Society Food For Thought

Food for Thought: Manusia dan Candu

Sesuatu yang terlalu banyak, berlebihan, akan selalu berdampak buruk. Terlebih, akan selalu memiliki kemungkinan untuk membuat kita kecanduan. Percaya tidak percaya, setiap dari kita pasti memiliki kecanduan akan sesuatu. Entah itu uang, jabatan, pekerjaan, pujian, atau sesederhana perhatian. Ya, ingin selalu diperhatikan bisa jadi sumber kecanduan yang dapat berujung kurang baik pada hidup kita. Dalam film-film berikut ini, kita bisa melihat bahwa seringkali manusia sulit keluar dari kecanduannya karena tidak menyadari dirinya tengah ada dalam penyangkalan. 

 

The Queen’s Gambit

Elizabeth Harmon seorang anak yatim piatu yang banyak menghabiskan waktunya di panti asuhan dengan bermain catur. Diajarkan oleh seorang tukang bersih-bersih di panti asuhannya, karakter yang dikenal dengan sebutan Beth ini akhirnya menjadi mahir bermain catur. Ketika beranjak remaja dan akhirnya diadopsi oleh sepasang suami istri, ia pun berkesempatan untuk mengikuti berbagai kompetisi catur. Beth selalu menang dan selalu harus menang. Tanpa sadar, Beth sudah masuk ke dalam kecanduannya akan kemenangan. Sehingga pada saat ia harus kalah, ia mengalami krisis identitas. Beth yang tadinya selalu jadi pemenang tiba-tiba tidak lagi menjadi seorang pemenang.

Lambat laun ia kebingungan untuk mencari tahu siapa dirinya di luar kemenangannya. Seakan tidak ada lagi yang memberikannya validasi terhadap apa yang dia lakukan. Terutama ketika ibu angkat yang selalu menemaninya bertanding meninggal. Beth bertambah bingung dan akhirnya perlahan merusak dirinya sendiri karena lagi-lagi kebingungan akan identitasnya yang berubah. Dari seseorang anak angkat yang memiliki orang tua, ia harus kembali pada identitas menjadi seorang anak sebatang kara tanpa keluarga. Akhirnya kebingungan tersebut mengantarnya pada self-destruction. Ia mencari pelarian yang merusak dirinya sendiri sebagai tanda penyangkalan bahwa ia tidak bisa menghadapi dan menerima kenyataan pahit. Ambisinya untuk menjadi seorang pemenang menjadi obsesi yang berujung pada kesulitan penerimaan diri.

 

Undoing

Mini seri Undoing bercerita tentang seorang dokter onkologi yang diduga terlibat dalam kasus pembunuhan. Bernama Jonathan Fraser, ia berasal dari keluarga terpandang yang berada di kelas sosial atas. Selain dikenal sebagai seorang dokter ahli yang sukses, ia dan istrinya juga terlihat memiliki rumah tangga yang harmonis. Tanpa masalah. Sehingga ketika terdapat bukti-bukti yang menunjukkan bahwa ia berselingkuh dengan korban dan membunuhnya, dunia di sekitarnya ikut mempertanyakan kebenaran. Terlebih sang istri, Grace Fraser, yang mencoba untuk tidak mempercayai dugaan tersebut. Ia meyakini bahwa sang suami memiliki hati yang mulia karena telah banyak menyelamatkan anak-anak penderita kanker. Tuduhan tersebut terasa jauh dari kepribadian Jonathan.

Sepanjang menyaksikan mini seri, penonton akan dibawa ke dalam berbagai analisa kriminal serta psikologi. Sedikit demi sedikit fakta pun terungkap di mana ditemukan kejanggalan kepribadian pada diri Jonathan. Sang istri yang merupakan seorang psikolog handal menyatukan keping demi keping perilaku Jonathan yang mengarah kepada Narcissistic Personality Disorder. Kecenderungan utama yang ditemukan adalah adanya perilaku grandiosity pada dirinya yaitu adanya kecenderungan untuk selalu memberikan impresi baik pada orang lain. Ia ingin dikenal menjadi seseorang yang baik. Saat menjadi seorang dokter yang menyelamatkan penderita kanker, ia merasa seolah jadi pahlawan di mana secara tidak sadar membuatnya haus pujian. Label “orang baik” menjadi candu dalam hidupnya yang lambat laun membuatnya menyangkal segala perbuatan tidak baik yang pernah dilakukan. 

 

Run

Tidak pernah ada hasil yang baik ketika kita mendengar kata posesif. Seseorang yang posesif sebenarnya telah merenggut kebebasan orang lain untuk bisa berpikir dan bertindak. Padahal setiap dari kita tidak memiliki hak untuk mengekang kebebasan manusia lainnya. Termasuk orang tua terhadap anak. Sayangnya, masih banyak orang tua yang merasa “memiliki” anaknya seutuhnya. Menganggap anak adalah sebuah kepemilikan dan ia berhak untuk mengatur seluruh kehidupannya. 

Begitulah kira-kira yang tergambar dalam film “Run”. Seorang ibu rela melakukan apapun demi anaknya tidak mengenyam dunia luar dan tetap berada di rumah, di sisi sang ibu. Kecanduannya akan perasaan memiliki membuatnya hilang akal. Ia menyangka ketika anaknya bisa bebas di luar rumah, memiliki kehidupannya sendiri, maka ia akan lupa pada ibunya dan tidak lagi cinta padanya. Sebagai orang tua, ia merasa paling tahu apa yang terbaik untuk anaknya dan segala yang dilakukan adalah bentuk cinta kasih. Padahal sikap posesifnya pada anak hanya akan berujung pada pemberontakan. Dari film ini kita bisa belajar tentang mencintai seseorang tanpa syarat dan bagaimana cinta itu bukan berarti memiliki. Bahwa apapun yang kita cintai di dunia ini, sifatnya sementara. Kita tidak bisa memaksakannya untuk selalu ada di sekitar kita selamanya. 

Related Articles

Card image
Society
Kebaikan Bagi Semua Manusia

Keberadaan kitab suci di hidup kita menjadi sebuah pedoman untuk menghadapi segala lika-liku kehidupan. Namun selama ini, kitab suci agama Islam, Al-Qur’an, hanya tersedia di Bahasa Arab. Padahal kita bisa lebih menghayati makna jika dibuat dalam bahasa yang kita mengerti. Maka, kita bisa lebih mudah menerapkan maknanya dalam kehidupan. 

By Archie Wirija
31 July 2021
Card image
Society
Memberikan Perspektif Baru

Sayangnya, saya melihat di era modern dengan begitu banyaknya informasi dan konten yang bisa dinikmati, banyak pihak yang justru memperbanyak stereotip dan stigma. Menurut saya, nasib sebuah bangsa (salah satunya) ditentukan oleh apa yang generasi penerusnya saksikan.

By Lukman Benjamin Mulia
24 July 2021
Card image
Society
Suara-Suara Nan Bermanfaat

Saat mendengarkan audio, besar kemungkinan kita sebenarnya sedang meningkatkan fokus sebab hanya mendengar satu sumber suara dan terjauh dari distraksi suara-suara di sekitar. Apalagi saat mendengar podcast (siniar), kita sebenarnya sedang berimajinasi yang dapat mendorong untuk melatih fokus. Di saat yang sama, kita akan berada dalam fase relaksasi di mana informasi dari konten audio tersebut dapat terserap dengan baik di otak. 

By Roy Simangunsong
24 July 2021