Society Planet & People

Harapan di Balik Jeruji

Berawal dari komunitas film kami yang tertarik untuk mengangkat isu yang dianggap penting dalam masyarakat. Tujuan kita adalah membuat film yang bagus secara artistik sekaligus juga menyampaikan pesan kepada masyarakat. Dalam salah satu screening film di tahun 2017, saya mendapatkan informasi menarik dari penonton bahwa ada fenomena ibu hamil dan anak yang lahir serta dibesarkan di dalam penjara. Saya rasa topik ini penting untuk dibagikan. 

Demi kepentingan riset saya mengunjungi sebuah Lembaga Pemasyarakatan (Lapas), di sana saya bertemu dengan seorang anak perempuan dengan perkiraan usia di bawah 2 tahun. Ia sendirian, tidak ada anak lain dalam lapas tersebut. Anak ini tinggal di dalam satu sel bersama 42 narapidana lainnya. Sudah pasti dia terpaksa untuk bergaul dan melihat rutinitas orang dewasa yang tidak cocok untuk anak-anak. Saat bel penjara berbunyi anak ini spontan melambaikan tangan dan masuk sel. Penjaga lapas tersebut mengatakan bahwa anak ini sudah biasa dan paham bahwa bel adalah tanda ia harus kembali masuk ke sel tahanan. Saya sangat iba pada saat itu, karena secara tidak sadar anak itu memosisikan dirinya sebagai narapidana. 

Momen ini membuat saya dan teman-teman saya merasa fenomena ini layak untuk dijadikan film sebagai edukasi. Ternyata saat kita mulai riset lebih dalam, masalah yang hadir sangat kompleks. Penjara yang kelebihan kapasitas diikuti dengan banyaknya perempuan hamil yang mejadi tahanan. Mayoritas kasus yang berkaitan dengan ibu hamil adalah kasus narkoba serta pertanyaan mengapa saat ia ditahan pihak keluarga tidak berperan, serta masalah-masalah lainnya. Kondisi penjara dan bantuan dana yang tidak jelas, membuat banyak ibu hamil yang tetap bekerja dalam penjara hingga mengalami pendarahan. 

Pembiayaan keperluan anak juga tidak ditanggung oleh negara, sehingga mengharuskan para ibu yang berada dalam tahanan bekerja lebih. Aturan yang berlaku juga menetapkan batasan bahwa usia maksimal anak berada di dalam penjara adalah 2 tahun sementara vonis sang ibu belum selesai. Anak-anak yang berada di penjara juga tetap harus mengikuti rutinitas yang sudah ditetapkan kapan mereka bisa keluar dan kapan mereka harus kembali masuk dalam sel. Beberapa lapas juga memberikan kelonggaran, agar para anak bisa sedikit lebih lama berada di luar, meski tidak lama hanya sekitar 1 jam lebih lama. 

Sebagian lapas juga menyediakan area bermain, tetapi tentu saja masih jauh dari kata ideal bagi tumbuh kembang anak. Poin utama yang paling mengkhawatirkan adalah bagaimana para anak diperlakukan selayaknya narapidana serta bergaul dengan para narapidana. Ada seorang anak yang sudah keluar dari penjara dan ikut dalam penayangan teaser film yang kami buat, tiba-tiba ia berteriak meminta masuk. Ternyata memori alam bawah sadarnya sudah merekam bahwa ia merasa seharusnya ia berada dalam sel tahanan. Anak-anak yang masih berada dalam usia golden age sangat mudah menyerap informasi dari lingkungan sekitarnya. Untuk itu penting bagi kita agar bisa memastikan sang anak tumbuh di lingkungan yang kondusif.

Anak-anak yang masih berada dalam usia golden age sangat mudah menyerap informasi dari lingkungan sekitarnya. Untuk itu penting bagi kita agar bisa memastikan sang anak tumbuh di lingkungan yang kondusif.

Kita harus bekerjasama dengan melihat apa yang dapat kita perbaiki dari kondisi ini. Fasilitas yang selama ini disediakan bagi ibu hamil dan anak dalam penjara juga masih sangat minim. Terdapat klinik tetapi untuk keperluan terbatas, bahkan di sebuah lapas alat pengukur detak jantung ibu hamil pun tidak tersedia. Para ibu hamil terkadang harus keluar untuk mendapatkan pemeriksaan, sedangkan persyaratan administrasi yang diperlukan tidak mudah. Sehingga banyak ibu hamil yang harus melahirkan dalam sel, toilet, maupun perjalanan. Setiap ibu tentu memiliki caranya sendiri dalam mendidik anak, tetapi kondisi lapas yang tidak kondusif membuat para ibu yang berstatus sebagai tahanan ini memiliki tingkat stres yang cukup tinggi. Faktanya, hampir 80%  anak-anak dalam sel tahanan yang menjadi korban kekerasan dari sang ibu.

