Society Art & Culture

Ragam Keegoisan Manusia

Egois adalah ciri dasar yang menjadikan manusia sebagai manusia. Tentu binatang pun punya ciri ini, tapi dalam kadar tertentu manusia punya daya dan kapasitas untuk mempertebalnya. Jika tidak dikontrol jadi tindakan kerap kali pasti dapat merugikan orang lain. Tapi jika bisa menyadari keberadaan ego tersebut, justru jadi modal bagus untuk menjalani hidup.

Ego yang sesuai takaran justru akan sangat sehat dan membuat seseorang berkembang (entah dalam apapun pengertiannya). Contohnya ketulusan dalam berbuat baik. Menurut saya ketulusan adalah ukuran yang bisa ditarik dari dampak setelah seseorang berbuat baik: apakah ia ingin tindakannya lebih besar dari dirinya atau sebaliknya. Ingin mendapat validasi dari orang lain apalagi diri sendiri adalah lumrah, tetapi kalau setiap tindakan latarnya adalah hal tersebut jadilah berlebihan. 

 Ingin mendapat validasi dari orang lain apalagi diri sendiri adalah lumrah, tetapi kalau setiap tindakan latarnya adalah hal tersebut jadilah berlebihan. 

Ditambah kita hidup di era yang memudahkan kita mendapat validasi dari orang lain dengan berbagai fitur 'pujian' yang tersedia di media sosial, saya rasa akan semakin sulit mengukur 'ketulusan' ini. Saya pribadi masih percaya kalau melakukan kebaikan, sebaiknya tidak harus menunggu orang tahu atau lihat. Berbuat baik terus-menerus sampai kita lupa kita tengah berbuat baik. Dipuji orang ya jadi bonus saja. Hanya orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri yang bisa bersikap semacam ini, dan perjuangan sampai ke sana tentu tidak mudah.

Ego untuk dipahami dengan pemahaman yang sama juga bisa menjadi contoh lainnya. Semua orang pasti memiliki keinginan ini. Begitu juga seorang penyair dan orang-orang yang melemparkan ide atau gagasan. Sebelum menulis sebenarnya seseorang sudah harus tahu bahwa karyanya sudah bukan lagi miliknya. Karya tersebut punya wewenang sendiri untuk bicara dan menampilkan diri. Seperti halnya interpretasi arti puisi. Sebagian orang ada yang sulit memahami arti puisi dan para penyair pun jarang memberikan petunjuk apa maksud mereka dalam puisinya. Ini bukanlah semata-mata ego sang penyair. Tapi lebih kepada seberapa mendalam pemahaman seorang penulis terhadap apa yang dikerjakannya. 

Sebelum menulis sebenarnya seseorang sudah harus tahu bahwa karyanya sudah bukan lagi miliknya. Karya tersebut punya wewenang sendiri untuk bicara dan menampilkan diri.

Dalam puisi, ada kesepakatan tak tertulis bahwa sebuah karya mestinya bisa ditafsir seluas-luasnya. Kata-kata yang singkat tersebut mestinya wajib menyediakan ruang interpretasi seluas-luasnya. Namun apabila ada penulis yang tidak merasa demikian juga sebenarnya sah-sah saja. Lagi-lagi kembali kepada tujuan dan pemahaman dari si penulis. Ego lebih terletak kepada hal-hal yang lebih teknis seperti tema, gaya tulisan, kemasan karya, dan bagaimana respon penulis ketika karyanya dibaca dengan cara yang berbeda. Saya hanya meletakkan ego saya ketika menciptakan sebuah karya. Setelahnya, saya hampir tidak peduli dengan karya tersebut karena sudah jadi milik pembaca.

