Society Planet & People

Eigenrichting: Semua Bisa Menjadi Hakim?

Lewi Aga Basoeki

@legabas

Konsultan Hukum

Ilustrasi Oleh: Salv Studio

Beberapa kali kita merasa geram dengan fenomena sosial atau ketidakadilan yang terjadi di sekitar kita, termasuk yang kita baca di media sosial belakangan ini. Aksi perundungan terhadap seorang anak perempuan di bawah umur oleh teman-teman sebayanya misalnya, membuat kita langsung menjadi emosional dan langsung seolah memiliki keterikatan batin terhadap sang korban.

Keterikatan batin dan emosi itu kemudian bisa menghasilkan sikap yang berbeda-beda dan beberapa dari kita mungkin menunjukkannya di status media sosial, dimulai dari membuat opini sampai melakukan perudungan virtual kepada orang-orang yang diduga adalah pelaku perudungan tersebut.

Pertanyaannya, mengapa kita menjadi sedemikian reaktif dan emosional?

Logika Atau Emosi Semata?

Di zaman yang serba cepat ini, informasi mengalir begitu deras dan tanpa batasan. Kita dibombardir untuk mengambil informasi, yang kemudian memiliki efek lebih lanjut yaitu: kita cenderung lebih cepat mengambil kesimpulan. Opini akan suatu fenomena sosial menjadi sedemikian cepat dapat diproduksi dan kemudian didistribusikan kepada banyak orang. Proses berpikir menjadi tereduksi dan kita juga lupa melakukan pengecekan fakta ataupun logika berpikir.

Di zaman serba cepat ini, informasi mengalir begitu deras dan tanpa batasan. Efek lebih lanjutnya kita cenderung lebih cepat mengambil kesimpulan.

Belum lagi saat kita lebih mengedepankan emosi yang menjadi dasar untuk berargumen dan mengendalikan pemahaman kita akan sebuah fenomena sosial. Alangkah berbahayanya saat kita berteriak-teriak mengenai “HOAX!” justru kita turut ambil bagian di dalamnya dengan malas untuk berpikir dengan lebih jernih dan melihat dari berbagai sudut pandang ketika membuat sebuah opini.

Bagaimana jika ternyata, apa yang kita pahami justru malah salah dan tak sesuai fakta? Pertanyaan berikutnya, yang sebenarnya kita kedepankan itu logika ataukah emosi semata?

Bagaimana jika ternyata, apa yang kita pahami justru malah salah dan tak sesuai fakta?

Mudahnya Menjadi Hakim Untuk Suatu Fenomena Sosial

Saya kemudian menjadi teringat ada sebuah kata di dalam bahasa Belanda yang bernama eigenrichting, yang artinya adalah "arahan sendiri" atau terminologi tepatnya, “main hakim sendiri”. Kata ini dipergunakan untuk tindakan untuk menyelesaikan sebuah persoalan tanpa melalui proses hukum yang berlaku.

Jika di era dulu kita kerap melihat fenomena maling yang dikeroyok beramai-ramai, maka sekarang kita dengan mudah masih menemukannya di media sosial. Pelaku yang juga ‘dikeroyok’ beramai-ramai oleh jempol masyarakat melalui media sosial, seolah hal ini bukanlah merupakan bentuk tindakan barbar, karena tidak ada kekerasan fisik yang terjadi, padahal bukankah kekerasan, apa pun bentuknya dan bagaimana pun caranya tetap merupakan kekerasan.

Jika di era dulu maling dikeroyok beramai-ramai, sekarang kita dengan mudah masih menemukannya. pelaku yang juga ‘dikeroyok’ beramai-ramai oleh jempol masyarakat melalui media sosial.

Menjadi reaktif dan terlalu cepat mengambil kesimpulan adalah sebuah kemudahan untuk membuat sebuah putusan akan sebuah fenomena sosial. Penghakiman di masyarakat beralih dari yang sifatnya fisik menjadi verbal ataupun lisan di media sosial, kita pun mungkin pernah atau secara tidak sadar justru turut ambil bagian di dalamnya.

Penghakiman di masyarakat beralih dari yang sifatnya fisik menjadi verbal ataupun lisan di media sosial

Adalah baik untuk menjadi peduli terhadap fenomena sosial yang terjadi, namun menahan diri untuk tidak reaktif dan mudah menjadi hakim akan sebuah fenomena sosial tanpa melalui proses berpikir yang panjang, justru berbahaya bagi diri sendiri.

Bisa-bisa, kita juga secara tidak langsung, terlibat di dalam mata rantai kekerasan yang ada di masyarakat, tanpa pernah mau memutusnya.

Related Articles

Card image
Society
Kebaikan Bagi Semua Manusia

Keberadaan kitab suci di hidup kita menjadi sebuah pedoman untuk menghadapi segala lika-liku kehidupan. Namun selama ini, kitab suci agama Islam, Al-Qur’an, hanya tersedia di Bahasa Arab. Padahal kita bisa lebih menghayati makna jika dibuat dalam bahasa yang kita mengerti. Maka, kita bisa lebih mudah menerapkan maknanya dalam kehidupan. 

By Archie Wirija
31 July 2021
Card image
Society
Memberikan Perspektif Baru

Sayangnya, saya melihat di era modern dengan begitu banyaknya informasi dan konten yang bisa dinikmati, banyak pihak yang justru memperbanyak stereotip dan stigma. Menurut saya, nasib sebuah bangsa (salah satunya) ditentukan oleh apa yang generasi penerusnya saksikan.

By Lukman Benjamin Mulia
24 July 2021
Card image
Society
Suara-Suara Nan Bermanfaat

Saat mendengarkan audio, besar kemungkinan kita sebenarnya sedang meningkatkan fokus sebab hanya mendengar satu sumber suara dan terjauh dari distraksi suara-suara di sekitar. Apalagi saat mendengar podcast (siniar), kita sebenarnya sedang berimajinasi yang dapat mendorong untuk melatih fokus. Di saat yang sama, kita akan berada dalam fase relaksasi di mana informasi dari konten audio tersebut dapat terserap dengan baik di otak. 

By Roy Simangunsong
24 July 2021