Setiap ibu tentu memiliki caranya sendiri dalam mendidik anak, tetapi kondisi lapas yang tidak kondusif membuat para ibu yang berstatus sebagai tahanan ini memiliki tingkat stres yang cukup tinggi. Faktanya, hampir 80%  anak-anak dalam sel tahanan yang menjadi korban kekerasan dari sang ibu.

Solusi bagi masalah ini tentu tidak sederhana dan tidak terbatas. Hal pertama yang harus diperhatikan adalah tidak hanya saat sang ibu dan anak berada di dalam penjara, tetapi mulai dari alasan mengapa ibu hamil bisa masuk penjara. Mungkin kita perlu merumuskan langkah pencegahan agar ibu hamil tidak berada dalam penjara. Ketika mereka sudah keluar dan berbaur dalam masyarakat, ini juga perlu diperhatikan. Saat memang sudah terlanjur harus masuk, menurut saya perlu ada aturan atau perlakuan khusus untuk ibu hamil dalam hal kebutuhan fisik, sosial, dan psikologis. Faktor psikologis menjadi hal yang sangat berpengaruh bagi ibu dan anak. Hampir 20 jam mereka menghabiskan waktu di dalam sel. Beberapa lapas dan rutan juga sebenarnya sudah memberikan fasilitas layanan kesehatan mental. Sayangnya tidak banyak warga binaan lapas yang bersedia membagikan cerita ataupun masalahnya kepada bantuan profesional. 

Faktor psikologis menjadi hal yang sangat berpengaruh bagi ibu dan anak. Sayangnya tidak banyak warga binaan lapas yang bersedia membagikan cerita ataupun masalahnya kepada bantuan profesional. 

Kita juga harus menelaah kembali apakah sudah ada regulasi mengenai fenomena ini. Jika belum, mungkin kita butuh regulasi khusus untuk memperbaiki hal ini. Bisa juga memang penerapan regulasi yang sudah ada tidak berjalan dengan optimal di lapangan. Ini bukan hanya tugas Kemenkumham melainkan berbagai pihak saya harap bisa turut bekerjasama dan mencari solusi masalah ini. Untuk ini perlu kesadaran dari masyarakat serta para pemangku kebijakan bahwa terdapat masalah yang perlu kita cari bersama solusinya. Ini adalah tujuan dari film “Invisible Hope” yang saya dan teman-teman buat demi mengedukasi fenomena ini kepada masyarakat luas. Film ini memuat topik yang sensitif, selain itu kami juga mencoba menjaga privasi anak-anak yang terlibat. Maka, sejauh ini kami masih mengupayakan penayangan film “Invisible Hope” dilakukan secara offline. Jika memang tertarik untuk menonton serta mendiskusikan fenomena ini, informasi lebih lengkap juga dapat diakses melalui akun instagram @lamhorasproduction.

Related Articles

Card image
Society
Bersama Hadapi Masalah Mental

Banyak persepsi bahwa pemahaman orang Indonesia akan kesehatan mental masih rendah, sebenarnya menurut saya bukan rendah melainkan terpisah. Karena pergerakan kelompok yang bergerak di bidang kesehatan mental masih berjalan sendiri-sendiri, sehingga antar kelompok masyarakat tidak mengetahui apa yang dipikirkan oleh kelompok lainnya. Fenomena inilah yang menyebarkan narasi bahwa kesadaran akan kesehatan mental di Indonesia masih rendah.

By Dr. Sandersan Onie
04 December 2021
Card image
Society
Anak Muda dan Krisis Iklim

Berangkat dari pandangan skeptis terhadap pemuda Indonesia, kami sudah menurunkan ekspektasi. Apapun hasil dari survei ini tetap akan dirilis. Ternyata angka yang didapatkan di luar dugaan, 82% responden menyatakan mengetahui isu perubahan iklim. Sebanyak 85% responden menyatakan korupsi sebagai isu yang paling mereka khawatirkan dan diikuti kecemasan akan kerusakan lingkungan dengan 82% dari populasi responden.

By Adityani Putri
13 November 2021
Card image
Society
Atasi Kelelahan Karena Teknologi

Banyak hal dalam keseharian kita yang dilakukan di depan layar. Kita menggunakan beragam perangkat digital untuk menyederhanakan dan mempersingkat aktivitas harian kita. Mulai dari mencari resep makanan hingga melihat perkiraan cuaca. Teknologi pada akhirnya telah mengubah cara kita memanfaatkan waktu.

By Greatmind x Google Indonesia
16 October 2021