sulit diterima oleh masyarakat. Umumnya orang akan selalu menganggap bahwa perselingkuhan dimulai dari sebuah kondisi hubungan yang ‘rusak’ – kurang intimasi, permasalahan dalam komunikasi, dan sebagainya. Namun tak jarang orang dengan hubungan yang baik-baik saja justru terlibat dalam perselingkuhan.

Seringnya, menurut Perel, seseorang berselingkuh sebagai bentuk self-discovery atau penemuan jati diri. Saat berselingkuh, tanpa disadari mereka kerap menjadi versi lain dari dirinya. Mereka melakukannya bukan karena ingin meninggalkan pasangan, namun karena ingin menanggalkan pribadinya yang lama. Inilah yang terkadang menjadi jawaban mengapa banyak orang yang berada dalam hubungan yang baik-baik saja bisa terlibat dalam perselingkuhan.

Perel mencontohkan, kebanyakan wanita yang ia temui selama riset kehilangan kesadaran akan diri sendiri – mereka tidak lagi mengetahui siapa dirinya sebenarnya – terutama mereka yang telah menjadi seorang ibu. Ia menjelaskan lebih lanjut bahwa mereka lebih banyak menghabiskan waktu mengurus keluarga dan mulai mempertanyakan jati dirinya: “kemana kah aku yang dulu?” Terkadang dengan menjalin hubungan kembali dengan orang lain, mereka dapat merasa terhubung kembali dengan dirinya yang lama – persona seorang wanita yang telah lama hilang setelah menjadi istri atau ibu.

Bukan hanya pada wanita, hal yang sama pun dapat terjadi pada pria. Karena sesungguhnya bahan bakar dari sebuah perselingkuhan adalah rasa kerinduan dan kehilangan. Baik kerinduan pada diri sendiri ataupun pada rasa intimasi.

Selingkuh adalah bentuk self-discovery. Mereka melakukannya bukan karena ingin meninggalkan pasangan, namun karena ingin menanggalkan pribadinya yang lama.

Sebagaimana nilai-nilai yang telah berjalan di masyarakat selama ini, mereka yang berselingkuh akan dihukum – setidaknya secara normatif – dan mereka yang diselingkuhi seringkali dianggap lemah. “Beberapa perselingkuhan justru mengubah hubungan ke arah yang lebih baik.” Jelas Perel. Menurutnya, perselingkuhan mendorong pasangan ke dalam jurang terdalam dalam hidup. Perselingkuhan memberikan suatu krisis yang memaksa mereka berpikir kembali mengenai telah sejauh apa mereka berjalan bersama, seberapa besar cinta yang dimiliki terhadap satu sama lain, dan seberapa jauh mereka telah ‘terpisah’ dalam hubungan. Banyak orang yang pada akhirnya baru menyadari setelah berselingkuh bahwa terlalu banyak kebahagiaan yang mereka miliki dengan pasangan – dan terlalu sayang untuk dibuang begitu saja.

Perselingkuhan memaksa pasangan berpikir kembali. Sejauh apa mereka telah berjalan bersama, seberapa besar cinta yang dimiliki, dan seberapa jauh mereka telah ‘terpisah’.

Secara mendetil, Perel kemudian menjelaskan mengenai tahapan-tahapan memulihkan hubungan pasca-perselingkuhan yang ia bagi ke dalam tiga tahap:

Krisis

Saat dilanda krisis yang parah karena perselingkuhan, masing-masing harus mencari tahu dan memikirkan kembali aspek dalam hidup mereka yang membutuhkan perhatian paling utama saat terkena imbas krisis ini. Bisa jadi itu merupakan anak-anak mereka, kesehatan, atau bahkan reputasi.

Dalam fase ini biasanya pasangan membutuhkan tempat bernaung yang aman untuk meluapkan emosi-emosi yang wajar timbul. Perel merekomendasikan psikiater atau konselor hubungan untuk dijadikan sebagai ‘tempat’ aman tersebut.

Yang paling penting dalam fase ini adalah mereka yang berselingkuh diharapkan berbesar hati untuk mengakui kesalahannya dan menyampaikan penyesalan. Terkadang, ada orang yang tidak merasa menyesal karena selingkuh menjadi aktivitas eskapisnya dari sebuah permasalahan. Meski begitu, ada baiknya untuk mencoba memahami bahwa makna perselingkuhan baginya mungkin berbeda bagi pasangannya karena ada hati yang terluka.

Bagi mereka yang berselingkuh, penting juga untuk berada di samping pasangan yang dikhianati. Saat-saat seperti ini, umumnya mereka akan merasa syok dan kebingungan karena tidak bisa memercayai bahwa mereka berada di posisi terendah seperti itu – diselingkuhi. Meskipun biasanya mereka akan mengeluarkan emosi yang berbeda dan bahkan kontradiktif – sebentar marah, lalu sedih dan mengingikan untuk ditemani, lalu berganti kemarahan lainnya – biarkan saja mereka merasakan semua emosi tersebut.

Membuat Semuanya Masuk Akal

Tahapan berikutnya adalah masa di mana pasangan mulai memikirkan keadaan perselingkuhan dengan akala tau logika. Di sini lah masing-masing mulai berpikir: mengapa hal tersebut dapat terjadi? Apakah kontribusi masing-masing yang akhirnya memicu perselingkuhan oleh salah satu pihak? Apa makna dari perselingkuhan tersebut? Adakah hal yang bisa dipelajari darinya?

Menyusun Visi

Apa berikutnya? Biasanya pasangan baru dapat memutuskan kemana mereka akan melangkah selanjutnya setelah memikirkan semuanya dengan logis. Apakah keputusan untuk tetap bersama atau berpisah – tergantung masing-masing. Setiap perselingkuhan akan membawa hubungan pada tahap yang berbeda, ke arah yang lebih baik atau lebih buruk semuanya tergantung pada pribadi setiap orang dalam menyikapi.

Related Articles

Card image
Circle
Progresivitas Seni

Setiap orang dengan profesinya masing-masing, mungkin memiliki pemahaman yang berbeda-beda tentang belajar. Sebagai seorang seniman, menurut saya belajar adalah sebuah proses menyampaikan karya ke masyarakat yang lebih luas. Proses belajar menjadi sebuah medium untuk berbagi dan merefleksikan diri terhadap sebuah kondisi tertentu.

By Ican Harem
31 July 2021
Card image
Circle
Hidup Di Beda Generasi

Berada di lingkungan dengan orang-orang yang berasal dari lapisan generasi berbeda sangatlah menarik. Kita bisa mendapatkan referensi, pandangan, dan motivasi yang beragam untuk menambah perspektif dan pandangan baru untuk pengembangan diri. Selama kita bisa saling menghargai dan tidak mempermasalahkan adanya perbedaan itu, kita semua bisa tetap terhubung dan nyaman hidup berdampingan satu sama lain. 

By Jerome Kurnia
24 July 2021
Card image
Circle
Susah dan Senang Bersama

Tidak pernah ada yang tahu orang yang tadinya asing untuk kita ternyata bisa menjadi seorang teman baik yang melengkapi diri. Begitu pula dengan Mario Pratama dan Narendra Pawaka. Pertama kali bertemu satu sama lain, mereka tidak pernah menyangka hubungan rekan kerja akhirnya menuntun mereka menjalin hubungan pertemanan di luar ruang profesional.

By Narendra Pawaka
10 July 2021