Society Art & Culture

Menyuarakan Kepedulian

Fotografi Oleh: Ayunda Kusuma Wardani

Ku bisa tenggelam di lautan
Aku bisa diracun di udara
Aku bisa terbunuh di trotoar jalan

Tapi aku tak pernah mati
Tak akan berhenti

(Di Udara – Efek Rumah Kaca)

Bagi Cholil Mahmud musik adalah guru yang tidak menggurui. Bersama Efek Rumah Kaca, ia memilih musik menjadi alat untuk membagi inspirasi tentang kebenaran yang mereka yakini.

Ada banyak lagu yang tinggal lama dalam ingatan dan memberinya inspirasi tentang berbagai hal. Bagi Cholil, musik dan lirik-lirik lagu tak sekadar suara, jalinan nada dan kumpulan kata-kata. “Saya dan teman-teman di ERK sadar sekali kalau sejak lama kami belajar banyak dari musik. Maka ketika kami mulai bermusik, kami ingin orang bisa belajar juga dari musik kami,” kata Cholil di sebuah pagi yang santai di Kios Ojo Keos, toko buku dan kedai kopi yang ERK gagas beberapa waktu lalu. Aroma kopi memenuhi ruangan berisi rak-rak buku, sebuah meja panjang, sebuah meja bujur sangkar berukuran kecil, bangku-bangku kayu berkaki besi, sebuah sofa empuk berwarna karamel serta selembar permadani dan bantal-bantal besar di sebuah sisi ruang yang disulap jadi sudut baca. Suara ketukan tuts piano yang sedang di-tune up nadanya, sesekali meningkahi percakapan kami.

Sejak awal ERK muncul di kancah musik Indonesia, band indie yang juga digawangi Adrian Yunan Faisal dan Akbar Bagus Sudibyo ini memang segera menarik perhatian. Tak hanya karena musik mereka yang progresif tapi nyaman didengar, lirik-lirik lugas dan bernas yang berkelindan di antara cabik gitar dan tabuhan drum juga memancing rasa penasaran. Perlu beberapa waktu membaca catatan lirik yang tersedia di kemasan album untuk bisa dengan lengkap menangkap kalimat-kalimat yang dilagukan. Kisah cinta yang tak mendayu, berganti-ganti dengan dengan kepedulian terhadap lingkungan atau protes keras atas ketidak adilan.

Fenomena sosial dan kejadian politik kerap ‘dicatat’ oleh Cholil dan teman-temannya di ERK. Ada teriak murka atas pembunuhan Munir dalam lagu “Di Udara”, ada gugatan atas pudarnya kehalusan budi dalam lagu “Menjadi Indonesia”, atau sekadar iseng ngerumpi soal gaya hidup konsumtif masyarakat urban. Menurut Cholil, lewat lagu, mereka merasa bisa bicara terbuka dan menyampaikan pemikiran kita secara lebih efektif tanpa orang lain merasa tersudut. “Persoalan pentingnya adalah bagaimana orang bisa mengerti lirik lagu-lagu kami, belajar dari apa yang mereka dengar seperti bagaimana kami belajar dari lagu-lagu yang kami dengar dan kemudian tergerak membahasnya ,” Cholil berpendapat.       

Posisi lagu yang mereka dudukkan sebagai media bicara dan bertukar pikiran itu, membuat Cholil dan semua personil ERK memiliki semacam perjanjian tak tertulis tentang hal-hal apa saja yang mereka coba perjuangkan lewat lagu. Mereka hanya berani bicara dan memperjuangkan hal-hal yang bisa mereka yakini telah bisa berkomitmen tentangnya. “Kalau kami sendiri masih belum bisa berkomitmen tentang hal itu, misalnya saja soal lingkungan atau ketidakadilan, kami memilih untuk tidak membicarakannya,” katanya. Meski tak pernah menyebut diri mereka sebagai aktivis, mau tak mau, Cholil dan ERK memang memakai sebagian lagu-lagu mereka sebagai pembawa pesan dan alat perubahan. Mereka mencoba menyatakan kepeduliannya, “Lalu setelah itu kami biarkan saja bagaimana pendengar meresponnya, dan bagaimana lagu itu hidup setelah diluncurkan.”  Namun, kendati kerap menyisipkan aktivisme dalam lagu-lagunya, Cholil menolak sebutan aktivis bagi dirinya, juga ERK.

Lebih dari 10 tahun ERK berkarya, Cholil mengaku, apa yang mereka capai saat ini melampaui apa yang diniatkan. “ERK bukan yang melejit dengan cepat. Sepanjang lebih dari 10 tahun itu tak banyak lagu yang kami hasilkan karena pola penciptaan yang hanya ingin membicarakan hal-hal yang kami kenal baik. Perkembangan yang lambat itu sempat membuat kami merasa masa depan band ini akan suram sehingga kami tak pernah membuat ekspektasi yang terlalu tinggi. Kami hanya berusha membuat karya seoptimal yang kami bisa,” kata Cholil.

Soal lirik lagu, mereka merasa tak perlu menjadi latah membicarakan apa yang sedang seru tanpa mereka benar-benar ingin berkomitmen membela dan memperjuangkannya. “Saya dan teman-teman tak mau berkarya hanya untuk menyenang-nyenangkan pendengar. Membuat karya tentang sesuatu yang sedang ramai-ramai dibanjiri kepedulian, tanpa kami sendiri merasa terpanggil peduli tentang hal itu,” Cholil menyatakan. Menurutnya, hal palig penting yang perlu ia dan ERK lakukan adalah terus memberikan pertanyaan-pertanyaan serta diskursus untuk diperbincangkan bersama. Pemberdayaan menurutnya memang harus dilakukan dalam langkah yang tak pernah terputus. “Terus bertanya, terus mengutarakan pernyataan, juga terus bergerak melakukan upaya perubahan,” Cholil menandaskan.  

Related Articles

Card image
Society
Kembali Merangkul Hidup dengan Filsafat Mandala Cakravartin

Mengusahakan kehidupan yang komplit, penuh, utuh, barangkali adalah tujuan semua manusia. Siapa yang tidak mau hidupnya berkelimpahan, sehat, tenang dan bahagia? Namun ternyata dalam hidup ada juga luka, tragedi dan malapetaka. Semakin ditolak, semakin diri ini tercerai berai.

By Hendrick Tanuwidjaja
10 June 2023
Card image
Society
Melatih Keraguan yang Sehat dalam Menerima Informasi

Satu hal yang rasanya menjadi cukup penting dalam menyambut tahun politik di 2024 mendatang adalah akses informasi terkait isu-isu politik yang relevan dan kredibel. Generasi muda, khususnya para pemilih pemula sepertinya cukup kebingungan untuk mencari informasi yang dapat dipercaya dan tepat sasaran.

By Abigail Limuria
15 April 2023
Card image
Society
Optimisme dan Keresahan Generasi Muda Indonesia

Bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda pada 2022 lalu, British Council Indonesia meluncurkan hasil riset NEXT Generation. Studi yang dilakukan di 19 negara termasuk Indonesia ini bertujuan untuk melihat aspirasi serta kegelisahan yang dimiliki anak muda di negara masing-masing.

By Ari Sutanti
25 March 2023