Semisal dalam buku saya yang berjudul “Pencurian Terbesar Abad Ini” yang dipayungi oleh tema “Selfie(sh)" dari proyek buku yang dikonsep bersama-sama dengan empat teman penulis lain: Lala Bohang, Ibe S. Palogai, Faisal Oddang dan Theoresia Rumthe. Ide 'selfish' sebenarnya muncul dari kawan Lala, kawan Ibe, dan kawan Faisal ketika sedang makan chicken wing di sebuah kedai. Dari percakapan penting tersebut muncul diskusi mengenai pengkotakkan karya yang kerap terjadi di ranah seni. Di satu sisi, setiap karya adalah hal yang personal dan unik, tapi di sisi lain karya tersebut seringkali dimasukkan ke dalam sebuah kotak dan dianggap serupa. Dari situ mereka bertiga merasa perlu bikin karya bersama dan akhirnya mengajak saya dan kawan Theo. 

Dalam salah satu puisi saya yang berjudul sama dengan bukunya, tokoh 'aku' dalam puisi tersebut jelas punya pengalaman yang beragam hingga menarik kesimpulan untuk jangan mencari. Tanpa ingin memberikan petunjuk tentang pesan yang tersurat, saya justru menyarankan pembaca untuk mencari tahu mengapa tokoh 'aku' di sana menyarankan untuk jangan mencari. Saya sendiri tidak mengerti alasan persisnya. Saya pernah membaca tulisan Voltaire yang bilang, "Semakin aku banyak membaca, semakin aku banyak berpikir, semakin aku banyak belajar, semakin aku sadar bahwa aku tak mengetahui apapun." Saya rasa ungkapan ini cukup mewakili. Namun memang ada orang-orang yang dengan sengaja menyesatkan dirinya karena mengalami kenikmatan tersendiri dalam suntuk pencariannya, dan hal itu sah-sah saja.

Di era modern ini saya mengira ego terbesar manusia adalah pada ranah teknologi. Keberadaan di media sosial adalah ciri utama manusia 'modern', maka ego yang mungkin timbul bisa jadi adalah perkara eksistensi dan 'dianggap ada' di media sosial ini. Semua urusan bisa mendadak jadi genting dan satu-satunya jawaban dari banyak pertanyaan orang hidup adalah media sosial. Padahal tanpa media sosial orang juga percaya kita ada dan bisa berkarya. Saya sebetulnya tidak begitu yakin apakah perkiraan saya benar akan hal ini. Tapi yang saya tahu pasti orang-orang 'modern' (termasuk saya) semakin tidak peduli tentang jawaban dan lebih tertarik dengan pertanyaan-pertanyaan.

Semua urusan bisa mendadak jadi genting dan satu-satunya jawaban dari banyak pertanyaan orang hidup adalah media sosial. Padahal tanpa media sosial orang juga percaya kita ada dan bisa berkarya.

Related Articles

Card image
Society
Kebaikan Bagi Semua Manusia

Keberadaan kitab suci di hidup kita menjadi sebuah pedoman untuk menghadapi segala lika-liku kehidupan. Namun selama ini, kitab suci agama Islam, Al-Qur’an, hanya tersedia di Bahasa Arab. Padahal kita bisa lebih menghayati makna jika dibuat dalam bahasa yang kita mengerti. Maka, kita bisa lebih mudah menerapkan maknanya dalam kehidupan. 

By Archie Wirija
31 July 2021
Card image
Society
Memberikan Perspektif Baru

Sayangnya, saya melihat di era modern dengan begitu banyaknya informasi dan konten yang bisa dinikmati, banyak pihak yang justru memperbanyak stereotip dan stigma. Menurut saya, nasib sebuah bangsa (salah satunya) ditentukan oleh apa yang generasi penerusnya saksikan.

By Lukman Benjamin Mulia
24 July 2021
Card image
Society
Suara-Suara Nan Bermanfaat

Saat mendengarkan audio, besar kemungkinan kita sebenarnya sedang meningkatkan fokus sebab hanya mendengar satu sumber suara dan terjauh dari distraksi suara-suara di sekitar. Apalagi saat mendengar podcast (siniar), kita sebenarnya sedang berimajinasi yang dapat mendorong untuk melatih fokus. Di saat yang sama, kita akan berada dalam fase relaksasi di mana informasi dari konten audio tersebut dapat terserap dengan baik di otak. 

By Roy Simangunsong
24 July 2021